Buku “Presiden Solusi” Rangkum 108 Persoalan yang Diselesaikan Prabowo dalam 18 Bulan: dari LPG hingga Pupuk
MATRANEWS.id — Kisah di Balik Penulisan Buku “Presiden Solusi”: Mencatat Jejak Kepemimpinan untuk Sejarah
Di sebuah ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen kebijakan, laporan kementerian, data statistik, hingga catatan rapat kabinet, tiga orang duduk berjam-jam menyusun potongan-potongan peristiwa.
Mereka bukan sejarawan. Bukan pula penulis biografi profesional. Namun mereka merasa memiliki satu tanggung jawab yang sama: merekam perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebelum ia larut menjadi sekadar arsip berita harian.
Dari pekerjaan itulah lahir buku Presiden Solusi.
Buku setebal ratusan halaman tersebut memuat 108 persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia beserta solusi yang diklaim telah dihadirkan pemerintah selama satu setengah tahun pertama pemerintahan Prabowo.
Ya, mulai dari kelangkaan LPG, distribusi pupuk, persoalan pangan, hingga berbagai kebijakan strategis lainnya.
Penulisnya bukan nama asing di lingkaran Istana. Mereka adalah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan Dirgayuza Setiawan, serta Asisten Khusus Presiden Bidang Analisis Data Strategis Agung Gumilar Saputra.
Menurut Muhammad Qodari, gagasan penulisan buku itu berangkat dari kebutuhan untuk mendokumentasikan berbagai kebijakan pemerintah secara sistematis.
“Kami melihat begitu banyak kebijakan yang lahir dalam waktu singkat. Kalau tidak dicatat dengan baik, publik hanya melihatnya sebagai peristiwa yang berdiri sendiri-sendiri,” ujar Qodari dalam peluncuran buku di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kebijakan pemerintah sering kali hanya hidup beberapa jam dalam siklus pemberitaan sebelum digantikan isu lain. Akibatnya, keterkaitan antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya kerap terputus dari ingatan publik.
Karena itulah, buku tersebut tidak hanya menyajikan daftar capaian. Para penulis berusaha memetakan bagaimana sebuah masalah muncul, bagaimana pemerintah merespons, dan mengapa keputusan tertentu akhirnya diambil.
Dirgayuza Setiawan mengatakan, mereka ingin memperlihatkan sesuatu yang jarang terlihat oleh publik: cara berpikir Presiden Prabowo ketika menghadapi persoalan.
Selama mendampingi Presiden, ia melihat pola yang konsisten. Prabowo, kata dia, selalu berangkat dari keyakinan bahwa masalah rakyat tidak boleh terlalu lama menunggu solusi.
“Bapak Presiden merasa semua harus di-deliver secepat-cepatnya. Karena rakyat tidak bisa menunggu,” kata Dirgayuza.
Kecepatan itu, menurut dia, bukan lahir dari sikap tergesa-gesa. Di balik setiap keputusan terdapat proses pengamatan, pengumpulan data, dan analisis yang panjang.
Dirgayuza menyebut Prabowo menggunakan kerangka berpikir yang dikenal sebagai Observe, Orient, Decide, and Act (OODA) Loop, sebuah metode pengambilan keputusan yang banyak digunakan dalam lingkungan militer.
Melalui pendekatan itu, keputusan strategis diambil berdasarkan kemampuan membaca situasi secara cepat, memahami konteks, menentukan pilihan, lalu mengeksekusinya.
Dalam praktik sehari-hari, kata dia, Presiden terus mengikuti perkembangan informasi yang masuk dari berbagai sumber.
“Setiap hari kami melihat bagaimana beliau sangat mengikuti perkembangan. Beliau tidak menutup-nutupi fakta yang ada di lapangan,” ujarnya.
Bagi para penulis, pola kepemimpinan semacam itu menjadi salah satu bagian penting yang perlu direkam. Sebab yang terlihat di ruang publik sering kali hanya hasil akhirnya berupa kebijakan, sementara proses pengambilan keputusan jarang diketahui masyarakat.
Agung Gumilar Saputra mengaku memiliki kesan serupa. Selama bekerja bersama Presiden, ia justru melihat sosok yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Menurut Agung, tidak jarang sebuah keputusan strategis dipertimbangkan berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelum diputuskan.
“Beliau sudah sangat bijak. Semua dipikirkan terlebih dahulu sebelum diputuskan,” katanya.
Proses penyusunan buku itu sendiri memerlukan kerja dokumentasi yang tidak sederhana. Tim penulis harus menelusuri ratusan kebijakan, memilah data, memverifikasi kronologi, serta menyusun hubungan sebab-akibat dari setiap persoalan yang dibahas.
Mereka menyadari buku tersebut akan dibaca bukan hanya oleh pendukung pemerintah, tetapi juga oleh kalangan akademisi, peneliti kebijakan, hingga masyarakat yang ingin memahami arah pemerintahan Prabowo.
Di situlah, menurut Qodari, letak tanggung jawab sejarah yang mereka emban.
Sebab pemerintahan selalu meninggalkan jejak. Pertanyaannya hanya satu: apakah jejak itu terdokumentasi dengan baik atau hilang ditelan waktu.
Melalui Presiden Solusi, para penulis mencoba memastikan bahwa berbagai keputusan, perdebatan, dan langkah yang diambil pada masa awal pemerintahan Prabowo tidak hanya menjadi catatan harian politik, melainkan bagian dari dokumentasi yang dapat dibaca dan dinilai oleh generasi berikutnya.
Pada akhirnya, buku itu bukan sekadar tentang 108 masalah dan 108 solusi. Ia adalah upaya merekam cara sebuah pemerintahan bekerja ketika menghadapi tuntutan untuk bergerak cepat, sekaligus meninggalkan catatan bagi sejarah yang kelak akan memberikan penilaiannya sendiri.











