MATRANEWS.id — Visi Maritim untuk Melahirkan Imperium Biru Nusantara: Mengembalikan Jiwa Djuanda
“Bahwa segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau… adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan negara Republik Indonesia.”
— Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957
Pada suatu hari yang dingin di bulan Desember 1957, seorang insinyur sipil dari Bandung, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, menulis sejarah dengan pena dan keberanian.
Di tengah kecaman dan cemooh dari kekuatan global, Djuanda menyatakan bahwa laut Indonesia bukanlah lautan terbuka, melainkan satu kesatuan wilayah nasional.
Pernyataan itu, yang saat itu dianggap utopis, kini telah menjadi arsitektur hukum laut dunia.
67 tahun kemudian, visi Djuanda bukan hanya diakui dunia melalui UNCLOS 1982, tetapi menjelma sebagai tulang punggung strategi ekonomi masa depan: Imperium Biru Nusantara.
Dari Kertas Menjadi Imperium: Transformasi Visi Djuanda
Sebelum 1957, Indonesia secara de jure adalah negara terpecah-pecah. Wilayah laut antar pulau dianggap perairan internasional.
Artinya, kapal asing bisa melintas antara Jawa dan Kalimantan tanpa izin. Kedaulatan laut nyaris nihil.
Deklarasi Djuanda mengubah semuanya. Melalui UU No. 4/PRP/1960, wilayah Indonesia bertambah menjadi 5,19 juta km², menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terpadu.
Tapi lebih dari sekadar peta, yang diwariskan Djuanda adalah paradigma: Indonesia adalah negara maritim, bukan negara dengan laut.
Ekonomi Biru: Menyatu dalam Air, Bersatu untuk Kemakmuran
Menurut proyeksi Bappenas, potensi ekonomi biru Indonesia mencapai USD 7,4–9,8 triliun pada 2045.
Lima klaster strategis yang membentuk imperium ini:
1.Kompleks Industri Maritim – USD 485 miliar
Galangan kapal, logistik laut, pengolahan hasil laut—simbol industrialisasi maritim modern.
2.Zona Strategis ALKI – USD 320 miliar
Dari jalur pelayaran menjadi urat nadi ekonomi dan diplomasi.
3.Ekonomi Karbon Biru – USD 240 miliar
Mangrove, lamun, dan karang bukan sekadar pelestarian, tapi juga kontribusi pada target iklim global.
4.Ekosistem Maritim Digital – USD 180 miliar
Digitalisasi pelabuhan, blue fintech, hingga smart fisheries.
5.Pusat Energi Hijau Maritim – USD 125 miliar
OTEC, arus laut, angin lepas pantai—laut sebagai sumber energi berkelanjutan.
Kelima klaster ini bukan sekadar angka. Ia adalah bentuk baru dari Bhinneka Tunggal Ika: keragaman potensi yang disatukan dalam visi maritim yang utuh.
Negara-negara yang dulu menolak Deklarasi Djuanda kini meniru semangatnya.
-China melesat dengan One Belt One Road, menjadikan laut sebagai jalan tol globalisasi.
-Norwegia dengan blå innovasjon menjadi pusat teknologi kelautan dunia.
-Singapura, tanpa laut yang luas, menjadi pusat logistik maritim global lewat regulasi dan efisiensi.
-Indonesia punya laut, punya sejarah, dan punya posisi strategis. Tapi justru ironinya, tingkat pemanfaatan laut kita baru 7,5–20 persen. Kita bagaikan punya lumbung, tapi tetap lapar.
Tiga Masalah Utama:
1.Silo Mentality
Koordinasi antar-kementerian minim. Sektor maritim dikelola tanpa orkestrasi.
2.Kekosongan Kepemimpinan Teknokratik
Pakar maritim tak diberi ruang. Sektor vital dikuasai oleh non-spesialis.
3. Eksekusi Lemah
Banyak rencana hebat mati di meja birokrasi. Realisasi jauh dari proyeksi.
Visi Djuanda, Bukan Hanya untuk Indonesia
Dalam filosofi India, Vasudhaiva Kutumbakam berarti seluruh dunia adalah satu keluarga.
Ekonomi biru Indonesia bukan hanya untuk kemakmuran nasional, tetapi juga kontribusi pada stabilitas maritim dunia.
Seperti dulu Djuanda memperjuangkan konsep archipelagic state demi keadilan hukum laut internasional, kini Indonesia berpeluang menjadi thought leader dalam tata kelola ekonomi biru global.
Menuju Imperium Biru Nusantara: Lima Arah Kebijakan
1.Kembalikan Jiwa Djuanda
Indonesia harus menghidupkan kembali semangat pionir yang visioner dan progresif.
2.Bangun Orkestra Maritim Nasional
Bentuk badan otorita lintas sektor maritim di bawah Presiden.
3.Prioritaskan Teknokrat Maritim
Tempatkan pakar maritim di posisi strategis, bukan sekadar jabatan politis.
4.Dorong Blue Diplomacy
Jadikan laut sebagai alat diplomasi dan perdamaian, bukan medan konflik.
5.Investasi dalam Pendidikan Maritim
Dari madrasah hingga politeknik—didik generasi baru dengan mental pelaut dan teknologi tinggi.
Menjadi Kaisar Imperium Biru
Djuanda memenangkan peperangan tanpa meriam. Ia membuktikan bahwa visi besar, ditopang diplomasi gigih dan eksekusi presisi, bisa mengubah sejarah.
Sekarang, giliran generasi ini. Kita tidak boleh puas hanya menjadi penjaga laut, kita harus mengelola laut. Bukan sebagai mafia, tapi sebagai kaisar bijak dalam imperium biru yang kita warisi.
Indonesia telah mendapatkan lautnya kembali. Kini waktunya membuktikan, bahwa kita pantas menjadi pemimpin samudra dunia. Dari jiwa Djuanda, kita bangun Imperium Biru Nusantara.
“Datan serik lamun ketaman.”
— Ajaran Jawa: Jangan menyerah meski tertimpa cobaan.
Seperti Djuanda, kita pun harus terus melaju.
- Nama Lengkap: Ir. H. Djuanda Kartawidjaja
- Lahir: 14 Januari 1911 di Tasikmalaya, Jawa Barat
- Meninggal: 7 November 1963
- Pekerjaan: Insinyur, politikus, dan negarawan
- Jabatan: Perdana Menteri Indonesia ke-10 dan terakhir
- Dikenal: Pencetus Deklarasi Djuanda dan tokoh nasional








