MATRANEWS.id –– Dua Nama, Berjuta Makna: Iwan Fals & Ebiet G Ade
Di panggung musik Indonesia, ada dua nama yang tidak hanya dikenal, tetapi dihormati lintas generasi—Iwan Fals dan Ebiet G Ade.
Keduanya lahir di era yang sama, 1960-an, menapaki masa muda dalam suasana sosial-politik yang bergolak, dan mengekspresikan keresahan maupun harapan lewat musik.
Meskipun karakter musikal mereka berbeda, keduanya memegang satu kebenaran yang sama: musik adalah bahasa universal yang tak lekang dimakan zaman.
Iwan Fals: Suara Rakyat yang Lantang
Lahir dengan nama Virgiawan Listanto pada 3 September 1961 di Jakarta, Iwan Fals tumbuh sebagai musisi jalanan sebelum dikenal publik luas.
Musiknya sarat kritik sosial, menyoroti ketimpangan, ketidakadilan, dan suara rakyat kecil yang jarang terdengar.
Lagu-lagu seperti Bongkar, Bento, dan Manusia Setengah Dewa menjadi semacam “koran” yang menyuarakan kenyataan sehari-hari, dibalut nada sederhana yang mudah diingat.
Bagi banyak orang, mendengarkan Iwan Fals bukan sekadar menikmati musik, tetapi juga memahami potret kehidupan Indonesia dalam bahasa yang jujur dan apa adanya.
Ebiet G Ade: Pujangga yang Menyentuh Jiwa
Ebiet G Ade, bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far, lahir pada 21 April 1954 di Banjarnegara. Dikenal sebagai maestro balada, ia mengawinkan puisi dengan melodi lembut, menciptakan lagu-lagu yang menyentuh sisi terdalam manusia.
Karya-karya seperti Berita Kepada Kawan, Titip Rindu untuk Ayah, dan Camellia menghadirkan keindahan bahasa yang puitis sekaligus penuh makna.
Liriknya sering mengajak pendengar merenung, entah tentang kehilangan, kerinduan, atau hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Dua Jalur, Satu Tujuan
Meskipun satu dikenal lantang bersuara dan satu lagi lembut bertutur, Iwan Fals dan Ebiet G Ade sama-sama menempatkan manusia dan kehidupan sebagai pusat karya mereka.
Mereka tidak hanya menulis lagu, tetapi juga menulis sejarah—menggambarkan rasa, suasana, dan kisah bangsa lewat nada.
Hebatnya, hingga kini karya mereka masih diputar, dinyanyikan ulang, dan bahkan viral di media sosial. Generasi baru menemukan bahwa pesan-pesan mereka tetap relevan, seolah ditulis untuk masa kini.
Album Ikonik & Momen Penting
Iwan Fals
Album Ikonik:
Sarjana Muda (1981) — Melahirkan lagu legendaris seperti Oemar Bakrie dan Guru Oemar Bakrie yang memotret kehidupan rakyat kecil.
OPLOSAN (1982) — Penuh warna kritik sosial yang menyentuh masyarakat luas.
Keseimbangan (1986) — Perpaduan tema sosial dan personal.
Bongkar (1989, bersama Swami) — Lagu Bento dan Bongkar menjadi anthem perubahan sosial.
Manusia Setengah Dewa (2004) — Simbol perlawanan dan refleksi diri.
Momen Penting:
1980-an: Lagu-lagu kritik sosial membuatnya dikenal sebagai ikon suara rakyat.
1989: Bergabung dalam grup Swami dan Kantata Takwa, memperkuat posisi sebagai musisi perlawanan.
2002: Ditetapkan sebagai salah satu tokoh penting oleh Majalah TIME Asia.
Hingga kini: Konsernya selalu menyedot massa besar, menjadi ajang pertemuan lintas generasi.
Ebiet G Ade
Album Ikonik:
Camellia I (1979) — Album debut dengan nuansa balada romantis yang memikat.
Camellia II (1980) — Memperkuat posisinya sebagai penyanyi balada puitis.
Camellia III (1980) — Berisi lagu-lagu yang menjadi bagian dari “soundtrack” generasi 80-an.
Berita Kepada Kawan (1987) — Mengangkat kisah bencana dan kemanusiaan dengan lirisme yang mendalam.
Untuk Kita Renungkan (1988) — Lagu reflektif yang menjadi penutup era kejayaan 80-an.
Momen Penting:
1979: Album Camellia I meledak di pasaran, membawa Ebiet ke puncak popularitas.
1980-an: Menjadi penyanyi balada nomor satu di Indonesia.
1987: Berita Kepada Kawan memperluas jangkauan pendengarnya hingga ke negara tetangga.
1990-an: Tetap eksis meski tren musik berubah drastis.
2000-an hingga kini: Banyak lagunya kembali populer berkat media digital dan cover artis muda.
Musik yang Tak Pernah Usang
Rahasia lagu-lagu mereka tetap hidup puluhan tahun?
Mungkin jawabannya sederhana: kejujuran.
Kejujuran dalam bercerita, dalam mengungkap rasa, dan dalam merespons dunia di sekitar mereka. Di tengah perubahan tren musik, karya-karya mereka seperti Bento atau Berita Kepada Kawan tetap menggugah, tak peduli apakah dimainkan lewat kaset pita lawas atau layanan streaming digital.
Warisan untuk Masa Depan
Kehadiran Iwan Fals dan Ebiet G Ade adalah pengingat bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana komunikasi, pengikat memori, dan jembatan antar generasi.
Di antara denting gitar dan bait-bait yang mereka wariskan, kita menemukan ruang untuk tertawa, menangis, marah, sekaligus berharap.
Dua nama ini telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Dan selama hati manusia masih mencari makna, karya mereka akan selalu menemukan pendengar baru.








