MATRANEWS.id — Sugiono: Masuk Dewan Perdamaian Gaza Langkah Konkret Indonesia
Menteri Luar Negeri Sugiono menepis keraguan publik atas langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza atau Dewan Perdamaian Gaza. Menurut dia, keikutsertaan Indonesia justru menjadi langkah konkret yang realistis untuk mendorong perdamaian di Palestina.
“Ini satu langkah yang konkret, yang menurut kami real untuk bisa dilakukan,” ujar Sugiono saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Indonesia resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza bersama Mesir dan Arab Saudi.
Forum ini digagas sebagai wadah diplomasi multilateral untuk meredakan konflik berkepanjangan di Gaza, sekaligus membuka jalur politik menuju penyelesaian jangka panjang.
Namun, keputusan Indonesia itu memantik polemik. Salah satu sumber kontroversi adalah keterlibatan Israel dan Amerika Serikat di dalam struktur Dewan Perdamaian Gaza. Keberadaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sosok yang kerap dikritik atas operasi militer di Gaza, memicu pertanyaan tentang independensi dan arah forum tersebut.
Sugiono mengakui kompleksitas itu. Ia menegaskan kehadiran Indonesia justru dimaksudkan untuk memastikan Dewan Perdamaian Gaza tidak melenceng dari tujuan awal pembentukannya.
“Kehadiran kita di situ untuk memastikan bahwa forum ini tetap berjalan sesuai mandatnya, yaitu mendorong perdamaian,” kata dia.
Menurut Sugiono, absennya Indonesia justru berpotensi membuat forum tersebut didominasi kepentingan negara-negara besar. Dengan duduk di dalamnya,
Indonesia mengklaim memiliki ruang untuk menyuarakan posisi konsisten pemerintah: dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.
Langkah diplomasi ini menambah daftar manuver Indonesia di isu Palestina, yang selama ini ditempuh melalui jalur kemanusiaan, resolusi PBB, dan diplomasi nonblok.
Pemerintah menilai Dewan Perdamaian Gaza sebagai kanal tambahan—meski penuh risiko politik—di tengah buntu dan berulangnya kekerasan di wilayah tersebut.
Apakah forum itu benar-benar mampu menekan eskalasi konflik, masih menjadi tanda tanya. Namun bagi Sugiono, berada di luar arena bukan lagi pilihan. “Kalau ingin mempengaruhi, kita harus ada di meja perundingan,” ujarnya.





