#Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) membuka panggung baru. Pada 26 November 2025, di Balai Kartini Convention & Exhibition Center, Jakarta
MATRANEWS.id — Indonesia Cyber Security Forum Gelar Forum Perdana, Soroti “Gunung Es” Ancaman Siber di Era AI dan Komputasi Kuantum
Di tengah kian rapuhnya pagar digital negeri ini, Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) membuka panggung baru.
Pada 26 November 2025, di Balai Kartini Convention & Exhibition Center, Jakarta, forum multi-stakeholder ini menggelar acara perdana bertajuk “Indonesia Cyber Security Summit – Cyber Leadership Forum 2025©”.
Bukan sekadar seremoni peluncuran, forum ini dideklarasikan sebagai ruang temu paling strategis bagi para pemimpin, regulator, dan praktisi keamanan siber.
Tema besar tahun ini—“Iceberg of Ignorance – What Risks, Challenges and Opportunities Are We Now Facing in The Age of Complex Era of Artificial Intelligence & Quantum Computing”—seolah menjadi cermin situasi.
Di luar sana, serangan siber semakin senyap, canggih, dan sulit dideteksi.
Yang tampak di permukaan hanya serpihan masalah, sementara sisanya—seperti gunung es—mengintai di kedalaman sistem yang tak terjaga.
Deretan Pemikir Global dan Nasional





ICSF berhasil mengumpulkan tokoh lintas bidang yang selama ini menjadi rujukan dalam diskursus keamanan nasional. Di antara yang hadir:
Prof. Dr. Pratikno, Menko PMK—tokoh analog yang lantang bicara soal literasi digital dan etika teknologi.
Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, tokoh militer dan keamanan Kedirgantaraan Nasional, mantan Kepala Staf TNI AU periode 2002-2005. Figur militer yang konsisten mengkritisi lemahnya kesadaran keamanan siber di sektor strategis.
Frederic Margotton, Duta Besar Siber Kanada untuk ASEAN—membawa perspektif global tentang diplomasi digital.
Dr. Ismail Fahmi, analis media digital yang rutin membongkar ekosistem disinformasi dan ruang gelap percakapan digital.
Nama-nama lain yang tampil memberi warna diskusi meliputi Prof. Dr. Arwin D.W. Sumari, Marshall Pribadi, Sally Santoso, MG Ari Yulianto dari Dewan Pertahanan Nasional (DPN), serta MG Bondan Widiawan dari BSSN.
Dalam forum ini, ancaman AI dan komputasi kuantum bukan sekadar konsep akademis. Para pembicara mengelaborasi dampaknya pada diplomasi siber, pertahanan nasional, industri strategis, serta governance sektor publik.
Momentum Kolaborasi di Tengah Ledakan Ancaman Siber
Berbeda dengan banyak seminar siber yang hanya menampilkan parade jargon, forum ICSF dirancang untuk eksekutif tingkat atas—mulai pejabat pemerintah, pimpinan BUMN, hingga perwakilan TNI dan Polri.
Percakapan bergerak pada isu inti: siapa memimpin, siapa berkoordinasi, dan siapa bertanggung jawab jika terjadi serangan besar.
Beberapa peserta membicarakan secara off-the-record soal insiden ransomware di sejumlah lembaga pemerintah yang hingga kini tak sepenuhnya pulih.
Di forum ini, masalah seperti itu tak lagi dianggap aib, melainkan bahan autopsi bersama untuk memperbaiki ekosistem keamanan nasional.
Didukung Privy dan Entrust
Dua mitra strategis ICSF tahun ini adalah Privy dan Entrust, yang memberikan dukungan teknis dan pemikiran.
Kolaborasi keduanya disebut memperkuat desain forum yang menempatkan isu identitas digital, autentikasi, dan manajemen kepercayaan (trust management) sebagai fondasi ketahanan siber.
Minat Peserta Membludak
Meski baru pertama kali digelar, acara ini langsung mencapai kapasitas penuh.
Lebih dari 100 peserta hadir dari sektor keuangan, infrastruktur kritis, pemerintahan, akademisi, hingga komunitas profesional.
Bagi ICSF, antusiasme ini menjadi indikator kuat bahwa isu keamanan siber kini bukan lagi ranah teknis, melainkan urusan strategis negara.
Optimisme dari Ketua ICSF
Ketua Pelaksana sekaligus pendiri ICSF, Ardi Sutedja K., menyebut forum ini sebagai langkah awal menuju kolaborasi nyata.
“Forum ini wadah strategis bagi para pemimpin untuk merumuskan kebijakan dan langkah konkret demi memperkuat ketahanan siber nasional,” ujar Ardi.
ICSF sendiri didirikan pada 2014 sebagai asosiasi non-profit yang fokus pada edukasi, advokasi, dan pengembangan kapasitas keamanan siber. Prinsipnya sederhana: keamanan siber adalah tanggung jawab bersama.
Diplomasi Digital dan Kepemimpinan Siber di Era Quantum Threat
Dalam sesi paparan, Dubes Frederic Margotton menyampaikan perkembangan diplomasi siber Kanada dan bagaimana negara-negara ASEAN perlu membangun protokol bersama menghadapi ancaman kuantum.
Sementara itu, Marsekal TNI (purn) Chappy Hakim mengingatkan soal lemahnya kultur keamanan di sektor strategis—sebuah “kerentanan bawaan” yang bisa dimanfaatkan aktor negara maupun kriminal.
Diskusi berlanjut pada isu-isu dunia nyata: serangan terhadap infrastruktur kritis, potensi manipulasi sistem AI, serta ketiadaan standar kepemimpinan siber di berbagai institusi.

Foto Bersama dan Plakat Penghargaan
Setelah sesi tanya jawab interaktif, forum ditutup dengan foto bersama seluruh pembicara dan undangan.
Panitia kemudian menyerahkan plakat penghargaan sebagai apresiasi atas kontribusi pemikiran para narasumber dalam memperkuat ekosistem keamanan siber Indonesia.
Acara ini bukan sekadar konferensi. Bagi ICSF dan para pemimpin yang hadir, ini adalah peringatan dini: di era AI dan komputasi kuantum, ancaman terbesar adalah ketidaktahuan.
Dan seperti gunung es, ketidaktahuan itu sering kali tenggelam jauh di bawah radar.










