MATRANEWS.id — Denny Sumargo Diperingatkan Dokter Risiko Stroke dan Serangan Jantung
Di balik tubuh atletis dan aktivitasnya yang padat, Denny Sumargo menghadapi kenyataan yang tak pernah ia duga.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kadar kolesterol tinggi serta penurunan fungsi hati dan ginjal. Ia pun mulai mengurangi pekerjaan, membatalkan perjalanan ke Kalimantan, dan menata kembali kesehariannya.
Denny Sumargo terbiasa mengandalkan kekuatan fisik.
Sebagai mantan pebasket profesional, aktor, sekaligus presenter, ia dikenal memiliki tubuh bugar dan gaya hidup yang identik dengan aktivitas olahraga.
Siapa sangka, penampilan yang tampak sehat ternyata tidak selalu mencerminkan kondisi organ di dalam tubuh.
Peringatan itu datang setelah Denny menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau medical check-up.
Beberapa hari terakhir, ia merasa tubuhnya kurang fit.
Pemeriksaan yang semula menjadi langkah untuk mengetahui penyebab keluhan tersebut justru mengungkap sejumlah masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar kolesterol dan lemak yang tinggi. Fungsi hati dan ginjalnya juga dilaporkan mengalami penurunan.
Denny mengaku terkejut mengetahui kondisi tersebut. Selama ini, aktivitas fisik dan penampilan yang bugar mungkin membuatnya merasa tubuhnya baik-baik saja. Kenyataan di ruang pemeriksaan memberinya gambaran berbeda.
“Kemarin saya habis medical check-up karena selama beberapa hari kondisi saya nggak fit. Cuma banyak yang nggak tahu, karena saya memang menutupi itu semua,” kata Denny, Minggu (25 Oktober 2026).
Suami Olivia Allan itu mengatakan, dokter mengingatkannya mengenai risiko serangan jantung dan gangguan pembuluh darah di otak apabila kondisi kesehatannya tidak ditangani dengan baik.
“Kata dokternya, dengan kandungan darah dan kolesterolku dan lain-lainnya cukup tinggi, rapornya merah ini. Kemungkinan kamu tuh bisa kena serangan jantung atau kena sumbatan di saraf kepala,” ujarnya.
Keluhan sakit kepala yang berkepanjangan juga membuat Denny menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) pada area kepala. Meski demikian, menurut pengakuannya, pemeriksaan yang dijalaninya belum menemukan sumbatan pembuluh darah.
Bagi Denny, temuan tersebut menjadi peringatan agar ia tidak terus-menerus mengabaikan sinyal dari tubuhnya sendiri.
“Kelihatannya sehat, tapi kan kita nggak pernah tahu di dalam badan kita ini ada apa. Makanya itu sebenarnya hanya warning sih. Pas dicek untungnya belum ada sumbatan,” katanya.
Ia bahkan memaknai hasil pemeriksaan itu sebagai pengingat dari Tuhan untuk memperbaiki pola hidup sebelum masalah kesehatan berkembang menjadi lebih serius.
Membatasi Diri, Membatalkan Perjalanan
Peringatan dokter tidak berhenti sebagai catatan medis. Denny mulai mengambil keputusan yang berdampak langsung terhadap rutinitas dan pekerjaan yang selama ini dijalaninya.
Ia mengurangi aktivitas dan menahan diri untuk tidak memaksakan kondisi fisik. Salah satu keputusan yang diambilnya adalah membatalkan perjalanan ke Kalimantan.
Rencana tersebut semula menjadi bagian dari kegiatan lapangan yang telah dipersiapkan. Denny berniat turun langsung untuk membawa logistik dan menjalankan agenda yang sudah direncanakan. Namun, setelah mengetahui kondisi kesehatannya, ia memilih menunda keberangkatan.
Keputusan itu bukan semata-mata soal kenyamanan pribadi. Ia tidak ingin kondisi tubuhnya justru menjadi kendala selama berada di lapangan.
“Aktivitas saya kurangi kemarin. Follower-ku pasti ngerasa, lah, yang di Instagram Story-ku agak kurang segala macam. Bahkan kemarin aku mau berangkat ke Kalimantan itu aku cancel dulu,” ujarnya.
Denny menjelaskan, perjalanan tersebut sebelumnya juga sempat terkendala karena persoalan penerbangan. Kali ini, ia memilih menahan keberangkatan dengan pertimbangan berbeda: kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih.
“Cuma karena kondisi kesehatan itu aku tahan dululah, takutnya ke sana jadi nyusahin,” katanya.
Bagi seseorang yang terbiasa aktif dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, mengurangi pekerjaan tentu bukan keputusan ringan. Namun, Denny tampaknya memahami bahwa memaksakan diri ketika tubuh membutuhkan perhatian justru dapat menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Tubuh Bugar Bukan Jaminan Sehat
Denny kini menjalani pengobatan sesuai arahan dokter. Ia mengaku mendapat obat yang harus diminum secara rutin pada pagi dan malam selama satu bulan, sebelum menjalani pemeriksaan ulang untuk mengevaluasi kondisinya.
Selain mengikuti pengobatan, ia juga perlu memperbaiki waktu istirahat dan membatasi konsumsi makanan berminyak. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya mengendalikan faktor risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan.
“Aku dikasih obat rutin. Aku sekarang minum obat pagi dan malam selama satu bulan. Nanti dicek lagi sama dokternya,” tuturnya.
Pemeriksaan ulang akan menjadi bagian penting untuk mengetahui bagaimana tubuhnya merespons pengobatan dan perubahan pola hidup. Penanganan selanjutnya tentu bergantung pada hasil evaluasi dokter.
Pengalaman ini memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian: kebugaran fisik tidak selalu berarti seluruh organ bekerja dalam kondisi optimal. Seseorang bisa tetap terlihat aktif, produktif, dan sehat, sementara sejumlah indikator kesehatannya justru membutuhkan penanganan.
Kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sementara itu, penurunan fungsi hati dan ginjal perlu dinilai berdasarkan pemeriksaan yang sesuai untuk mengetahui penyebab serta tingkat keparahannya. Karena itu, hasil pemeriksaan tidak semestinya diabaikan hanya karena seseorang masih sanggup beraktivitas seperti biasa.
Peringatan yang diterima Denny juga tidak berarti serangan jantung atau stroke pasti akan terjadi. Risiko tersebut perlu dinilai berdasarkan keseluruhan kondisi medis dan ditangani melalui langkah yang tepat.
Namun, bagi Denny, pengalaman ini sudah cukup menjadi alasan untuk mengubah prioritas. Ia memilih mengurangi kesibukan, menunda perjalanan, dan memberi ruang bagi tubuhnya untuk menjalani pemulihan.
Di tengah tuntutan pekerjaan dan aktivitas yang tidak sedikit, keputusan itu menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar urusan penampilan atau kemampuan berolahraga. Ada kondisi tubuh yang tidak terlihat, tetapi tetap membutuhkan perhatian.
Bagi Denny Sumargo, peringatan dokter kali ini menjadi momentum untuk berhenti sejenak. Sebab, pekerjaan bisa dijadwalkan ulang dan perjalanan dapat ditunda, tetapi kesehatan membutuhkan perhatian sebelum terlambat.

© 2026 MATRANEWS.ID. Cantumkan tautan artikel asli saat mengutip.





