Peter F. Gontha: “Java Jazz Itu Evolusi”

MATRANEWS.idPeter F. Gontha: “Java Jazz Itu Evolusi”

International Java Jazz Festival 2026 (edisi ke-21) akan digelar di NICE (Nusantara International Convention Exhibition) PIK 2, Tangerang, pada 29–31 Mei 2026.

Tahun ini menandai babak baru dengan lokasi lebih luas dan menghadirkan musisi internasional seperti Jon Batiste, wave to earth, Incognito, serta musisi lokal seperti Slank dan RAN.

Suatu siang yang tenang, suara Peter Frans Gontha terdengar ringan—nyaris seperti orang yang sudah selesai dengan banyak hal.

“Sudah, kita ngobrol saja. Tak usah wawancara,” katanya. Kalimat itu terdengar seperti penolakan halus, tetapi juga penegasan: ia tak lagi perlu membuktikan apa pun.

Lahir di Semarang, 4 Mei 1948, Peter F. Gontha tumbuh dalam lanskap yang membentuk dua dunia sekaligus—disiplin industri dan kebebasan musik.

Ayahnya, Victor Willem Gontha, adalah pekerja Shell sekaligus peniup trompet jazz. Dari ruang-ruang latihan band minyak itulah Peter kecil mengenal jazz—musik yang kelak bukan hanya ia cintai, tetapi juga ia institusikan.

Namun perjalanan hidupnya tidak pernah linear.

Ia pernah menjadi awak kapal pesiar Holland-America Line, melintasi Atlantik. Pernah pula menjadi sopir taksi, pelayan restoran, kelasi, hingga pembersih karat kapal.

Di Belanda, ia mendapat beasiswa dari Shell untuk belajar akuntansi. Dari sana, kariernya melesat: Citibank New York, lalu Vice President American Express Bank untuk Asia.

Jejak bisnisnya kemudian menjelma menjadi daftar panjang institusi: Plaza Indonesia Realty, InterContinental Bali Resort, RCTI, SCTV, hingga perusahaan petrokimia seperti Chandra Asri dan Tri Polyta.

PFG juga masuk ke dunia televisi berbayar dan media. Pada era 1990-an, ia dijuluki “Rupert Murdoch Muda Indonesia”—sebuah metafora yang menggambarkan agresivitasnya membangun imperium media.

Julukan lain datang kemudian: “Donald Trump Indonesia”, saat ia tampil sebagai figur sentral dalam The Apprentice Indonesia pada 2005. Ia menjadi simbol kapitalisme televisi—tegas, dingin, dan penuh kontrol.

Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang tak pernah putus: jazz.

Bagi Peter, jazz bukan sekadar musik. Ia adalah nostalgia, identitas, sekaligus warisan. “Saya sebenarnya ingin jadi pemusik seperti ayah,” ujarnya suatu kali. Mimpi itu memang tak sepenuhnya terwujud di panggung, tetapi ia menemukan cara lain: membangun panggung itu sendiri.

Jakarta International Java Jazz Festival adalah manifestasi paling nyata dari cinta itu. Festival ini bukan hanya pertunjukan musik, melainkan proyek budaya—yang menempatkan Indonesia dalam peta jazz dunia.

Kini, memasuki edisi ke-21 pada 2026, Java Jazz bersiap untuk babak baru. Lokasinya berpindah ke kawasan PIK 2, sebuah langkah yang menandai pergeseran strategi sekaligus generasi.

Peter, yang kini menyerahkan pengelolaan kepada Dewi Gontha, tidak sepenuhnya melepas kendali ide. Ia masih menjadi penjaga arah—meski dari kejauhan.

“Java Jazz Itu Evolusi”

Dalam percakapan santai, Peter berbicara tentang perubahan itu dengan nada reflektif.

Perpindahan lokasi ke kawasan baru, menurutnya, bukan sekadar soal ruang, tetapi soal keberanian membaca zaman.

“Festival itu harus hidup. Kalau tidak berubah, dia mati pelan-pelan,” ujarnya.

Keputusan pindah ke kawasan yang lebih dekat bandara bukan tanpa alasan. Ia melihat perubahan pola mobilitas penonton—lebih cepat, lebih global. Java Jazz, dalam visinya, tidak lagi hanya milik Jakarta, tetapi juga milik dunia.

“Kalau orang dari luar negeri datang, mereka mau yang praktis. Dekat bandara, akses mudah, itu penting,” katanya.

Apakah ini strategi untuk menarik penonton internasional? Peter tak menjawab gamblang. Tapi dari caranya berbicara, terlihat bahwa ia membayangkan Java Jazz sebagai destinasi—bukan sekadar acara.

“Penonton Itu Bergerak”

Selama ini, ada anggapan bahwa basis penonton Java Jazz terbagi antara Jakarta Selatan dan Jakarta Utara. Peter tersenyum ketika mendengar itu. “Penonton itu tidak statis. Mereka bergerak,” katanya.

Bagi dia, musik selalu menemukan jalannya sendiri. Lokasi boleh berubah, tetapi pengalaman yang dicari penonton tetap sama: kedekatan, kualitas, dan suasana.
Ia percaya, jika konsepnya kuat, penonton akan mengikuti.

Mundur, tapi Tidak Pergi

Di usia 78-an, Peter Gontha tampak memilih ritme yang berbeda. Ia tidak lagi berada di garis depan, tetapi juga tidak benar-benar pergi.

Ia masih aktif di media sosial, sesekali melontarkan pandangan yang memantik diskusi. Namun ketika diminta wawancara formal, ia memilih menjaga jarak.

Mungkin karena baginya, hidup sudah tidak lagi soal eksposur. Atau mungkin karena, seperti jazz, ia kini lebih menikmati improvisasi—tanpa skenario, tanpa tekanan, tanpa keharusan tampil.

Di ujung percakapan, satu hal terasa jelas: Peter F. Gontha adalah potret langka dari generasi yang menaklukkan banyak dunia, lalu memilih berdamai dengannya. Dan di antara semua itu, jazz tetap menjadi rumahnya.