MATRANEWS.id — Tampil di Olimpiade adalah legacy,” ujar Krisna Bayu, sosok bertubuh kekar dengan tinggi 175 cm dan berat 108 kg, seraya menunjuk tato cincin Olimpiade di tangan kirinya.
Lima lingkaran yang saling bertaut itu bukan sekadar logo global, melainkan simbol kehidupan yang ia jalani: keras, penuh luka, dan sarat pembuktian.
Krisna Bayu adalah satu-satunya judoka Indonesia yang pernah bertanding dalam tiga edisi Olimpiade—Atlanta 1996, Sydney 2000, dan Athena 2004.
Atlet Judo yang punya cerita dari keluarga atlet. Lahir di tengah keluarga atlet pada 24 Desember 1974, Krisna Bayu seakan ditakdirkan untuk hidup dalam napas olahraga.
Sang ayah, Amin Pambudi, adalah pelatih judo kawakan yang hingga usia 75 tahun masih melatih. Dunia judo adalah rumahnya. Di tengah keluarga yang mayoritas menapaki jalan olahraga, ia memilih judo sejak kecil.
Uniknya, perjalanan Krisna tak semulus kata “takdir.”
Di usia sembilan tahun, ia didiagnosis mengidap epilepsi, penyakit saraf kronis yang kerap menimbulkan stigma sosial. Epilepsi atau yang juga dikenal sebagai penyakit ayan atau sawan.
Merupakan gangguan pada saraf di otak yang terjadi secara menahun. Gejala yang paling umum muncul dari epilepsi berupa kejang dengan tubuh, tangan, dan kaki yang tampak kaku, bisa disertai kondisi kelojotan.
Alih-alih langsung ke dokter, keluarga Krisna awalnya membawanya ke “orang pintar”—sebuah cermin dari masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini.
Persepsi yang salah di masyarakat sebagai kondisi kesurupan ataupun kutukan.
Akibatnya, stigma dan diskriminasi masih banyak dirasakan oleh orang dengan epilepsi. Penanganan yang salah juga sering ditemukan. Orang dengan epilepsi banyak yang awalnya justru dibawa ke pengobatan alternatif atau dukun.
Judo dan Perang Melawan Diri Sendiri
Menjadi atlet nasional dengan kondisi epilepsi bukanlah hal mudah. Di Pelatnas, jadwal latihan super ketat selama sembilan jam sehari. Tapi, semangat juang legenda judo Indonesia ini tak pernah padam.
Ia melatih diri lebih keras dari siapa pun. Jika pelatih meminta 100 kali push-up, Krisna akan melakukannya 200—bahkan 300. Dalam pikirannya, menjadi juara berarti harus melakukan lebih dari orang lain. Epilepsi bukan hambatan, melainkan tantangan.
Krisna punya tekad besar untuk menjadi juara judo dan yakin mukzizat itu masih ada. Ia sudah berlatih judo sejak usia sekolah dasar. Kemampuannya akhirnya diakui oleh banyak pihak hingga akhirnya dia bisa masuk sebagai atlet dalam program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).
Pada saat itu, kekambuhan semakin sering terjadi seiring jadwal latihan yang semakin padat dan keras. Tidak sedikit orang yang tetap mendukung Krisna, tetapi ada juga yang mencemooh dan menjatuhkan Krisna dengan kekurangannya.
“Kalau saya fokus pada cemoohan, saya tidak akan pernah jadi juara,” ujar Krisna. Dalam diam, ia memilih untuk tidak menyerah.
Dalam hidup Krisna, ia punya prinsip. Ia tidak mau dikalahkan oleh siapa pun dan apa pun, termasuk epilepsi yang ada di dalam dirinya. Dengan kondisi yang dialaminya, Krisna justru berpikir untuk berusaha lebih kuat lagi agar bisa menjadi juara.
Disiplin, punya tekad yang kuat, serta berusaha sampai titik akhir menjadi pedoman hidupnya. Jika jadwal latihan dimulai pukul 09.00, itu artinya ia harus mulai satu jam sebelumnya.
“Saya tidak mau dikalahkan oleh siapa pun dan apa pun, termasuk epilepsi,” tegas Krisna yang sejak 1983 hingga pensiun pada PON 2012 punya koleksi emas di SEA Games.
Di PON 1993, nama Krisna mulai diperhitungkan saat ia “membantai” lawan-lawan kelas berat meski berat badannya sendiri baru 79 kg. “Gue ngebanting monster waktu itu,” kenangnya sambil tertawa kecil. Sejak itu, jalannya menuju Olimpiade mulai terbuka.
Krisna, yang saat ini merupakan Komite Eksekutif bidang Komisi Atlet Komite Olimpiade Indonesia ini, sadar betul tato cincin Olimpiade di tangan kirinya bukan hanya hiasan. Itu adalah saksi dari luka, jatuh, bangkit, dan harapan.
Lima cincin itu menggambarkan bukan hanya persatuan benua, tetapi juga keberanian individu untuk berdiri melawan keterbatasannya sendiri.
Kalau Anda melihat cincin di tangannya, ingatlah: itu bukan sekadar lambang Olimpiade. Itu adalah kisah seorang juara yang melampaui batas dirinya sendiri. Warisan terbesar seorang atlet bukanlah medali emas, melainkan keberanian untuk terus berjuang ketika tak ada lagi yang percaya
Kini, Krisna Bayu tak lagi berlaga di matras. Tapi semangat bertarungnya tak luntur. Ia menjabat sebagai Ketua Umum PB Persambi (Persatuan Sambo Indonesia) dan duduk di Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia. Di sana, ia memperjuangkan suara para atlet—termasuk mereka yang punya “perjuangan sunyi,” seperti dirinya dulu.







