MATRANEWS.id — Selain Rojali dan Rohana ada fenomena “BPJS”: Nongkrong Mewah, Kantong Pas-pasan!
Aroma kopi seharga puluhan ribu rupiah menyeruak, bercampur dengan wangi parfum mahal para pengunjung yang lalu lalang.
Namun, di balik kilau kemewahan itu, ada satu fenomena yang justru jadi sorotan warganet: mal makin ramai pengunjung, tapi makin sepi transaksi.
Fenomena ini viral dengan istilah “BPJS” – Bujet Pas-pasan Jiwa Sosialita.
Dari BPJS Lahir “Rombongan-Rombongan Kreatif”
Netizen yang terkenal kreatif langsung melahirkan istilah-istilah satir untuk menggambarkan perilaku pengunjung mal yang lebih suka eksis daripada belanja. Berikut beberapa singkatan yang mencuri perhatian:
1.ROJALI (Rombongan Jarang Beli)
Datang ramai-ramai, tapi belinya jarang sekali. Spot foto lebih penting daripada struk belanja.
2.ROHANA (Rombongan Hanya Nanya)
Paling rajin tanya ukuran, model, bahkan diskon. Tapi ujung-ujungnya: “Makasih, Mbak… liat-liat dulu ya.”
3.ROHALUS (Rombongan Hanya Elus-Elus)
Barang branded disentuh, dipegang, dielus-elus, lalu dikembalikan dengan wajah penuh penghayatan—seakan sudah puas tanpa membeli.
4.ROHALI (Rombongan Hanya Lihat-lihat)
Mengitari mal dengan santai, tatapan penuh pengetahuan fashion, tapi tangan tetap kosong.
5.ROCEGA (Rombongan Cek Harga)
Melihat label harga jadi hiburan tersendiri. Setelah tahu nominalnya, ekspresi antara kaget, pura-pura tenang, atau langsung geser ke rak lain.
6.ROMANSA (Rombongan Manis Senyum Aja)
Masuk ke butik, senyum manis ke SPG, lalu keluar tanpa transaksi. Senyum adalah investasi!
7.ROTASI (Rombongan Tanpa Transaksi)
Keliling satu lantai penuh, tapi pulang hanya bawa struk parkir.
8.ROSALI (Rombongan Suka Selfie)
Pusat perhatian bukan etalase, melainkan cermin besar dan spot estetik. Mall jadi studio foto gratis.
9.ROCADOH (Rombongan Cari Jodoh)
Datang ke mal bukan untuk belanja, tapi untuk “cuci mata manusia”. Siapa tahu ketemu si dia.
10.ROCUTA (Rombongan Cuci Mata)
Berjalan penuh percaya diri sambil lihat-lihat, cukup dengan modal parkir motor dan sebotol air minum sendiri.
11.ROMUSA (Rombongan Muka Susah Aja)
Masuk mal dengan wajah penuh beban hidup, keluar tetap sama. Tidak ada transaksi, hanya perjalanan melamun.
Antara Lucu dan Satir
Komentar netizen pun tak kalah kocak:
“Gue banget! Ke mal pulang cuma bawa struk parkir.”
“Yang penting ada konten, saldo belakangan.”
“Kalau bisa selfie sama SPG, itu bonus.”
Namun di balik kelucuan, ada sindiran sosial. Tekanan untuk terlihat “in” di media sosial membuat sebagian orang rela berjam-jam di mal tanpa transaksi.
Mal, dari Pusat Belanja ke Panggung Gaya Hidup
Sosiolog menilai fenomena ini bukan sekadar gengsi. Mal kini berfungsi sebagai ruang sosial kelas menengah urban: tempat nongkrong, arena eksistensi, hingga latar konten Instagram.
Belanja bukan lagi tujuan utama. Yang lebih penting adalah pengalaman, interaksi, dan tentu saja: postingan estetik.
Jadi, Anda Tim Mana?
Apakah Anda tim ROJALI yang jarang beli, tim ROSALI yang sibuk selfie, atau diam-diam tim “belanja beneran” yang tak pernah upload story?
Satu hal pasti: mal bukan lagi sekadar tempat transaksi, tapi cermin gaya hidup kota besar—antara realita dompet dan fantasi sosial media.

sumber: Fenomena BPJS di Mal Jakarta, Yakni Bujet Pas-pasan Jiwa Sosialita – Harian Kami








