Buku The Making of Java Jazz Festival and It’s History Karya Peter F Gontha

Saat PFG memberi buku The Making of Jazz Festival and It's History Karya Peter F Gontha ke SS Budi Raharjo, Pemred Majalah MATRA/CEO majalah EKSEKUTIF

MATRANEWS.id– Tahun 2025 menjadi penanda penting dalam lanskap musik Indonesia.

Jakarta International BNI Java Jazz Festival genap berusia dua dekade—sebuah usia yang tak hanya menyiratkan panjangnya perjalanan, tetapi juga kedalaman makna dari sebuah mimpi yang terus dijaga.

Dari panggung pertama yang digelar pada 2005 hingga festival yang akan kembali menyapa penikmat jazz pada 31 Mei hingga 1 Juni 2025, Java Jazz bukan hanya sebuah acara, melainkan tonggak budaya.

Konferensi pers Java Jazz tahun 2025 ini juga hadir dalam nuansa yang berbeda. Bukan sekadar mengumumkan line-up atau kejutan panggung, suasana terasa lebih personal, lebih reflektif.

Suatu jeda dari riuhnya industri hiburan untuk kembali menengok ke belakang—pada akar dari segala yang telah dibangun.

Ketika Presiden Direktur Java Festival Production, Dewi Gontha, membuka acara, ruangan seketika hening.

Dengan suara tertahan, ia menyerahkan momen pembuka kepada ayahnya, Peter F. Gontha—penggagas utama festival ini.

“Sebelum lanjut, saya izin karena ini edisi 20 tahun, saya ingin memanggil ayah saya kalau boleh untuk naik ke atas panggung untuk mengucapkan satu atau dua patah kata,” ucap Dewi.

Dan ketika Peter naik ke atas panggung, ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha, diplomat, atau tokoh media.

PFG menyebut dirinya seorang pemimpi. Seorang yang pernah bermimpi bahwa Indonesia juga bisa punya festival musik jazz kelas dunia—dan mewujudkannya.

“Hari ini adalah hari yang sangat emosional dan membahagiakan bagi saya secara pribadi, juga mungkin seluruh pencinta jazz di Indonesia,” ujar Peter, mengingat kembali tahun 2005—tahun di mana ide Java Jazz sempat dianggap terlalu besar untuk diwujudkan.

Namun keyakinan Peter tidak goyah. Ia percaya bahwa di Indonesia ada semangat, ada bakat, dan ada jiwa kolektif yang mampu menyulap mimpi menjadi kenyataan.

Dan seperti jazz itu sendiri—yang lahir dari kolaborasi, spontanitas, dan keberanian bereksplorasi—Java Jazz pun dibangun bukan sendirian.

Dalam semangat merayakan dua dekade perjalanan, Peter F. Gontha merilis sebuah buku berjudul The Making of Java Jazz Festival.

Buku setebal 506 halaman, berbahasa Inggris, dengan desain eksklusif ini bukan sekadar dokumentasi sejarah, melainkan catatan cinta. Cinta kepada musik, kepada bangsa, dan kepada mereka yang sejak awal percaya pada mimpi ini.

“Dalam 20 tahun, ada peluh, tekanan, ada krisis, ada air mata. Tapi, yang lebih kuat dari semua itu adalah cinta,” ujar Peter. “Cinta pada musik, cinta pada Indonesia, dan cinta pada mimpi-mimpi kita bersama.”

Dari panggung konferensi pers, Peter menyerahkan buku tersebut kepada SS Budi Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah MATRA yang juga CEO majalah EKSEKUTIF, sebagai simbol terima kasih kepada media—yang menurutnya bukan hanya peliput, tapi nadi dari semangat Java Jazz.

Buku ini pun akan dibagikan gratis kepada media, relasi, dan sponsor sebagai penghargaan atas kepercayaan, kerja sama, dan kesetiaan selama dua dekade.

Sebab bagi Peter, sponsor bukan hanya penyokong dana, tetapi mitra budaya. Bukti bahwa seni dan dunia usaha dapat berjalan beriringan membangun bangsa.

Festival ini, lanjut Peter, adalah hasil kerja kolektif. Dari mitra yang bekerja dalam diam, media yang menyebarkan semangat, hingga relawan dan tim produksi yang menjadi tulang punggung di balik layar. Java Jazz adalah panggung kenangan, pertemuan, dan perayaan jiwa.

Dalam buku itu, pembaca diajak menyusuri fragmen-fragmen kenangan: dari kisah Jamz Club di Blok M, perubahan tematik tiap tahun, hingga sosok-sosok yang telah mewarnai panggung Java Jazz.

Juga ada kisah pribadi Peter—tentang bagaimana ia jatuh cinta pada jazz sejak remaja, tentang pertemuan dengan komunitas musisi di Jakarta, tentang cinta pada sang istri Purnama, dan warisan kepada anaknya, Dewi, yang kini memimpin festival ini.

“Java Jazz adalah bentuk rasa syukur, juga penghormatan. Salah satunya kepada ayah saya, yang pertama kali memperkenalkan musik kepada saya,” ujar Peter dengan suara bergetar.

Lebih dari sekadar festival, Java Jazz adalah gerakan budaya. Ia mempertemukan musisi lokal dan internasional, menyatukan nostalgia dan eksplorasi baru, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dalam setiap harmoni, ada kenangan. Dalam setiap melodi, ada harapan.

Dan tahun 2025 ini, Java Jazz tidak hanya menandai usia ke-20. Ia menegaskan bahwa mimpi, jika dijaga dengan cinta, akan terus hidup. Dan dari Jakarta, suara jazz akan terus bergema—bukan hanya sebagai musik, tapi sebagai cara merasa, bernapas, dan mencintai dunia.