MATRANEWS.id — Ketika muda, persahabatan sering terjadi dengan sendirinya. Ketika dewasa, persahabatan harus disengaja.
Ada paradoks kecil ketika usia bertambah. Kita mengenal semakin banyak orang, tetapi orang yang benar-benar bisa disebut sahabat justru semakin sedikit.
Lihat saja telepon genggam kita. Daftar kontak bisa mencapai ribuan nama. Grup WhatsApp bertambah setiap kali ada pekerjaan, organisasi, reuni, komunitas, atau kepanitiaan baru. Di media sosial lebih ramai lagi. Kita terhubung dengan orang yang mungkin sudah 20 tahun tidak pernah ditemui.
Tetapi coba pertanyaan itu dibuat lebih sederhana: dari ribuan nama tersebut, berapa orang yang ingin kita telepon hanya untuk mengatakan, “Ngopi, yuk”?
Tidak membicarakan proyek. Tidak menawarkan kerja sama. Tidak meminta bantuan. Tidak pula membawa proposal.
Hanya ngopi.
Ternyata jumlahnya tidak banyak.
Dan itu bukan sesuatu yang aneh. Sejumlah penelitian mengenai hubungan sosial menunjukkan bahwa jaringan pertemanan memang cenderung berubah sepanjang perjalanan usia.
Ketika muda, lingkaran sosial relatif luas. Memasuki masa dewasa, lingkaran itu perlahan mengecil. Yang paling banyak hilang biasanya justru hubungan di bagian luar: kenalan, teman yang tidak terlalu dekat, atau orang yang hadir karena suatu lingkungan tertentu.
Bukan berarti manusia semakin tua semakin tidak pandai bersahabat. Bisa jadi justru sebaliknya: semakin matang, manusia semakin tahu kepada siapa waktunya ingin diberikan.
Kemewahan Bernama Waktu
Ketika masih sekolah, kita memiliki satu kemewahan yang waktu itu tidak pernah dianggap sebagai kemewahan: waktu bersama.
Kita bertemu orang yang sama hampir setiap hari. Duduk di kelas, makan di kantin, bermain, belajar, berolahraga, bahkan pulang bersama. Tidak pernah ada rapat untuk membentuk persahabatan. Tidak perlu sekretaris untuk mencocokkan agenda. Tidak perlu bertanya, “Bapak kosong tanggal berapa?”
Persahabatan tumbuh begitu saja.
Itulah sebabnya seseorang yang sudah berumur 50 atau 60 tahun masih bisa sangat dekat dengan teman SMP atau SMA. Mereka mempunyai sesuatu yang sekarang sangat mahal: ribuan jam kebersamaan.
Setelah dewasa, semuanya berubah.
Orang bekerja. Menikah. Mempunyai anak. Membangun usaha. Mengejar karier. Pindah kota. Merawat orang tua. Menghadiri rapat. Menyelesaikan pekerjaan. Menerima undangan.
Hari tetap 24 jam. Yang berubah adalah semakin banyak kepentingan yang berebut mengisinya.
Maka lahirlah sebuah kalimat yang mungkin merupakan kalimat paling populer dalam persahabatan orang dewasa: “Kapan-kapan kita ngopi.”
Hangat sekali kalimat itu.
Sayangnya, kapan-kapan tidak pernah tercantum sebagai tanggal di kalender.
Dua orang bisa benar-benar ingin bertemu. Keduanya merasa cocok. Keduanya mengatakan harus segera bertemu lagi. Tetapi kalau tidak ada yang menentukan hari, jam, dan tempat, enam bulan kemudian mereka masih mengatakan hal yang sama.
“Kapan-kapan kita ngopi.”
Ada Jam Terbangnya
Jeffrey A. Hall dari University of Kansas pernah meneliti hubungan antara waktu yang dihabiskan bersama dan berkembangnya persahabatan.
Hasilnya menarik: untuk bergerak dari sekadar kenalan menjadi teman diperlukan puluhan jam kebersamaan. Menjadi teman dekat membutuhkan waktu jauh lebih banyak lagi.
Di situlah persoalan persahabatan orang dewasa.
Anak sekolah bisa mendapatkan 40 jam kebersamaan hanya dalam satu atau dua minggu. Seorang eksekutif, pengusaha, profesional, atau orang tua yang sibuk mungkin membutuhkan berbulan-bulan untuk menyediakan jumlah waktu yang sama kepada seseorang yang baru dikenalnya.
Jadi bukan kemampuan bersahabat yang hilang.
Kesempatannya yang berkurang. Persahabatan rupanya mempunyai biaya yang tidak pernah terlihat di rekening bank: waktu. Dan semakin sibuk seseorang, semakin mahal biaya itu.
Makan siang dua jam berarti ada pekerjaan yang ditunda. Bertemu Sabtu sore berarti ada waktu keluarga yang harus dibagi. Keluar malam berarti harus menghadapi kemacetan ketika tubuh sebenarnya sudah ingin pulang dan beristirahat.
Maka manusia mulai memilih.
Seleksi Alam Pertemanan
Psikolog Laura Carstensen dan koleganya menjelaskan perubahan prioritas tersebut melalui Socioemotional Selectivity Theory. Ketika seseorang merasa masih mempunyai rentang waktu kehidupan yang panjang, ia cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman, lingkungan, dan hubungan baru.
Ketika perspektif terhadap waktu berubah, hubungan yang mempunyai makna emosional mendapatkan tempat yang lebih besar.
Mungkin itu sebabnya undangan yang terasa menarik ketika berumur 25 tahun belum tentu terasa menarik ketika berumur 55 tahun.
Dulu pertanyaannya: siapa saja yang datang? Sekarang pertanyaannya: apakah tiga jam saya layak dihabiskan di sana?
Kita bukan hanya menghitung uang. Kita mulai menghitung energi.
Ada pula persahabatan yang akhirnya menghilang tanpa pernah terjadi pertengkaran. Tidak ada yang marah. Tidak ada nomor yang diblokir. Tidak ada pesan panjang yang mengakhiri hubungan.
Hanya frekuensinya yang berkurang. Sebulan tidak bertemu. Lalu enam bulan. Kemudian dua tahun.
Suatu hari namanya muncul di layar telepon dan kita baru sadar: sudah lama sekali.
Persahabatan rupanya lebih sering mati karena keheningan daripada pertengkaran.
Seribu Kontak
Teknologi membuat keadaan itu semakin unik.
Kita mungkin merupakan generasi dengan jaringan sosial terbesar dalam sejarah manusia. Sebuah telepon kecil dapat menyimpan ribuan orang. Media sosial bahkan memungkinkan kita mengetahui teman lama sedang makan apa, berlibur ke mana, membeli mobil apa, sampai merayakan ulang tahun anaknya.
Kita mengetahui kehidupannya. Tetapi belum tentu menjadi bagian dari kehidupannya. Di situlah perbedaan antara koneksi dan kedekatan.
Koneksi membutuhkan nomor telepon. Persahabatan membutuhkan perhatian. Media sosial cukup dengan satu sentuhan layar. Persahabatan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal: kehadiran.
Seseorang bisa mempunyai 10.000 pengikut tetapi bingung siapa yang harus ditelepon ketika mendapat masalah pukul dua dini hari.
Sebaliknya, seseorang mungkin hanya mempunyai tiga atau empat sahabat. Tetapi ia tahu persis siapa yang akan mengangkat telepon dan berkata, “Ceritakan saja dulu.”
Yang sedikit itu ternyata bisa jauh lebih kaya.
Tidak Perlu Membuktikan Apa-apa
Ada satu kemewahan lain dalam persahabatan yang matang: kita tidak perlu terlalu banyak melakukan pertunjukan.
Di depan sahabat lama, jabatan sering tidak terlalu penting. Gelar tidak banyak gunanya. Jumlah karyawan tidak perlu diceritakan. Keberhasilan tidak harus dipamerkan. Bahkan bahan pembicaraan tidak perlu selalu penting.
Bisa dua jam hanya membicarakan kopi. Makanan. Cerita lama. Anak-anak. Perut yang mulai sulit mengecil. Rambut yang mulai memutih. Atau kejadian lucu yang besok pagi mungkin sudah lupa.
Anehnya, justru pertemuan semacam itulah yang sering terasa penting.
Ada orang yang setahun tidak bertemu, tetapi ketika bertemu percakapan langsung tersambung seperti baru berpisah kemarin.
Tidak perlu pemanasan. Tidak ada kecanggungan.
Persahabatan matang memang tidak memerlukan absensi setiap hari. Yang diperlukan adalah keyakinan bahwa kita masih mempunyai tempat dalam kehidupan masing-masing.
Tetapi Jangan Tutup Pintu
Ada satu jebakan.
Karena sudah nyaman dengan sahabat lama, seseorang bisa berhenti mencari teman baru. Padahal lingkaran lama secara alamiah akan berubah. Ada yang pindah kota. Ada yang pindah negara. Ada yang semakin sibuk dengan keluarga. Ada yang kesehatannya tidak lagi memungkinkan sering bertemu. Dan, pada waktunya, ada yang pergi untuk selamanya.
Karena itu kemampuan mendapatkan sahabat baru jangan ikut pensiun.
Sahabat baru tidak harus seusia. Tidak harus seprofesi. Tidak harus mempunyai tingkat ekonomi yang sama. Bahkan tidak harus selalu sepakat.
Kalau syarat menjadi sahabat adalah harus mempunyai pendapat yang sama dalam segala hal, sebenarnya kita tidak sedang mencari sahabat.
Kita sedang mencari cermin.
Persahabatan yang matang justru memungkinkan dua orang berbeda duduk di meja yang sama tanpa merasa harus saling mengalahkan. Yang muda bisa belajar dari yang tua. Yang tua pun seharusnya masih mempunyai rasa ingin tahu terhadap dunia orang muda.
Tidak harus selalu menjadi orang paling pintar di meja.
Tidak harus menjadi orang paling penting di ruangan.
Kadang cukup menjadi orang yang mau mendengarkan.
Harus Disengaja
Ketika muda, persahabatan sering terjadi. Ketika dewasa, persahabatan harus disengaja.
Harus ada yang mengirim pesan lebih dahulu. Harus ada yang menentukan tempat. Harus ada yang membuka kalender. Harus ada yang mengalahkan kemalasan. Harus ada yang menerobos kemacetan. Dan yang paling penting: harus ada yang benar-benar datang setelah mengatakan akan datang.
Mungkin memang begitulah harga persahabatan setelah dewasa.
Kita semakin tahu bahwa sesuatu yang paling berharga untuk diberikan kepada orang lain bukan selalu uang. Melainkan waktu.
Sebab uang yang diberikan masih bisa dicari kembali. Dua jam yang diberikan kepada seseorang tidak pernah bisa dikembalikan.
Karena itu, tidak perlu terlalu cemas ketika lingkaran pertemanan mengecil. Yang lebih penting adalah melihat siapa yang masih berada di dalamnya.
Apakah masih ada orang yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri. Yang tidak terlalu peduli dengan jabatan kita. Tidak menghitung berapa banyak keberhasilan kita. Tidak datang hanya ketika membutuhkan sesuatu.
Kelak nomor di telepon mungkin tetap ribuan. Undangan masih berdatangan. Orang masih mengenal nama kita. Tetapi ukuran kekayaan sosial akhirnya berubah. Bukan lagi berapa banyak orang yang mengenal kita.
Melainkan berapa orang yang masih bisa kita ajak duduk tanpa agenda, memesan kopi, tertawa membicarakan hal-hal sederhana, lalu pulang dengan perasaan bahwa dua jam tadi sama sekali tidak terbuang.
Lingkarannya memang semakin kecil. Mudah-mudahan orang-orang di dalamnya semakin berarti.








