BudayaPolitikTokoh

Hendardji Soepandji: “Inilah Era Digital Culture.”

Internet, Jurnalisme Mau Tidak Mau Ikut Bertransformasi.

Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."Dalam acara budaya, Hendardji dan S.S Budi (Ketua Umum Pimpinan Media Digital) terlihat asyik berbicara dunia digital dan kebudayaan.
1.62K

Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."

MATRANEWS.id — Sebagai tokoh militer, Hendardji Soepandji menyebut internet dan revolusi jurnalisme dalam skema yang lebih luas.

Ketua Pawon Semar, Hendardji Soepandji itu bercerita dalam referensinya, bahwa revolusi itu dimulai tahun 1969. Ketika itu, ARPA (Advanced Research Project Agency) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969 memulai proyek ARPANET (Advanced Research Project Agency Network).

Hendarji bercerita dibalik ARPANET, yang berusaha menghubungkan komputer-komputer dalam satu jaringan. Itulah yang disebut dengan internet.

Hendardji mengingatkan, internet adalah sebuah desain sistem yang telah merevolusi komunikasi dan metode perdagangan dengan memungkinkan berbagai jaringan komputer di seluruh dunia saling terhubung.

Disebutkan lagi, meski sudah hadir di Amerika sekitar tahun 1970-an, tetapi internet nanti dikonsumsi publik mulai sekitar tahun 1990-an. Pada awal abad ke-21, sekitar 360 juta orang, atau sekitar 6 persen dari populasi dunia, diperkirakan memiliki akses ke Internet.

Hendardji mengatakan, Indonesia sudah mulai bagus jaringan internetnya.

Media lama yang berbasis cetak, seperti koran, majalah, tabloid atau juga media elektronik satu arah, seperti televisi dan radio perlahan sedang direvolusi oleh internet. Media lama tak akan pernah punah, namun ia akan berusaha menyesuaikan diri dengan semakin akrabnya orang dengan internet.

“Inilah era digital culture,” ujar Hendardji, berbicara era di mana orang-orang semakin terbiasa dan bahkan sedang membentuk kebudayaan mereka yang berbasis digital.

Berita Menarik :  Gelaran Menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2019

Pria kelahiran Semarang, 10 Februari 1952 ini menegaskan, dengan internet, jurnalisme mau tidak mau ikut bertransformasi.

Sosok berbintang Aquarius ini menjelaskan, istilah jurnalisme sudah meliputi proses koleksi, persiapan dan distribusi berita dan komentar secara digital dan online.

Masih menurut Hendardji, setelah era cetak, dengan munculnya radio, televisi, dan internet di abad ke-20 penggunaan istilah ini diperluas mencakup semua kerja jurnalistik yang berbasis cetak dan termasuk komunikasi elektronik (internet).

Paradigma Jurnalisme Digital, di era digital ini meski masih ada yang merasa sebagai yang resmi atau sah disebut ‘media’ dan ‘jurnalis’, namun kenyataannya bahwa pengumpul, penulis dan penyebar ‘berita’ tidak lagi hanya oleh media atau jurnalis “resmi” itu.

Hendardji mengatakan, dengan blog, media sosial lainnya, macam Facebook, setiap orang dapat melakukan kerja seperti yang dilakukan oleh media dan jurnalis resmi.

Revolusi internet adalah lahirnya masyarakat digital, masyarakat yang berbudaya digital. Salah satu cirinya, masyarakat ini bisa mengakses informasi atau juga bisa memproduksi berita dari mana saja, dengan perangkat-perangkat komunikasi canggih.

“Informastion Overload” atau “banjir informasi” untuk menunjuk pada gejala saling silang tidak karuannya informasi di media digital,” ujar Hendardji.

Maka, persoalannya ini membawa dampak pada hak publik mengkonsumsi informasi. Ini soal bagaimana mendapatkan informasi yang benar atau bagaimana mengetahui kebenaran.

Suami dari dr. Ratna Rosita, MPHM ini mengatakan, semua pihak harus punya sikap untuk menyaring informasi. Namun sejauh manakah kemampuan kita dalam menyaring dan menerima informasi yang tersedia.

Berita Menarik :  Tubuh Melar Tapi Segar

Hendardji menegaskan, keberlimpahan arus informasi tentu juga membutuhkan saringan yang juga baik saat menampungnya, karena tidak semua informasi tersebut adalah benar dan baik.

“Kita harus mampu membedakan mana informasi yang dapat di kategorikan sebagai berita, referensi data, opini, dan kebohongan atau yang sering di sebut dengan hoax,” paparnya kepada S.S Budi Rahardjo, Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia, yang juga Pemred Matra dan CEO majalah eksekutif.

Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture." Matra

Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."

Hendardji Soepandji: "Inilah Era Digital Culture."
asdff

Hendardji mengatakan, dengan blog, media sosial lainnya, macam Facebook, setiap orang dapat melakukan kerja seperti yang dilakukan oleh media dan jurnalis resmi.

Konvergensi Majalah MATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »