Ganang P. Soedirman Punya Kebiasaan Sederhana: Menyapa.

MATRANEWS.id — Ganang P. Soedirman punya kebiasaan sederhana: menyapa.

Ia memang cucu Pahlawan Nasional Jenderal Besar Soedirman. Tetapi sapaan Ganang tidak pernah terasa seperti datang dari seseorang yang membawa nama besar. Bahasanya ringan. Sikapnya rendah hati. Hangat.

Hampir setiap Minggu, pesan darinya muncul di WhatsApp.

“Selamat hari Minggu.”

Kadang disertai doa. Kadang kata-kata bijak. Kadang hanya sebuah pengingat bahwa persahabatan perlu terus dipelihara.

Ganang tampaknya memahami satu hal: sekarang ini orang bisa sangat dekat, sekaligus sangat jauh.

Nomor telepon tersimpan. Nama masih ada di daftar kontak. Foto profil sering berganti. Tetapi pertemuan tidak kunjung terjadi. Kesibukan membuat kopi darat semakin jarang. Sahabat lama hanya sesekali terlihat di layar telepon.

Karena itu, Ganang memilih tetap menyapa.  Ia menyebutnya WhatsApp silaturahmi.

Tidak perlu menunggu reuni. Tidak harus mengatur pertemuan besar. Tidak pula mesti menyediakan meja panjang dengan hidangan lengkap. Kadang sebuah salam sudah cukup untuk memberi tahu seseorang: Anda masih diingat.

“Semoga silaturahmi ini akan selalu abadi,” begitu salah satu pesannya.

Tentu saja silaturahmi tidak cukup hanya dengan meneruskan pesan. Ia memerlukan ketulusan. Juga perhatian. Pesan yang pendek bisa menjadi sangat berarti ketika dikirim pada waktu yang tepat—terutama kepada orang yang sudah lama tidak ditemui.

Ganang percaya, silaturahmi dapat membuka pintu rezeki dan memperpanjang umur. Setidaknya, orang yang rajin menjaga hubungan tidak mudah merasa sendirian. Ia memiliki banyak pintu untuk mengetuk dan banyak nama untuk didoakan.

Rezeki pun tidak selalu berbentuk uang.

Kabar baik adalah rezeki. Pertemanan yang tetap hangat adalah rezeki. Dimaafkan adalah rezeki. Masih diberi kesempatan meminta maaf juga rezeki.

Bahkan sebuah pesan sederhana pada Minggu pagi bisa menjadi rezeki bagi orang yang sedang merasa sepi.

“Semoga pintu kedamaian senantiasa menyelimuti hidup kita semua,” tulis Ganang.

Kata-kata mutiara yang dibagikannya di grup WhatsApp mungkin terlihat biasa. Tetapi bukankah kedamaian memang sering datang melalui hal-hal biasa? Melalui salam. Melalui doa. Melalui pertanyaan singkat: apa kabar?

Ganang juga tidak melupakan sisi lain teknologi. WhatsApp dapat mendekatkan orang, tetapi juga bisa menjadi jalan masuk bagi penipuan. Karena itu, di antara pesan persahabatan, ia rajin menyisipkan peringatan.

“Lindungi diri dari penipu.”

Jika menerima pesan berisi tautan yang mencurigakan, jangan langsung diklik. Jangan mudah percaya kepada nomor yang tidak dikenal. Jangan tergesa-gesa memberikan data pribadi, kode OTP, ataupun informasi perbankan.

Pesan itu terasa sederhana. Tetapi penting. Banyak orang tertipu bukan karena kurang pintar, melainkan karena penipu pandai menciptakan kepanikan. Korban dibuat terburu-buru. Tidak sempat berpikir. Tidak sempat bertanya.

Teknologi memang seperti jalan raya. Ia dapat mempercepat perjalanan, tetapi tetap membutuhkan kehati-hatian. Kita tidak perlu takut menggunakannya. Kita hanya perlu lebih bijak.

Ganang memilih menggunakan teknologi untuk menyambung hubungan, menyampaikan doa, sekaligus mengingatkan orang lain agar waspada.

Di tangannya, WhatsApp bukan sekadar aplikasi percakapan. Ia menjadi ruang untuk merawat persahabatan.

Tidak semua silaturahmi harus diawali dengan berjabat tangan. Ada kalanya ia dimulai dari layar kecil, lalu tumbuh menjadi perhatian yang besar.

“Salam erat,” tulis Ganang di akhir pesannya.

Salam itu mungkin hanya terdiri atas dua kata. Tetapi di tengah dunia yang semakin sibuk, dua kata tersebut cukup untuk mengingatkan kita: jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat manusia lupa menyapa manusia.

  • Klik juga: https://www.hariankami.com/profile-kami/23617563596/ganang-p-soedirman-punya-kebiasaan-sederhana-menyapa