MATRANEWS.id — Kaleng Merah yang Tak Pernah Ada: Ketika Otak Lebih Berkuasa dari Mata
Sebuah gambar sederhana mendadak membuat banyak orang meragukan penglihatan mereka sendiri.
Di layar ponsel, tampak jelas sebuah kaleng Coca-Cola—lengkap dengan kesan merah ikonik yang selama puluhan tahun melekat kuat dalam ingatan kolektif.
Namun ketika diperiksa lebih saksama, ada fakta mengejutkan: tak satu pun piksel merah benar-benar hadir di sana.
Gambar viral itu sejatinya hanya tersusun dari warna putih, biru muda, dan hitam. Tidak lebih. Tidak kurang. Merah yang kita “lihat” bukan berasal dari layar, melainkan dari kepala kita sendiri.
Fenomena ini dikenal dalam ilmu persepsi visual sebagai color constancy. Otak manusia tidak bekerja seperti kamera yang merekam warna secara netral.
Ia jauh lebih licik—dan sekaligus cerdas. Ketika berhadapan dengan objek yang sangat familiar, otak akan “mengoreksi” informasi visual mentah berdasarkan ingatan, konteks, dan ekspektasi yang telah tertanam lama.
Kaleng Coca-Cola adalah contoh sempurna.
Sejak kecil, kita dijejali warna merah khas itu: di iklan televisi, papan reklame, kulkas warung, hingga momen-momen emosional seperti Lebaran, Natal, atau pertandingan sepak bola.
Warna merah itu bukan lagi sekadar warna—ia telah menjadi identitas, bahkan rasa.
Maka ketika mata menangkap bentuk, tipografi, dan kontras khas kaleng tersebut, otak langsung bekerja cepat: “Ini Coca-Cola. Berarti merah.” Tanpa bertanya, tanpa ragu.
Eksperimen visual ini bukan sekadar hiburan internet. Ia adalah cermin halus tentang cara manusia memandang dunia.
Betapa sering kita merasa “melihat dengan jelas”, padahal yang kita lihat hanyalah hasil suntingan pengalaman masa lalu. Persepsi kita, ternyata, lebih dekat ke tafsir daripada fakta.
Di titik ini, ilusi optik kaleng Coca-Cola berubah menjadi metafora.
Tentang bagaimana ingatan membentuk keyakinan. Tentang bagaimana branding, kebiasaan, dan pengalaman kolektif dapat mengisi kekosongan realitas.
Bahkan—tentang bagaimana dalam kehidupan sosial dan politik, kita kerap “melihat” sesuatu bukan karena itu benar-benar ada, melainkan karena kita sudah terlalu lama percaya bahwa itulah yang seharusnya ada.
Merah itu, pada akhirnya, hanyalah ilusi.
Namun ilusi yang sangat meyakinkan—karena ia lahir bukan dari mata, melainkan dari pikiran.
- https://www.hariankami.com/profile-kami/23616440326/gambar-coca-cola-ini-sama-sekali-tidak-mengandung-warna-merah-simak








