BudayaNasionalPolitikTokoh

Saling Sindir Di Era Digital (Djadjang Nurjaman & Usamah Hisyam)

Oleh: S.S Budi Rahardjo

Saling Sindir Di Era Digital (Djadjang Nurjaman & Usamah Hisyam)foto dok: Kumparan

MATRANEWS.id — Tulisan mantan wartawan, bahkan mereka sebetulnya juga masih disebut sebagai jurnalis. Semua yang menulis ini, teman saya, tapi karena berbeda pilihan politik, “segala sesuatu” yang melekat, berlaku aksioma: “tak ada kawan atau pun lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan-kepentingan belaka!”.

Simak tulisan mereka. Semoga mampu melahirkan kedamaian dalam dimensi yang lebih jernih. Make love not War. Kasih sayang antarsahabat.

Seperti dituturkan Jean Marc, salah satu tokoh dalam novel Milan Kundera, Identity, “Kasih persahabatan bagiku adalah bukti tentang sesuatu yang lebih dahsyat ketimbang ideologi, agama, dan bangsa”.

***

Oleh: Djadjang Nurjaman, Pengamat media dan ruang publik

KETUA Pemuda Pancasila Jawa Timur La Nyalla kembali naik daun. Keputusannya menyeberang ke kubu Jokowi sampai pengakuannya menjadi penyebar isu PKI, sedang ramai di media.

La Nyalla juga berani bertaruh potong leher kalau sampai Jokowi kalah di Madura. Di Madura banyak santri yang sedang ngasah clurit. Kalau saja hukum membenarkan orang boleh memotong leher, nasib Nyalla sudah jelas.

Tapi, soal potong leher ini tidak perlu dianggap terlalu serius. La Nyalla memang biasa begitu. Biasa main gertak sambal.

Gara-gara gagal nyagub di Jatim, marahnya La Nyalla sampai ke ubun-ubun. Dia menganggap Prabowo yang menggagalkan pencalonannya.

Padahal, dia sudah diberi tiket Gerindra dengan syarat bisa menambah kursi lagi. Kursi Gerindra tak cukup. Tapi dia tak bisa memenuhi target. Lha kok yang disalahkan Prabowo!

Kalau pun dapat tiket, La Nyalla tak baka terpilih sebagai Gubernur Jatim. Reputasi buruk Ketua Kadin Jawa Timur ini sudah jadi rahasia umum. Dia juga sebenarnya tidak serius-serius amat mau nyalon. Paling juga dia cuma cari duit nekan para cukong!

Sekarang La Nyalla pasang badan untuk Jokowi.

Pada Pilpres 2014 dia dukung Prabowo-Hatta. Jokowi yang elektabilitasnya turun, jadi tidak selektif. Dia pikir dengan menggandeng La Nyalla, bakal menang besar di Jatim.

Insting dan intelijen politik Jokowi memang parah. Dengan menggandeng La Nyalla reputasi Jokowi di Jatim dijamin jeblok. Paling, nanti kalau Jokowi kalah dia juga cari cantolan lain. Dia bakal taruhan potong leher lagi untuk capres yang lain.

Berita Menarik :  UU Ciptaker Menuai Gelombang Demo dan Mogok Kerja

Emang berapa sih jumlah leher La Nyalla?

Jokowi seperti psikologi orang yang mau tenggelam. Dia mencoba menggapai apapun yang bisa menyelamatkannya. Dipikirnya La Nyalla adalah kayu terapung, padahal buaya yang menyaru. Salah besar dia!

Di luar La Nyalla, publik figur yang sekarang pasang badan untuk Jokowi adalah Usamah Hisyam. Mantan wartawan ini baru saja membuka kedoknya sebagai pendukung Jokowi yang pura-pura mendukung ulama.

Kemarin dia mencoba menggagalkan Reuni 212. Dengan membangun opini, acara itu ditunggangi aksi politik.

Dibanding La Nyalla, permainan Usamah ini jauh lebih dahsyat. Dia bisa melakukan penetrasi ke mana-mana. Hampir semua presiden berhasil didekatinya.

Usamah sekarang menjadi Ketua Umum Parmusi.

Posisi ini bikin bingung orang-orang yang kenal dekat dengan Usamah. Kok bisa orang seperti dia jadi Ketua Parmusi? Orang Parmusi berhasil ditipunya. Tapi itulah hebatnya Usamah.

Sebelum La Nyalla, Usamah sudah lebih dulu merapat ke Jokowi. Dia tercatat pernah mejadi ketua rombongan umroh tak lama setelah Jokowi terpilih menjadi presiden. Tapi dia terpental dan tidak mendapat posisi.

Usamah kemudian muncul lagi ketika ramai-ramai aksi 212. Dengan kelicinanannya dan membawa bendera Parmusi, dia berhasil masuk ke dalam lingkaran GNPF Ulama. Kepada wartawan asing dia mengaku punya target menggulingkan Jokowi.

Dari situ dia kemudian bisa menembus ke Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Dia kemudian seolah menjadi mediator antara HRS dan Jokowi. Langkah Usamah hampir berhasil ketika dia membawa sejumlah tokoh GNPF bertemu Jokowi di Istana Bogor.

Untungnya banyak yang mengingatkan HRS, siapa sebenarnya Usamah. Di belakang Usamah ada tokoh besar bernama Surya Paloh. Melalui orang dekat Jokowi inilah Usamah bisa merapat ke Istana.

Jejak kedekatan Usamah dengan Surya Paloh (SP) sudah lama. Sejak menjadi wartawan Media Indonesia dia sering digunakan untuk melakukan operasi politik SP.

Tentu ini kerjasama timbal balik. SP punya proxy, Usamah bayak mendapat keuntungan finansial dengan kedekatannya itu.

Operasi-operasi politik menjadi spesialis Usamah. Posisinya sebagai wartawan menjadi tiket masuknya ke mana-mana. Dia adalah wartawan yang jadi intel, dan intel yang jadi wartawan.

Berita Menarik :  Homepod Oval, Apa Itu?

Parmusi 6 Desember lalu melakukan penggalangan dana. Katanya untuk dakwah desa Madani. Ini bagian dari penguatan Revolusi Mental Jokowi. Surya Paloh dan Kapolri Tito Karnavian yang hadir, sama-sama menyumbang.

Sekarang Nyalla dan Usamah sudah membuka kedoknya masing-masing. Mereka secara terbuka pasang badan menyelamatkan Jokowi.

Kalau lihat keduanya all out kelihatannya memang benar Jokowi berada di ujung tanduk. Segala macam cara dilakukan. Tim suksesnya mulai terbuka mengatakan elektabiltas Jokowi stagnan. Itu sebenarnya bahasa lain elektabilitas terus turun. Salah-salah terjun bebas.

Bisakah dua sosok ini ikut menyelamatkan Jokowi yang bakal tenggelam? Kalau melihat track record keduanya, hanya tinggal menunggu waktu bagi keduanya melompat menyelamatkan diri.

La Nyalla pasti tidak siap dipotong lehernya oleh sahabatnya sendiri Nizar Zahro, atau santri dari Madura. Usamah? Seperti biasa dia akan mencari peluang mendekat kepada kekuasaan. Ideologinya adalah kepentingan pribadi.

Tulisan ini pun dibalas

***

oleh: H. Usamah Hisyam, Mantan Anggota Dewan Penasihat PA 212.

Banyak pertanyaan, baik melalui telepon maupun pesan di WhatsApp, tentang artikel yang beredar di media sosial sejak 14 Desember 2018, tulisan Djadjang Nurjaman yang berjudul “La Nyalla, Usamah Hisyam, dan Joko Widodo”. Mereka meminta saya menanggapi.

Sesungguhnya, saya malas membuang-buang waktu untuk menanggapi tulisan hoax. Karena tidak produktif. Lebih bernuansa iri, dengki, bahkan fitnah.

Seperti saran seorang teman, Fadly, caleg DPR RI dapil Malang asal Partai Golkar melalui WAGroup, “Gak penting klarifikasi tulisan model seperti itu, apalagi via medsos. Jalan lurus aja Tum, besarin Parmusi… Tak usah pusing dengan isu-isu sampah seperti itu…,” saran Fadly, yang juga Wakil Sekjen Parmusi.

Usamah Hisyam memberikan surat pengunduran dirinya sebagai Anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212. Surat diberikan kepada Ketua Umum PA 212 Ustadz Slamet Maarif di Jakarta, Senin malam (12/11/2018).

Beberapa jam sebelumnya, rekan saya di dunia pers, mantan wartawati senior Tempo, Linda Djalil, mengabarkan beredarnya artikel itu.

Berita Menarik :  Ahok Pulang.....

“Sebagai wartawan, aku sangat meragukan tulisan itu Us. Karena alur dan pendekatan analisanya subyektif banget. Kita kan berteman sudah lama, jangan karena perbedaan pandangan politik kita saling menjatuhkan. Makanya aku telpon kamu, apakah sudah tahu ada tulisan itu,” ujar Linda Djalil, yang sejak wartawan peliput di Istana Negara dikenal cukup dekat dengan keluarga Prabowo Subianto.

Jujur, selama 38 tahun saya bergulat dalam dunia pers, dimulai dari grup Tempo yakni wartawan di majalah Matra hingga Media Indonesia, lantas 10 tahun terakhir founderObsession Media Group (OMG), saya belum pernah mengenal Djajang Nurdjaman.

“Djadjang itu kenal betul bapak. Dia pernah wartawan SCTV, pernah koordinator Forum Pemred,” ungkap Sahrudi, News Director OMG. “Tapi sejak dulu dia gak suka, dia dengki dengan sepak terjang bapak. Karena bisa dekat dengan semua Presiden,” ujar Sahrudi.

“Gak usah ditanggapi, Us. Sudah saya cek kepada teman-teman, dia itu ingin sekali dekat dengan Pak Prabowo, ingin sekali mendapat perhatian dari Pak Prabowo. Makanya dia bikin tulisan hoax seperti itu,” ungkap sahabat lama, mantan wartawan senior Harian Angkatan Bersenjata, Syukri Alvin.

“Hampir mirip dengan modus Ratna Sarumpaet donk, Us,” celetuk Linda Djalil, ketika saya menceritakan hal itu kepadanya.

“Sudahlah, Linda. Kita gak usah bahas Djadjang. Tulisan dia itu mencerminkan strata kewartawanannya, sempitnya wawasan dan profesionalisme yang dimiliki. Antara fakta, opini, analisa, gak jelas semua. Bahkan lebih banyak fitnah. Biarkan saja, pahalanya pindah ke saya, he.. he.. he..” ujar saya tertawa.

Artikel ini saya tulis karena persoalan prinsipil, sebagai catatan bagi generasi Islam ke depan, bukan untuk kepentingan politik siapa pun, apalagi menjawab Nurdjaman.

Hanya saja saya harus berterima kasih pada Djadjang Nurdjaman, yang sudah mempopulerkan nama saya dengan viralnya artikel tersebut. Apalagi tudingan negatif dalam tulisan itu dikaitkan dengan mundurnya saya dari anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212, arus besar yang harus saya sikapi secara konsekuen

baca juga: Majalah MATRA terbaru edisi cetak (print) — klik ini

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi