Budaya  

WS Rendra Tentang Obat Instan, Kesumpekan, dan Reformasi Nilai

MATRANEWS.id —┬áDalam edisi perdana majalah MATRA, Agustus 1986, ditampilkan wawancara panjang WS Rendra. Pewawancara lima wartawan, termasuk Danarto, Tuti Indra Malaon, dan Ed Zoelverdi.

Salah satu pertanyaannya begini: “Ada orang yang menganggap Rendra sebagai obat instan.

Orang melihat keadaan, lalu kecewa. Mereka menyaksikan Rendra membaca sajak, dan serta-merta terpuaskan. Mereka pulang masing-masing dengan katarsis?”

Rendra menjawab: “Seandainya itu terjadi, ya alhamdulillah.

Saya tidak keberatan. Lho, apa salahnya. Orang yang sumpek mendapatkan katarsis, pas kan?

Tetapi kalau diperkirakan orang-orang yang sumpek penuh frustrasi ini akan menjadi kunci penting bagi reformasi keadaan, ini naif.

Untuk oposisi, untuk reformasi maupun untuk yang bertahan, sumpek dan frustrasi itu tidak menolong, karena kesadaran hilang.

Hubungan interaksi nilai dan kesadaran itu penting. Yang mengeluh tentang kebenaran hubungan interaksi nilai dan kesadaran ini pasti orang politik yang akan bermanipulasi.

Tetapi saya ini orang kebudayaan.

Kerja kebudayaan akan berkabut kalau berurusan dengan orang-orang yang sumpek dan frustrasi.

Saya tidak termasuk orang yang mengeksploitasi orang-orang sumpek dan frustrasi. Kalau saya dianggap dapat mengatasi keadaan yang sumpek dan frustrasi, alhamdulillah.

Syukurlah, syukur. Berarti jalan ke arah reformasi lebih lancar. Karena reformasi yang saya impikan adalah reformasi nilai. Bukan sekedar perubahan kekuasaan.”

#repost FB Imran Hasibuan.

IA BERNYANYI DI DALAM HUJAN
Ia bernyanyi di dalam hujan
dan tak seorang tahu
darimana datangnya.
Tak seorang berani nengok
begitu gaib datangnya.
Dimuntahkan dari angin.
Menggembung dari air gelembung.
Ia bernyanyi di malam hujan
entah darimana datangnya.
Burung lepas ditangiskan.
Tangis domba di perut lembah.
Dan air jeruk menetesi
luka daging baru terbuka.
Empedu! Empedu yang pecah!
jarum terhanyut pada darah.
Dan di mulut terkulum
rasa buah-buah logam.
Ia bernyanyi di malam hujan
penyapnya perlahan
terapung bagai gabus
tergantung di sunyi yang bertanya.
Tak seorang tahu datangnya
mayat kere dijumpa pagi hari
perempuan tua dan buta.
Ia bernyanyi di malam hujan
entah dari mana datangnya.
Telah lebih dulu ia tahu
tentang kepergian dirinya.
-W.S. Rendra, Kisah (November, 1955)

Tinggalkan Balasan