MATRANEWS.id — “Jeruk Kasturi dan Madu”: Kesaksian Seorang Dokter Penyakit Dalam yang Tak Pernah Dilupakannya
- Catatan Pinggir: Ahwil Lutan SH, MH (pemred Majalah HealthNews)
Dalam dunia kedokteran, bukti ilmiah selalu menjadi landasan utama pengobatan. Namun, tidak sedikit dokter yang juga memiliki pengalaman pribadi yang membekas sepanjang hidupnya. Salah satunya dialami dr. Buchari MST, Sp.PD, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga sebagai teman semasa SMA saya.
Pengalaman yang diceritakan ini bukan dimaksudkan sebagai pengganti terapi medis, melainkan sebuah kisah yang menurutnya layak dibagikan sebagai inspirasi.
Penyumbatan Mencapai 99 Persen
Dr. Buchari mengaku pernah menghadapi masalah serius pada pembuluh darah jantungnya.
Beberapa tahun lalu, ia telah menjalani tindakan pemasangan ring (stent) akibat penyumbatan pembuluh darah koroner. Namun, dalam pemeriksaan lanjutan menggunakan CT Scan Coronary Angiography, hasilnya kembali mengejutkan.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan penyumbatan mencapai sekitar 99 persen. Saat itu saya kembali dianjurkan menjalani pemasangan ring,” kenangnya.
Sebagai seorang dokter, ia memahami betul risiko yang dihadapi bila penyumbatan benar-benar sebesar itu.
Sebuah Saran dari Teman Lama
Di tengah kegelisahan menghadapi keputusan medis tersebut, ia teringat percakapan dengan sahabat lamanya, Jenderal Ahwil Loetan.
Kala itu, saya menyarankan sesuatu yang sangat sederhana. “Coba minum air jeruk kasturi (songkit) dicampur madu secara rutin.”
Menurut dr. Buchari, saran itu bukan disampaikan sebagai terapi medis resmi, melainkan sebagai ikhtiar tambahan untuk menjaga kesehatan.
Ia kemudian mengonsumsi campuran air jeruk kasturi dan madu secara rutin, sembari tetap berada dalam pengawasan dokter dan tidak menghentikan pengobatan yang telah dianjurkan.
Hasil yang Membuatnya Bersyukur
Beberapa waktu kemudian, dr. Buchari menjalani pemeriksaan cardiac catheterization (kateterisasi jantung). Dan hasilnya, membuat dirinya terkejut.
Menurut kesaksiannya, dalam tiga minggu rajin minuman songkit menjadikan penyumbatan yang sebelumnya disebut mencapai 99 persen tidak lagi ditemukan sehingga tindakan pemasangan ring tidak jadi dilakukan.
“Alhamdulillah, saat dilakukan cath ternyata pembuluh darah sudah bersih,” tuturnya.
Bagi dr. Buchari, pengalaman tersebut merupakan karunia Allah SWT yang tidak pernah ia lupakan.
Ia menegaskan bahwa kisahnya adalah pengalaman pribadi, bukan bukti ilmiah bahwa jeruk kasturi dapat menyembuhkan penyumbatan pembuluh darah.
Apa Kata Ilmu Pengetahuan?
Secara ilmiah, jeruk kasturi (songkit) memang dikenal sebagai buah yang kaya nutrisi. Beberapa riset juga menunjukkan bahwa ekstrak jeruk kasturi memiliki efek antibakteri.
Di dalamnya terdapat: vitamin C, serat vitamin A, vitamin B kompleks, kalium, fosfor, kalsium, zat besi,
senyawa antioksidan seperti flavonoid, polifenol, karotenoid, lutein, zeaxanthin, dan asam sitrat.
Membantu meningkatkan daya tahan tubuh; berkontribusi dalam menjaga kadar kolesterol tetap terkendali sebagai bagian dari pola makan sehat; membantu mengontrol kadar gula darah karena memiliki indeks glikemik yang rendah; merangsang pembentukan kolagen melalui kandungan vitamin C; membantu mencegah pembentukan batu ginjal pada sebagian orang melalui kandungan asam sitrat; mengandung antioksidan yang membantu melawan stres oksidatif.
Memang, hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat bahwa konsumsi jeruk kasturi, baik sendiri maupun dicampur madu, dapat membersihkan penyumbatan pembuluh darah koroner atau menggantikan tindakan medis seperti pemasangan stent.
Penanganan penyakit jantung koroner tetap harus mengikuti evaluasi dan rekomendasi dokter spesialis jantung.
Tetap Bijak Mengonsumsinya
Meski bermanfaat, jeruk kasturi (songkit) juga tidak dianjurkan dikonsumsi secara berlebihan.
Kandungan asam sitrat yang tinggi dapat menyebabkan: iritasi lambung; sakit perut atau diare; meningkatkan beban kerja ginjal pada orang yang memiliki gangguan fungsi ginjal.
Karena itu, konsumsi secukupnya tetap menjadi pilihan terbaik.
Ikhtiar, Gaya Hidup, dan Pengobatan Tetap Berjalan Bersama
Bagi dr. Buchari, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa menjaga kesehatan tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga disiplin menjalani pola hidup sehat, menjaga pola makan, mengelola stres, serta tidak meninggalkan ikhtiar dan doa.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap pasien memiliki perjalanan yang berbeda. Testimoni pribadi dapat menjadi inspirasi, tetapi keputusan pengobatan tetap harus didasarkan pada pemeriksaan medis, bukti ilmiah, dan konsultasi dengan dokter yang merawat.
“Pengalaman saya adalah bentuk rasa syukur. Saya membagikannya bukan untuk menggantikan pengobatan medis, tetapi sebagai cerita bahwa ikhtiar, doa, dan menjaga pola hidup sehat selalu memiliki tempat dalam perjalanan seseorang menghadapi penyakit,” tutup dr. Buchari.







