Misteri Cesium-137 di Cikande: Dari Udang Beku ke Pabrik Baja

MATRANEWS.idMisteri Cesium-137 di Cikande: Dari Udang Beku ke Pabrik Baja

Sebuah teka-teki nuklir kini menghantui Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

Bukan film fiksi ilmiah, melainkan kenyataan pahit yang menyeret ribuan pekerja dan warga sekitar ke dalam lingkaran kecemasan.

Sebanyak 1.562 orang sudah diperiksa kesehatannya, menyusul temuan paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137).

Kabar ini pertama kali mencuat bukan dari dalam negeri. Ribuan kilometer jauhnya, di sebuah pelabuhan Amerika Serikat, petugas Bea Cukai mendapati sesuatu yang aneh: udang beku asal Indonesia mengandung jejak radiasi.

Jejak itu ditarik kembali ke Serang. Dugaan awal mengarah pada satu pabrik pengolahan udang.

Siapa sangka, investigasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) membelokkan skenario: sumber radiasi bukan dari laut, melainkan dari darat.

Dari Warung Warga hingga Pabrik Baja

Tim gabungan yang turun ke lapangan menemukan kenyataan lebih menyeramkan.

Radiasi Cs-137 terdeteksi di tujuh hingga delapan titik berbeda, termasuk sebuah lapak warung kecil milik warga. Semua titik itu ternyata berada di luar area pabrik udang.

Penyisiran besar-besaran yang dilakukan bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Polri, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhirnya mengarah ke satu nama: PT Peter Metal Technology Indonesia (PMT), sebuah pabrik peleburan baja.

Hasil pengukuran menunjukkan dosis radiasi tertinggi berada di area perusahaan tersebut. KLHK langsung menyegel lokasi, menghentikan aktivitas, dan menetapkannya sebagai sumber utama cemaran.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan:

“Mulai hari ini, Kawasan Industri Modern Cikande berstatus kejadian khusus cemaran radiasi.”

Pos-pos penjagaan pun didirikan di pintu masuk kawasan industri. Brimob bersenjata lengkap, tim Bapeten, BRIN, hingga aparat Kementerian Lingkungan Hidup, berjaga bergantian. Keluar masuk barang dan kendaraan diawasi ketat.

Apa Itu Cesium-137?

Bagi publik awam, nama Cesium-137 terdengar asing, bahkan mistis. Padahal unsur kimia ini telah lama dikenal para ilmuwan.

Ditemukan pada 1860 oleh Robert Bunsen dan Gustav Kirchoff, cesium awalnya adalah logam alkali berwarna perak keemasan, lunak, bahkan bisa meleleh pada suhu ruang.

Namun yang ditemukan di Cikande bukan cesium biasa, melainkan isotop radioaktifnya: Cs-137.

Isotop ini lahir dari reaksi fisi nuklir—misalnya saat bom atom diledakkan atau reaktor nuklir meledak seperti di Chernobyl dan Fukushima.

Cs-137 memancarkan radiasi beta dan gamma. Dalam dunia medis, zat ini bisa berguna, misalnya untuk terapi kanker.

Dalam industri, Cs-137 dipakai dalam alat ukur ketebalan dan kalibrasi. Tapi dalam bentuk lepas, zat ini bisa mematikan.

Jika terkena paparan eksternal dalam dosis tinggi, tubuh bisa mengalami luka bakar radiasi, sindrom radiasi akut, bahkan kematian.

Lebih berbahaya lagi bila zat ini masuk ke dalam tubuh lewat makanan atau udara. Cs-137 akan menyebar ke jaringan lunak, terutama otot, dan terus memancarkan radiasi dari dalam tubuh. Dalam jangka panjang, risikonya meningkat pada kanker.

Bayangan Tragedi Nuklir

Jejak Cs-137 bukan hal asing di bumi. Sisa-sisa uji coba nuklir pada era Perang Dingin masih bisa dilacak hingga kini di atmosfer dan tanah. Namun, temuan dalam jumlah besar dan terkonsentrasi seperti di Cikande adalah lain cerita.

Di masa lalu, Cs-137 menjadi simbol tragedi. Pada 1987, di Goiania, Brasil, sebuah kapsul kecil Cs-137 dari mesin radioterapi terbengkalai.

Warga yang menemukannya, terpukau oleh sinar biru yang keluar dari bubuk kristalnya. Mereka bahkan mengoleskan zat itu di kulit.

Akibatnya: 4 orang tewas, ratusan orang terpapar radiasi, dan ribuan ton tanah serta bangunan harus dimusnahkan.

Kini, Cikande berada di titik genting yang sama. Bedanya, Indonesia belum pernah punya pengalaman menghadapi kontaminasi radioaktif sebesar ini.

Dari Mana Datangnya?

Menteri Hanif Faisol Nurofiq menduga, zat berbahaya ini berasal dari luar negeri, menyusup lewat jalur impor, dan lolos dari pengawasan.

Bagaimana bisa material setara nuklir masuk ke pabrik baja di Serang?

Pertanyaan itu belum terjawab. Publik hanya bisa menunggu hasil investigasi lengkap Satgas Cesium-137.

Sementara itu, tim dekontaminasi terus bekerja. Tanah digali, material berbahaya diangkut dalam wadah khusus, dan ribuan orang diperiksa.

Seperti sedang menghadapi musuh tak kasat mata, para pekerja pabrik, pedagang warung, hingga keluarga mereka, kini menunggu hasil tes kesehatan dengan perasaan cemas.

Di atas kertas, Cikande hanyalah sebuah kawasan industri di Banten. Namun sejak akhir September 2025, ia berubah menjadi panggung dari sebuah misteri nuklir yang bisa menjadi Goiania versi Indonesia—atau, dengan penanganan cepat, sekadar catatan singkat dalam sejarah.

BACA JUGA: Majalah Matra Edisi 0345, 1 Oktober 2025