Berita  

BNN Pererat Silaturahmi dan Perkuat Sinergi Hadapi Tantangan Bahaya Penyalahgunaan Narkotika

MATRANEWS.id Anjangsana Pejabat BNN ke rumah Kepala BNN Dr Anang Iskandar, yang dikenal sebagai bapaknya rehabilitasi narkoba di Indonesia, untuk pererat silaturahmi dan perkuat sinergi hadapi tantangan bahaya narkotika.

Pintu rumah itu terbuka lebar pada Kamis siang, 11 Juni 2026.

Di sebuah kawasan permukiman di Jatikramat, Jatiasih, Kota Bekasi, sejumlah pejabat tinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) datang membawa satu misi sederhana namun bermakna: menjaga tali silaturahmi sekaligus merawat ingatan institusi.

Rumah yang mereka datangi adalah kediaman Dr. Anang Iskandar, mantan Kepala BNN periode 2012–2015.

Sosok yang pernah berada di garis depan perang melawan narkotika itu menerima rombongan dengan hangat. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab, jauh dari formalitas birokrasi yang kaku.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Anjangsana Kepala BNN RI pada Masanya menjelang peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026.

Program ini dirancang sebagai bentuk penghormatan kepada para pemimpin terdahulu yang telah meletakkan fondasi penting bagi perjalanan lembaga dan upaya pemberantasan narkotika di Indonesia.

Mewakili Kepala BNN RI, hadir Deputi Hukum dan Kerja Sama Agus Irianto, Deputi Pemberdayaan Masyarakat Aldrin M.P. Hutabarat, Kepala Biro SDM dan Organisasi Deni Dharmapala, Inspektur Wilayah III Mangaradja S. Hutagaol, serta Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang Budi Sartono.

Bagi BNN, anjangsana bukan sekadar kunjungan seremonial. Di tengah dinamika peredaran narkotika yang semakin kompleks, pengalaman para pendahulu menjadi sumber pembelajaran yang tak ternilai.

Dari ruang tamu rumah Anang Iskandar, mengalir berbagai cerita tentang masa-masa ketika lembaga itu berjuang memperkuat kewenangan, memperluas jaringan kerja sama, dan menghadapi sindikat narkotika yang terus bertransformasi.

Perbincangan berlangsung hangat. Klik juga: Anjangsana Pejabat BNN ke Rumah Anang Iskandar, Mantan Kabareskrim dan Kepala BNN yang jadi Aktivis, Ada Apa?

Sesekali diselingi tawa saat mengenang berbagai peristiwa selama bertugas. Namun di balik suasana kekeluargaan itu, terselip kesadaran bahwa tantangan yang dihadapi BNN saat ini jauh lebih rumit dibanding satu dekade lalu.

Peredaran narkotika kini bergerak lintas batas negara dengan memanfaatkan teknologi digital, transaksi keuangan modern, hingga jaringan kriminal transnasional yang semakin sulit dilacak.

Situasi tersebut menuntut pendekatan baru yang tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga penguatan pencegahan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor.

Karena itu, BNN memandang penting menyerap pandangan strategis dari para pemimpin sebelumnya.

Pengalaman lapangan, kebijakan yang pernah diterapkan, hingga pelajaran dari berbagai keberhasilan dan hambatan menjadi bekal berharga untuk merumuskan langkah ke depan.

Kegiatan anjangsana ini sekaligus menunjukkan bahwa perang terhadap narkotika adalah perjuangan yang melampaui pergantian kepemimpinan.

Setiap generasi memiliki peran dalam menjaga kesinambungan kebijakan dan memperkuat institusi.

Menjelang HANI 2026, pesan yang ingin disampaikan BNN tampak jelas: perang melawan narkotika bukan hanya soal operasi penindakan atau pengungkapan kasus besar.

Anjangsana ini juga tentang menjaga semangat kolektif, menghormati kontribusi para pendahulu, serta membangun sinergi antargenerasi untuk menghadapi ancaman yang terus berubah.

Di ruang tamu sederhana itu, silaturahmi menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi cara untuk merawat memori institusi sekaligus menyalakan kembali api komitmen dalam menghadapi salah satu ancaman sosial terbesar bangsa.

#WarOnDrugsForHumanity