Diton Fest 2025 Day 1: Masddho dan NDX AKA Buka Festival dengan Ledakan Energi

Diton Fest 2025 (Foto : Otorider/Ilham Pratama)
Diton Fest 2025 (Foto : Otorider/Ilham Pratama)

MATRANEWS.ID – Sejak siang, jalan menuju Museum Purna Bhakti Pertiwi di Jakarta Timur penuh riuh. Suara motor komunitas bergantian melintas, sebagian rombongan Sunday Morning Ride, sebagian lagi sekadar ingin jadi saksi hari pertama Diton Fest 2025, Jakarta (12/9/25).

Di gerbang utama, antrean pengunjung mengular panjang, sebagian memegang tiket pre-sale Rp75.000, sebagian memilih membayar lebih mahal on the spot.

Wajah mereka memancarkan antusiasme: ingin merasakan festival yang katanya memadukan musik, otomotif, seni jalanan, dan gaya hidup urban dalam satu ruang.

Bagi banyak orang, hari pertama Diton Fest bukan sekadar konser.

Ia menjadi ruang temu komunitas.

Ada remaja berkaos hitam datang untuk menyaksikan Masddho dan NDX AKA.

Ada keluarga kecil yang mengajak anak-anak melihat kontes diecast dan Tamiya 4WD.

Ada pula seniman jalanan yang membawa cat semprot untuk berkolaborasi dalam mural besar di dinding festival.

“Ini bukan cuma musik, tapi ruang ekspresi bersama,” kata Bayu, panitia sekaligus perwakilan Diton Spray Paint, sambil menunjuk ke arena mural.

“Semua orang bisa merasakan bagian dari festival, entah lewat suara mesin, warna cat, atau dentuman bass.”

Deru Mesin dan Warna Cat

Siang hari, kawasan Diton Pitstop menjadi magnet. Deru mesin motor modifikasi, aroma bensin, dan gemerlap cat airbrush menarik perhatian pengunjung.

Di satu sisi, stunt rider menampilkan atraksi ekstrem: wheelie panjang, putaran 360 derajat, hingga atraksi asap ban yang membuat penonton menahan napas.

Tepuk tangan membahana setiap kali motor berhenti tepat di titik akhir.

Di area lain, muralis dan seniman graffiti sedang sibuk bekerja.

Dinding putih perlahan dipenuhi warna neon, tulisan besar, dan figur-figur urban.

Ada yang menggambar wajah musisi, ada pula yang menuliskan pesan singkat: “One Love, One Ride.”

Sementara itu, di workshop airbrush, pengunjung bisa mencoba langsung menyemprot helm atau miniatur motor, dipandu oleh seniman cat profesional.

Anak-anak berlarian di zona hobi. Ada yang serius mengadu Tamiya 4WD di lintasan, ada pula yang mencoba pushbike challenge.

Orang tua mereka berfoto sambil tersenyum. Festival ini bukan hanya soal adrenalin, tapi juga soal kebersamaan lintas usia.

Masddho dan Dentuman NDX AKA

Menjelang senja, perhatian publik beralih ke panggung utama. Saat Masddho tampil, suasana mulai memanas.

Penonton bergoyang mengikuti alunan musik, sebagian sudah berteriak menyebut nama NDX AKA.

Pukul 20.00 WIB, sorakan semakin kencang. NDX AKA naik ke panggung, dan ribuan orang langsung bersorak.

Malam itu istimewa: mereka merayakan ulang tahun ke-14, dan memberi hadiah pada penonton dengan 90 menit nonstop performa.

Dari lagu cinta khas hip-hop Jawa hingga nomor penuh energi, semua dibawakan tanpa henti.

“Day 1 Diton Fest 2025 pecahh! 🔥,” tulis seorang penonton di Instagram Stories. “Nonton Masddho live sekaligus anniversary ke-14 NDX AKA, gokil sampe bangun tidur auto pake koyo 😂.”

Lampu ponsel berkelip, ribuan suara bernyanyi bersama. Di bagian VIP, penonton menikmati jarak dekat dengan panggung, sementara di area reguler ribuan orang melompat mengikuti beat.

Malam ditutup dengan pesta kembang api kecil, menegaskan energi yang tak mudah dilupakan.

Tiket, Jadwal, dan Realitas Lapangan

Tiket Diton Fest 2025 terbagi dua kategori: reguler dan VIP. Pre-sale reguler dijual Rp75.000, VIP Rp175.000.

Pada hari H, harga naik menjadi Rp100.000 untuk reguler dan Rp200.000 untuk VIP. Meski begitu, tiket ludes diburu penonton.

Hari pertama dibuka mulai pukul 13.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Antrean panjang sempat membuat sebagian pengunjung mengeluh, terutama soal akses parkir yang padat. Namun, mayoritas penonton menganggap ini hal biasa untuk festival besar.

Selain musik dan otomotif, pengunjung bisa menikmati area marketplace: stan brand otomotif, pameran komunitas, hingga food & beverage yang menawarkan menu khas festival — dari kopi susu dingin, burger, sampai sate taichan.

“Capek antre, tapi worth it. Semua ada di sini, dari musik sampai makanan,” kata Rara, penonton asal Depok.

Ruang Ekspresi dan Identitas Urban

Diton Fest 2025 hadir dengan tema “Satu Festival, Banyak Ekspresi.” Tema ini bukan sekadar slogan.

Di satu sisi, ada dunia otomotif yang memamerkan kecepatan, kreativitas modifikasi, dan kebanggaan komunitas.

Di sisi lain, ada seni mural dan graffiti yang merepresentasikan suara jalanan. Dan tentu saja, musik lintas genre yang mempersatukan semua orang.

Hari pertama menjadi bukti nyata bahwa festival bisa lebih dari sekadar hiburan.

Ia menjadi laboratorium sosial, tempat orang-orang berbeda latar saling berbagi ruang.

Kaum muda menemukan identitasnya dalam musik hip-hop, komunitas motor menemukan kebanggaannya di arena pitstop, seniman jalanan menemukan kanvas luas untuk berekspresi.

Bagi Jakarta, festival seperti ini juga menghidupkan kembali ruang publik.

Museum Purna Bhakti Pertiwi yang biasanya sepi, malam itu menjadi pusat kebisingan kreatif. Kota menemukan denyut baru melalui kombinasi musik, seni, dan mesin.

Masih Ada Dua Hari Lagi

Hari pertama memang pecah, tapi Diton Fest 2025 belum selesai.

  • Day 2 (13 September): Mr. Jono Joni, Endank Soekamti, dan Tony Q Rastafara siap mengguncang dengan musik punk-pop dan reggae.

  • Day 3 (14 September): Ditutup oleh NTRL, For Revenge, Pegawai Musik Sipil, The Angels Percussion, Tuan 13 & Yacko.

Selain line up musik, kegiatan otomotif, lifestyle, dan art tetap berlanjut.

Ada Sunday Morning Ride, Stunt Rider Show, pushbike challenge, hingga marketplace komunitas.

Panitia berharap festival ini bisa menjadi agenda tahunan besar. “Kami ingin Diton Fest jadi titik temu rutin, bukan cuma konser sekali lewat,” ujar perwakilan penyelenggara.

Mesin, Musik, dan Manusia

Hari pertama Diton Fest 2025 memberi pelajaran bahwa sebuah festival bisa melampaui sekat genre.

Ia bisa menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas: motoris dan musisi, seniman jalanan dan penggemar diecast, remaja dan keluarga, semua berbagi energi di tempat yang sama.

Bagi penonton, pengalaman ini bukan hanya soal menonton artis favorit. Ini soal merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar: sebuah perayaan identitas urban.

Jika malam pertama ditutup dengan suara NDX AKA yang memekakkan telinga dan mural berwarna neon, maka esensi festival ini jelas: Diton Fest adalah pesta tiga dimensi — mesin, musik, dan manusia.