MATRANEWS.id — “Pariwisata sebagai Kekuatan untuk Kebaikan: Meregenerasi Bali Bersama”
Pekan Ekowisata Meru edisi ke-4 di Sanur menghadirkan sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar agenda tahunan – ia menjadi tonggak reflektif yang menandai arah baru pariwisata Bali sekaligus Indonesia.
Tema “Pariwisata sebagai Kekuatan untuk Kebaikan: Meregenerasi Bali Bersama” mengandung pesan moral yang kuat – pariwisata tidak boleh lagi dipandang sebagai industri ekstraktif yang hanya mengambil keuntungan dari alam dan budaya, melainkan harus menjadi kekuatan regeneratif yang memberi kembali, melindungi, dan memperkaya ekosistem serta komunitas lokal.
Kehadiran Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa gagasan ini bukan sekadar wacana, melainkan agenda nasional yang harus diwujudkan melalui kebijakan, kolaborasi, dan praktik nyata.
Konsep regeneratif yang diusung dalam forum ini melampaui gagasan keberlanjutan yang selama ini hanya berfokus pada pengurangan dampak negatif. Regenerasi berarti menciptakan nilai baru, memperbaiki kerusakan, dan membangun fondasi yang lebih kokoh bagi masa depan.
Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang berdekatan dengan acara ini memperkuat pesan bahwa masa depan pariwisata bergantung pada kesehatan alam, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.
Bali, dengan segala tantangan ekologisnya – mulai dari pengelolaan sampah, tekanan terhadap ekosistem, hingga perubahan iklim – justru berpeluang menjadi laboratorium dunia tentang bagaimana pariwisata dapat meregenerasi kehidupan.
Program yang digelar dalam acara ini, seperti diskusi panel, presentasi bisnis ramah lingkungan, hingga pameran solusi berkelanjutan, menunjukkan keseriusan untuk mengubah ide menjadi implementasi nyata.
Penghargaan Lencana Iklim Ramah Lingkungan bagi hotel dan restoran yang terverifikasi atas praktik berkelanjutan mereka menjadi simbol bahwa standar baru sedang dibangun: keberlanjutan bukan lagi nilai tambah opsional, melainkan fondasi daya saing global.
Pernyataan Rahmi Fajar Harini dan Suzy Hutomo menegaskan bahwa pariwisata regeneratif adalah jalan yang harus ditempuh jika Bali ingin mempertahankan posisinya sebagai destinasi kelas dunia.
Sementara itu, General Manager The Meru Sanur, Ed Brea menjelaskan bahwa keterlibatan The Meru Sanur sebagai tuan rumah adalah bentuk komitmen nyata dalam mendukung
“Kolaborasi yang terus dibangun bersama Eco Tourism Bali diharapkan mampu menciptakan industri pariwisata yang tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga melindungi lingkungan, menjaga warisan budaya, serta memperkuat komunitas local” Ujar Ed Brea.
Selain itu, Ed juga menyoroti posisi kawasan Sanur sebagai bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Wellness yang menunjukkan bagaimana layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, budaya, dan pertumbuhan ekonomi dapat berkembang secara berdampingan dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Pada kesempatan lain Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo, mengatakan Ecotourism Week tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendorong implementasi praktik pariwisata berkelanjutan.
Acara berlangsung 30 sampai 31 Mei 2026.
Pidato Menteri Pariwisata yang menekankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) memperlihatkan perubahan paradigma global.
Investor dan mitra internasional kini menilai destinasi bukan hanya dari keindahan alam atau potensi pasar, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu menjaga bumi dan masyarakatnya.
Dorongan untuk menjadikan ESG sebagai investasi strategis jangka panjang memperlihatkan kesadaran bahwa pariwisata berkelanjutan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan.
Pemerintah pun berusaha menanamkan nilai keberlanjutan melalui langkah konkret seperti pengelolaan sampah di Labuan Bajo, revitalisasi Waterfront City Pangururan di Danau Toba.
Selain itu, juga Gerakan Wisata Bersih yang sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI. Semua ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak bisa dicapai secara parsial, melainkan melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas lokal, dan mitra internasional.
Forum WI-STIF 2026 menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Harapan agar forum ini melahirkan inovasi, kemitraan, dan solusi nyata menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah agenda bersama.
Kehadiran berbagai tokoh dari kementerian, industri, dan pemerintahan daerah menegaskan bahwa ESG bukan hanya slogan, melainkan kompas moral dan strategis yang menuntun Indonesia menuju masa depan pariwisata yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga etis, sehat, dan bertanggung jawab.
Dari Bali, pesan ini bergema: pariwisata harus menjadi wahana pendidikan ekologis dan sosial, bukan sekadar konsumsi.
Pekan Ekowisata Meru edisi ke-4 dengan segala rangkaian acaranya bukan hanya sebuah perayaan, melainkan sebuah deklarasi bahwa Indonesia siap menjadikan pariwisata sebagai kekuatan untuk kebaikan.
Dari sini lahir keyakinan bahwa pariwisata Indonesia dapat berkembang sebagai kekuatan moral dan ekologis yang menjaga bumi, memperkuat budaya, dan menyejahterakan masyarakat.
Bali, dengan segala kompleksitas ekologis dan sosialnya, justru berpeluang menjadi ikon global tentang bagaimana pariwisata dapat meregenerasi kehidupan.
Dengan demikian, pariwisata Indonesia tidak lagi sekadar menjual keindahan, tetapi menghadirkan tanggung jawab generasi: sebuah janji bahwa keindahan alam dan budaya akan tetap lestari, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi dunia.
Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo, juga mengatakan – Ecotourism Week tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendorong implementasi praktik pariwisata berkelanjutan.
“Selama ini kita sering berbicara mengenai ide dan konsep. Melalui forum ini, kami ingin berfokus pada solusi dan implementasi nyata. Berbagai topik penting akan dibahas, mulai dari ESG hingga pariwisata regeneratif melalui keberagaman, operasional berkelanjutan, dan dampak positif bagi komunitas,” ucap Suzy Hutomo.
Mendampingi Menteri Pariwisata dalam kegiatan tersebut antara lain Plt. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani serta Asisten Manajemen Usaha Pariwisata Berkelanjutan Amnu Fuadly.
Turut hadir dalam forum tersebut, General Manager The Meru Sanur Ed Brea, serta Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Tjok Bagus Pemayun. Serta anggota DPD RI Dapil Bali – Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.