Dua Layar atau Dua Hati? Pilih yang Lebih Penting Malam Ini

phubbing pasangan, kebiasaan rebahan dengan HP, technoference hubungan, kualitas tidur pasangan, dinamika keintiman digital

MATRANEWS.ID – Jam sudah lewat pukul sepuluh malam. Lampu kamar meredup, suara AC berdesir halus.

Di banyak rumah tangga muda, pemandangan ini nyaris sama: dua orang rebahan berdampingan, layar ponsel menyala seperti kunang-kunang digital di gelap kamar.

Jempol menari, video lucu atau gosip selebriti muncul di feed, tawa kecil sesekali terdengar.

Seorang warganet di Threads melempar pertanyaan yang sederhana tapi bikin orang reflektif:

“Yang udah nikah, beneran tiap malam rebahan sambil main HP bareng nggak sih?”

Jawaban yang muncul di kolom komentar ada yang santai, ada yang getir.

Ada yang bilang “iya, biar rileks sebelum tidur”, ada pula yang mengaku “ya, tapi bikin makin jauh.”

Dari sini terlihat satu hal: layar ponsel sudah jadi “orang ketiga” yang diam-diam hadir di kamar tidur banyak pasangan.

Layar yang Menggeser Perhatian

Fenomena ini bukan hal baru di dunia psikologi.

Para peneliti menyebutnya phubbing—mengabaikan orang yang ada di depan mata karena sibuk dengan ponsel.

Meta-analisis yang dirilis tahun 2025 mencatat pola yang jelas: pasangan yang sering mengalaminya melaporkan kepuasan hubungan yang menurun dan merasa lebih jauh secara emosional.

Riset terhadap pasangan milenial di Indonesia juga menemukan korelasi negatif yang signifikan: makin sering pasangan asyik dengan layar saat momen bersama, makin mudah muncul rasa kesepian dan renggang.

Efeknya seperti domino—rasa diabaikan memicu deprivasi afeksi, yang lambat laun mengikis komitmen.

Kenapa Kita Melakukannya?

Jawaban sederhananya: butuh jeda dan hiburan instan.

Setelah seharian bekerja atau mengurus anak, scrolling media sosial terasa seperti camilan bagi otak yang lelah.

Meme, video lucu, atau gosip seleb jadi cara untuk melepas tegang.

Para psikolog menyebut gangguan ini technoference—campur tangan teknologi dalam momen yang seharusnya jadi ruang bersama.

Tak sedikit pasangan yang merasa santai rebahan bareng sambil saling tunjukkan video atau meme.

Tapi saat layar mulai lebih sering mendapat prioritas daripada percakapan, jarak emosional pun pelan-pelan tumbuh.

Layar dan Tidur: Hubungan yang Rumit

Paparan cahaya dari layar, terutama warna biru, memang bisa menurunkan produksi melatonin yang membantu kita mengantuk.

Namun beberapa riset terkini menegaskan bukan hanya cahayanya yang jadi masalah, tetapi juga isi yang kita konsumsi.

Konten yang memicu emosi—video debat, drama gosip, atau reels yang bikin penasaran—membuat otak tetap siaga dan susah beristirahat.

Studi di Indonesia menemukan kebiasaan memakai ponsel menjelang tidur berkorelasi dengan kualitas tidur yang lebih buruk.

Kurang tidur berujung pada mood yang lebih rapuh, yang bagi pasangan bisa menjadi bahan bakar untuk konflik-konflik kecil.

Empat Gaya Rebahan + HP

Menyimak cerita warganet dan hasil riset, kebiasaan ini bisa dikelompokkan jadi empat tipe:

  1. Tim Sinkron
    Pasangan scrolling bersama, saling tunjuk meme, tertawa bareng. Layar jadi media kebersamaan.

  2. Tim Batas Waktu
    Mereka punya kesepakatan jam tidur. Misalnya pukul 22.30 ponsel diletakkan, setelah itu waktunya ngobrol atau sekadar memeluk.

  3. Tim Campuran
    Salah satu butuh “me-time” dengan ponsel, yang lain ingin ditemani bicara. Tanpa kesepakatan, friksi kecil bisa mengendap jadi ganjalan.

  4. Tim Detoks
    Kamar tidur jadi zona bebas gawai. Hasilnya, percakapan lebih intens, tidur lebih nyenyak, dan rasa dekat lebih hangat.

Dampak Emosional yang Sering Terabaikan

Sekilas, rebahan sambil main HP terlihat santai dan tidak berbahaya. Tapi ada dampak halus yang kerap tak disadari:

  • Rasa Diabaikan – Saat salah satu bicara tapi yang lain tetap terpaku ke layar, muncul perasaan tidak dihargai.

  • Koneksi yang Memudar – Obrolan ringan sebelum tidur biasanya jadi lem yang merekatkan relasi. Saat hilang, keakraban bisa perlahan menipis.

  • Siklus Pelarian – Salah satu merasa diabaikan, yang lain makin tenggelam di layar untuk menghindar. Putaran ini bisa merusak kualitas hubungan jika dibiarkan.

Menemukan Ritme yang Sehat

Alih-alih saling menyalahkan, pendekatan yang lebih sehat adalah negosiasi bersama.

Tujuannya bukan melarang teknologi, tetapi memastikan kehadiran emosional tetap terjaga.

Beberapa langkah sederhana yang realistis:

  • Golden 20 – Sisihkan 20 menit terakhir sebelum tidur tanpa layar. Jika terasa berat, mulai dari 10 menit. Gunakan untuk berbagi cerita atau sekadar tertawa berdua.

  • Mode Bareng – Kalau ingin scrolling, lakukan bersama. Nikmati konten yang sama, letakkan ponsel saat pasangan ingin bicara.

  • Kode Aman – Buat kata kunci lucu untuk memberi sinyal, “Aku butuh kamu hadir.”

  • Dock di Luar Kasur – Taruh charger agak jauh dari jangkauan agar tak terus tergoda untuk menggulir layar.

  • Jadwal Curhat – Sisihkan minimal dua malam seminggu tanpa gangguan layar untuk bicara soal hal-hal penting: anak, keuangan, rencana masa depan.

Kapan Harus Waspada

Kebiasaan ini menjadi lampu kuning saat:

  • Layar selalu menang atas percakapan penting.

  • Bercinta lebih sering ditunda “sebentar lagi” karena keasyikan timeline.

  • Terjadi pola defensif: satu sibuk layar, satu merasa diabaikan, konflik meningkat.

Kalau pola ini terus berulang, kemungkinan besar kepuasan hubungan akan terkikis.

Ranjang Sebagai Panggung, Bukan Hanya Charging Station

Ranjang adalah tempat untuk beristirahat dan saling hadir.

Layar bisa menjadi lampu sorot yang memperkaya momen kebersamaan—asal tidak merebut peran utama.

Pertanyaan warganet di Threads tadi membuka ruang refleksi bagi pasangan di era digital.

Jawaban yang sehat mungkin bukan “ya” atau “tidak”, tetapi bagaimana mengatur kebiasaan agar layar tak mengalahkan sentuhan manusia.