DILEMA UTANG AMERIKA SERIKAT DAN MASA DEPAN KEPERCAYAAN GLOBAL: SAATNYA MENGGAGAS SISTEM KEUANGAN BARU
Oleh: Peter F. Gontha
Amerika Serikat selama ini menjadi jangkar sistem keuangan global, berkat dominasi dolar AS, likuiditas pasar modalnya yang dalam, serta kepercayaan besar yang diberikan pada institusi-institusinya. Namun, lonjakan utang federal yang kini melebihi $34 triliun serta meningkatnya volatilitas politik di dalam negeri menggerus fondasi kepercayaan tersebut.
Dunia kini menghadapi kenyataan pahit: arsitektur keuangan global yang ada tidak lagi berkelanjutan.
Jika suatu hari pemerintahan AS mempertanyakan kembali kewajibannya sebagai negara berdaulat, kredibilitas seluruh sistem bisa runtuh.
Kini saatnya dunia memulai dialog keuangan internasional baru—yang tidak lagi menganggap dominasi AS sebagai sesuatu yang tak tergoyahkan.
I. Dolar Tak Lagi Anak Emas
Selama lebih dari tujuh dekade, dolar AS menjadi mata uang cadangan dunia. Investor, bank sentral, dan pemerintahan di berbagai benua menjadikan surat utang negara AS (Treasury Bonds) sebagai instrumen “safe haven” utama—memungkinkan Amerika berutang murah dan terus menjalankan defisit fiskal. Namun, privilegi ini datang dengan tanggung jawab besar—yang kini semakin diabaikan.
Kebijakan fiskal AS kini tak lagi berkelanjutan, tanpa jalur yang jelas menuju stabilisasi utang. Pembayaran bunga tahunan kini melampaui $1 triliun, menyisihkan alokasi untuk investasi produktif dan mengancam stabilitas makroekonomi.
II. Utang yang Tak Diakui
Konsensus diam-diam di kalangan analis, lembaga pemeringkat, dan pembuat kebijakan sangat mengkhawatirkan: semua tahu utang AS tak akan pernah benar-benar dibayar. Solusinya hanyalah menunda, menggulung utang lama dengan utang baru, atau menyusutkan nilainya lewat inflasi.
Walau lembaga seperti Moody’s masih memberikan peringkat tinggi pada surat utang AS, dasar dari penilaian ini kini lebih bertumpu pada asumsi geopolitik ketimbang fundamental ekonomi.
Sistem ini kini hanya bertumpu pada inertia (keengganan berubah), ketergantungan pada dolar, dan rasa takut terhadap ketidakpastian.
III. Risiko Politik di Jantung Sistem
Munculnya politik populis di AS memperkenalkan jenis risiko baru yang lebih sistemik.
Mantan Presiden Donald Trump—yang diprediksi akan kembali mendominasi dalam pemilu 2024 dan 2028—telah menunjukkan kecenderungan untuk memperlakukan utang, aliansi, dan kewajiban internasional sebagai alat tawar-menawar.
Jika suatu saat Amerika Serikat mengancam akan menunda atau merundingkan ulang kewajiban utangnya demi “kepentingan nasional”, kepercayaan global bisa runtuh seketika.
Sekali saja “full faith and credit” AS dipertanyakan, efek domino dalam sistem keuangan global akan sangat cepat dan destruktif.
IV. Ketergantungan Dunia, Kerentanan Strategis
Baik negara berkembang maupun maju masih sangat tergantung pada kebijakan AS. Cadangan devisa dunia masih didominasi dolar. Harga minyak, emas, dan perdagangan internasional masih menggunakan dolar. Sistem pembayaran dunia pun masih dijalankan melalui institusi-institusi yang berbasis di AS seperti SWIFT dan Fedwire.
Secara efektif, ekonomi global disandera oleh kebijakan domestik Amerika Serikat.
V. Menuju Sistem Baru: Harapan dan Tanggung Jawab Bersama
Saya tetap yakin bahwa Amerika—rumah bagi banyak pemikir brilian, teknologi canggih, dan institusi inovatif—pada akhirnya akan menemukan jalan keluar. Mungkin melalui digital dollar, sistem blockchain nasional, atau bahkan infrastruktur keuangan baru sepenuhnya.
Namun, dunia tidak boleh hanya menunggu.
Tantangan ini bukan soal konfrontasi, tapi soal koordinasi. Diskusi harus dimulai sekarang—bukan karena panik, tapi karena bijak. Dunia layak mendapatkan sistem keuangan yang modern, inklusif, dan tahan guncangan—bukan sistem yang terus bergantung pada asumsi usang dan ketidakpastian politik.
Saatnya telah tiba.
Catatan Penulis
Artikel ini ditulis sebagai ajakan untuk memulai dialog kebijakan lintas negara. Sebagai warga Indonesia dan pengamat internasional, saya mendorong transisi damai dan pragmatis menuju sistem keuangan global yang lebih seimbang—yang melindungi negara-negara dari ekstremisme fiskal, risiko hegemoni, dan potensi runtuhnya sistem.
Sebagai mantan bankir dan seseorang dengan pemahaman dasar teori ekonomi, saya tidak mengklaim diri sebagai doktor atau profesor ekonomi. Apa yang saya sampaikan bukanlah makalah akademik, tetapi refleksi dari pengalaman, pengamatan, dan keprihatinan.
Tulisan ini adalah kontribusi—mungkin tidak sempurna—namun dimaksudkan untuk menyalakan pemikiran dan mendorong tindakan yang lebih bertanggung jawab demi masa depan keuangan dunia.
Peter F. Gontha
Jakarta, 20 Mei 2025
“THE NATIONAL HERALD – OBOR KEBANGGAAN, KEMAJUAN, DAN PERSATUAN, MENGUSUNG SEMANGAT BANGSA DI PANGGUNG GLOBAL”








