IT

Serangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

MATRANEWS.id – Jika di luar negeri yang menjadi pembicaraan adalah momen Pilpres AS 2020, dimana para hackers alias peretas dunia yang selama ini negaranya menjadi musuh Paman Sam, memborbardir dunia maya Amerika dengan serangan siber.

Banyak negara bagian AS yang mengaku laman resminya mendapat serangan siber, bahkan ada yang meminta tebusan. Pemerintah negara bagian pun meminta pemerintah federal untuk turun tangan menurunkan tim sibernya.

Terkait hal ini, Microsoft Corp mengungkapkan, mereka mendeteksi adanya serangan dunia maya dari Phosphorus, yang digambarkan oleh perusahaan sebagai ‘aktor Iran’. Hacker canggih ini menyerang lebih dari 100 individu terkenal.

Sementara di Indonesia, di situasi WFH (work from home) situasi dalam antipasi penyebaran COVID-19, kejahatan berkait perubahan pola hidup masyarakat. Karena pemakaian internet dan transaksi online semakin banyak.

Modus yang dilakukan banyak oknum pelaku kejahatan siber membuat domain-domain web atau website baru yang memanfaatkan kata-kata atau hal yang berkaitan dengan Covid-19.

Sebab saat ini kata-kata seperti covid-19, corona maupun virus menjadi trending dan banyak digunakan dalam kolom pencarian oleh para netizen.

Malware, spyware, dan virus seperti trojan disematkan pada website yang menampilkan peta persebaran virus dan informasi lainnya. Email spam juga meminta pengguna untuk mengklik tautan yang berisi malware.

Kebanyakan kejahatan siber ini soal penjualan perlengkapan medis. Selain itu ada juga penipuan memakai email atau sms meng-iming-imingi pengguna dengan makanan gratis, diskon besar di supermarket dan keuntungan lainnya.

Kini,  penipuan seperti phising akan menyamar memakai informasi soal vaksin covid-19. Kejahatan siber ini bertujuan mencuri data pengguna. Seperti halnya, menyebar info:  Internet GRATIS di masa pandemi oleh pemerintah. Klik ini

Ada yang klaim bahwa menemukan obat Covid-19, kemudian menyatakan itu herbal.

Karenanya, agar terhindar dari aksi reaksi tersebut, para pengguna internet yang seringkali surfing harus mengenali dan mengantisipasi hal ini. Langkahnya adalah bersikap skeptis terhadap email menggoda seperti email promosi yang mencurigakan.

Perhatikan juga adanya email masuk terkait Covid-19, lihat pengirimnya, isi email, bila terlihat janggal lebih baik abaikan. Selain itu, bilamana terdapat sebuah link yang coba diarahkan dalam isi email, lagi-lagi harus waspada dan jangan mudah mengklik.

Kemudian, selalu hati-hati dan waspada ketika mengakses sebuah website berkaitan tema Covid-19, terlebih lagi website tersebut sebelumnya belum pernah kenal atau diakses.

Lakukan pengecekan validitas keamanannya dengan bekerja dari rumah menggunakan software yang resmi. Jangan gunakan wifi yang tidak aman.

Kali ini  wawancara (3/Nov-2020) melalui videocall, bukan “kopi darat” seperti lalu, kita bisa anjangsana ke Gedung Bareskrim di kawasan Blok M.

Polisi yang piawai di dunia IT ini hanya mengingatkan kita semua, jika memiliki  sandi akun email atau media sosial pribadi.

“Jangan pasword yang mudah ditebak, seperti tanggal lahir atau nomer rumah,” ujar AKBP Idam Wasiadi  MT  tentang kejahatan dunia maya di masa pandemi covid-19.

Pria kelahiran Blora 1Januari 1965 ini mewanti-wanti, kiranya kita semua membiasakan diri hanya membuka situs-situs resmi untuk mendapatkan update mengenai kondisi terbaru covid-19, demi menghindari infeksi malware, dan tidak menjadi korban cyber crime.

Alumnus Pasca sarjana teknik kompoter ITS ini memang punya pengalaman membongkar  kasus Ransomware criptolocker yang menimpa US Gold Burreau di Texas Amerika Serikat, yang sudah tiga setengah tahun tidak terpecahkan di negara Paman Sam.

FBI sudah melacak dan mengidentifikasi.  Akan tetapi, belum dapat menyingkap pelaku jenis malware dari cryptovirology ini.

Sementara itu, korban di AS terus bermunculan,  dimana pelaku mengancam untuk mempublikasikan data korban atau terus-menerus memblokir akses, apabila tebusan tak dibayarkan.

Menggunakan teknik yang disebut pemerasan cryptoviral, di mana pelaku menyebar kepada 500 akun secara acak, calon  korban. Membuat sang korban, tidak dapat bekerja. Jaringan komputer dihack, tak bisa diakses, karena semua sistemnya diambil alih oleh pelaku.

Jika tak membayar, yang bersangkutan atau pelaku akan mematikan seluruh sistemnya. Dalam monitor layar komputer korban, hanya muncul tampilan berisi pesan yang meminta korban menghubungi email pelaku serta ancaman.

Ancaman itu adalah, dalam waktu tiga hari pelaku akan menghapus data-data milik korban apabila mengabaikan pesannya.  Adapun salah satu korbannya adalah sebuah perusahaan di San Antonio, Texas, Amerika Serikat.

“Singkatnya, keberhasilan penyidikan itu, bisa dipecahkan karena acara kegiatan ngopi bareng dengan FBI. Mereka minta bantuan kita, dan tim Bareskrim menyanggupi akan membantu melakukan investigasi,” tutur pria yang sudah 27 tahun menjadi penyidik  Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Pelaku ransomware cryptolocker US Gold Burreu bisa dideteksi siapa pelakunya, dengan cara pelbagai tracing buy.  Mendeteksi tersangka hacker Indonesia menjebol perusahaan Amerika ditangkap Bareskrim Polri. Klik ini 

Kolaborasi FBI Amerika bersama penyidik Indonesia menyingkap dengan cermat dan hati-hati.  “Karena pelaku tersebut anonious/tidak teridentifikasi pada saat di identifikasi,” ujar penerima beasiswa Sepamilsuk ABRI II di tahun 1989 ini.

Pelaku yang selalu menggunakan IP address VPN, wallet BTC-nya anonymous, log akses wallet BTC selalu memakai IP add VPN, memusingkan bahkan agen FBI Amerika Serikat harus ke Indonesia untuk berdiskusi memecahkan kasus ini.

Teknik cyber investigation salah satunya,” demikian  pengakuan dari pria yang kerap menjadi nara sumber “Keamanan Informasi Pada Mobile Technology” ini. Ia juga membongkar judi online,  money laundering hingga penyidikan kasus email Hijacking/ Email Fraud.

Untuk penyidikan email fraud, bahkan Idam Wasiadi dikirim ke Singapore (2013), ke Brussel – Belgia (2014) dan ke Paris – Perancis (2015). Untuk kemudian  ke Hongkong (2016).  Terakhir, berhasil dalam penyidikan kasus Ransomware di Houston – Texas USA (November 2019).

Pesannya hanya satu, untuk kita di masa pendemi covid 19 ini waspada kepada hacker dan pelaku tindak kejahatan siber. Karena perubahan pola kerja masyarakat yang kini terpaksa bekerja dari rumah (work from home) sebagai kesempatan emas untuk menjalankan aksi jahat mereka.

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

 

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

Serangan Ransomware Di Masa PandemiSerangan Ransomware Di Masa Pandemi

 

Konvergensi Majalah MATRA
Redaksi
the authorRedaksi