Yang Mulia Dalai Lama Minta Maaf Atas Kejadian Minta Ciuman Lidah

MATRANEWS.id — Foto dan video sebuah klip video seorang anak laki-laki bertanya kepada Yang Mulia Dalai Lama.

Di video tersebut mereka juga tampak bercakap-cakap. Dalai Lama memegang tangan bocah dan menyodorkan bibirnya seolah-olah ingin meminta ciuman.

Dalai Lama lalu mencium bibir bocah tersebut. Ia kemudian menjulurkan lidahnya seolah meminta diisap.

Bocah itu berdiri, sedangkan sang Dalai Lama duduk dan berhadapan dengannya. Awalnya, Dalai Lama memegang wajah bocah itu dan mengerucutkan bibirnya seakan minta dicium.

Menatap ke bawah, bocah itu tampak bingung dengan aksi dari sang biksu Buddha. Dalai Lama memajukan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir bocah itu.

Audiens bertepuk tangan dan tawa menggema di sana.

Bergeming, bocah itu hanya diam sambil menatap sang pemimpin agama dengan gestur malu. Dalai Lama mendekatkan dahinya pada anak itu, seakan ada rasa kasih mendalam yang terjalin untuk si bocah.

Kepala Dalai Lama menjauh dari si bocah, pria berusia 87 tahun itu meminta hal yang mengejutkan. Sambil menjulurkan lidahnya, Dalai Lama melontarkan pertanyaan padanya.

“Bisakah kau menghisap lidahku?” Dalai Lama mengajukan pertanyaan.

Si anak tampak malu dan terus menatap lantai. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, tapi entah kenapa ruangan itu lagi-lagi riuh rendah dengan tepuk tangan dan tawa.

Lagi, pemimpin besar itu menempelkan kepalanya pada si bocah yang sudah salah tingkah. Tatapan kembali diarahkan Dalai Lama untuk bocah kecil itu.

“Bisakah kau menghisap lidahku?” kali ini Dalai Lama tak hanya berucap tapi menggunakan gestur tangan sambil menjulurkan lidah.

Rekaman ini viral pada Senin (10/4). Masyarakat dunia mengecam aksinya dan menuntut adanya hukuman akan apa yang sudah diperbuatnya. Dalai Lama pun mengeluarkan permintaan maaf secara resmi.

Gara-gara itu, viral Yang Mulia ingin meminta maaf kepada bocah itu dan keluarganya, serta banyak temannya di seluruh dunia, atas luka yang mungkin disebabkan oleh kata-katanya.

Dalai Lama menyesali kejadian itu.

Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, meminta maaf. Ini terkait sebuah video viral, di mana ia meminta seorang anak laki-laki mencium bibirnya kemudian menyuruhnya “menyedot lidahnya”.

Tenzin Gyatso adalah Dalai Lama saat ini yang ke-14.

Di video tampak, ketika anak itu mendekati Dalai Lama, dia menunjukkan pipi kanannya agar anak itu memberinya ciuman. Anak itu, tampak tergerak, mencium dan memeluknya.

Setelah itu, pemimpin berbalik dan mereka berhadapan muka. Dengan jari-jarinya dia menunjukkan mulutnya, mengundangnya untuk menciumnya.

Hal ini kemudian menimbulkan riuh di media sosial. Sejumlah kritikan muncul.

Pemimpin agama Buddha Tibet Dalai Lama menyampaikan permintaan maaf usai meminta bocah mengisap lidahnya dan mencium bibir bocah itu di depan publik.

Insiden itu terekam dalam sebuah video berdurasi sekitar dua menit dan beredar di media sosial

Lantas, ada yang satu pertanyaan yang berseliweran, apakah ini salah satu budaya yang mungkin disalahartikan oleh dunia?

Mengutip dari News18, sebuah media India, rupanya ada satu budaya yang sedikit mirip dengan apa yang dilakukan oleh Dalai Lama.

Bukan, bukan budaya menghisap lidah, tapi menjulurkan lidah. Dalam budaya Tibet, menjulurkan lidah adalah bentuk rasa hormat atau salam yang sering dilakukan. Mungkin di beberapa belahan dunia menganggap bahwa hal ini menyalahi etika.

Tak ada asap kalau tak ada api, ada alasan mengapa orang Tibet melakukan ini. Menurut laporan Institut Studi Asia Timur, UC Barkeley, Tibet dipimpin oleh penguasa yang mengerikan pada abad ke-9.

Penguasa itu bernama Lang Darma. Dia digambarkan sebagai raja yang jahat. Raja ini punya satu ciri khas, yaitu memiliki lidah hitam.

Orang Tibet yang beragama Buddha percaya akan adanya reinkarnasi. Mereka khawatir raja jahat itu akan terlahir kembali.

Setelah kematian sang raja, orang Tibet memberi salam dengan cara menjulurkan lidah. Ini membuktikan bahwa mereka tidak memiliki lidah hitam dan bukan reinkarnasi dari Raja Lang Darma.

Sejak itu, kebiasaan ini menjadi salam dan tanda hormat orang Tibet. Jika kamu berkunjung ke Tibet, jangan kaget bisa seseorang menjulurkan lidahnya padamu.

Ia tidak sedang mengejek, tapi memberi salam.

Tinggalkan Balasan

Konvergensi Majalah MATRA | Trend Anda & Peristiwa mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release, content placement, dan iklan. Untuk kerja sama, hubungi: 0816-1945-288