MATRANEWS.id — Simpang Siur Usai, Sepuluh Pahlawan Ditabalkan di Istana
Setelah sempat simpang siur soal jumlah nama—ada yang menyebut 49, lalu mengerucut menjadi 10—Presiden Prabowo Subianto akhirnya resmi memutuskan.
Senin, 10 November 2025, di Istana Negara, Jakarta Pusat, presiden menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh bangsa. Penyematan gelar dilakukan berdasar Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025.
Udara politik yang beberapa pekan terakhir sarat spekulasi, mendadak menemukan kepastian. Para keluarga tokoh berjalan masuk ruang upacara, sebagian dalam balutan putih, sebagian dalam gelap formal.
Ekspresi campur aduk antara sejarah, luka lama, memori politik, dan narasi yang hendak dibuka kembali oleh negara.
Nama Suharto menjadi sorotan paling terang. Mantan Presiden ke-2 RI itu, setelah puluhan tahun ditempatkan dalam berbagai sudut perdebatan, kini secara resmi masuk ke daftar pahlawan nasional.
Gelar itu diterima anaknya, Siti Hardijanti Hastuti Rukmana (Tutut) dan Bambang Trihatmodjo.
Titiek Soeharto dan Didit Hediprasetyo ikut hadir. Pada sudut ruangan, kamera jurnalis dibidikkan lebih lama.
Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga menjadi penerima.
Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid maju ke depan, menerima gelar yang memperkuat jejak Gus Dur sebagai tokoh demokrasi—tokoh yang di hari-hari terakhir dianggap lebih banyak dikenang sebagai pembuka ruang kritik dan empati.
Nama lain, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo—tokoh militer yang tak pernah lepas dari kontroversi sejarah 1965—diterima langsung oleh putranya yang kini menjadi Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
Aura politik lintas zaman terasa hadir fisik di ruangan itu: Soeharto, Gus Dur, Sarwo Edhie — masing-masing dengan sejarah yang saling silang dan saling berkait.
Berikut sepuluh tokoh yang resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini:
1.K.H. Abdurrahman Wahid (Jawa Timur)
2.Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto (Jawa Tengah)
3.Marsinah (Jawa Timur)
4.Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)
5.Hj. Rahmah El Yunusiyyah (Sumatera Barat)
6.Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah)
7.Sultan Muhammad Salahuddin (NTB)
8.Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)
9.Tuan Rondahaim Saragih (Sumatra Utara)
10.Zainal Abidin Syah (Maluku Utara)
Nafas politik hari itu terasa seperti penyetelan ulang narasi sejarah nasional. Negara, secara resmi, kembali masuk ke ruang tafsir masa lalu—dengan keputusan, konsekuensi, kontroversi, dan pembacaan ulang yang tak akan selesai dalam satu hari upacara.
Sejarah, seperti biasa, bukan hanya soal siapa yang dikenang. Tetapi juga siapa yang akhirnya diberi panggung oleh negara. Semesta ingatan kolektif pun kembali bergerak.






