MATRANEWS.id — Rakernas Blazer Indonesia Club: Konsolidasi, Solidaritas, dan Kesiapsiagaan

Yogyakarta — Di sebuah hotel di jantung Kota Gudeg, deretan pria dengan jaket klub berlogo khas tampak hilir mudik sejak pagi Sabtu, 13 Desember 2025.
Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, membawa satu kepentingan bersama: masa depan Blazer Indonesia Club.
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Blazer Indonesia Club (BIC) 2025 digelar di Ros In Hotel, Yogyakarta.
Forum tahunan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi otomotif, melainkan ruang konsolidasi—tempat arah, sikap, dan komitmen klub dirumuskan kembali.
Ketua pelaksana Rakernas, Arka dari Rayon Bali, bersama panitia lokal Paul Susanto dari Rayon Jogja, memastikan forum berjalan rapi, cair, dan produktif.
Rakernas dihadiri jajaran pengurus pusat, perwakilan pengurus daerah, serta undangan dari berbagai rayon.
Diskusi berlangsung intens, kadang hangat, namun tetap dalam suasana kekeluargaan yang menjadi ciri khas komunitas otomotif berbasis hobi ini.
Ketua Umum Blazer Indonesia Club, Rasim Rusdianto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya Rakernas sebagai jangkar organisasi.
“Ini momentum untuk menjaga soliditas, menyelaraskan visi, dan memastikan BIC tetap relevan—bukan hanya di dunia otomotif, tapi juga dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Menurut Rasim, kekompakan internal menjadi modal utama agar setiap program tidak berhenti sebagai agenda di atas kertas.
Agenda Rakernas meliputi evaluasi program kerja tahun berjalan, penyusunan dan pengesahan agenda ke depan, serta pembahasan isu-isu strategis organisasi.
Namun di luar itu, Rakernas juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi—tempat ide bertukar dan identitas komunitas diperteguh lintas daerah.
Isu yang mengemuka bukan hanya soal kegiatan touring atau pengembangan klub, melainkan juga peran sosial.
Di sela-sela agenda Rakernas, anggota Dewan Pengawas Organisasi BIC, Dody Kusuma, menyampaikan pengingat yang nadanya lebih serius.
Dody yang merupakan influenser ternama, menyinggung kondisi alam yang “tidak baik-baik saja” serta meningkatnya peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.
Menurut Dody, BIC tak bisa memisahkan diri dari realitas kebencanaan yang kian sering terjadi.
Pengusaha dan coach ini mendorong anggota untuk kembali aktif dalam kepedulian sosial, bukan hanya melalui kegiatan simbolik seperti penanaman mangrove atau penghijauan, tetapi juga kesiapan terjun langsung saat bencana terjadi.
“Mobil-mobil Blazer yang besar dan telah dimodifikasi itu bisa menjadi alat evakuasi, sarana bantuan, dan bagian dari respons cepat di lapangan,” ujarnya.
Pesan itu memperluas makna keberadaan klub. BIC diposisikan bukan semata sebagai komunitas pecinta kendaraan, melainkan sebagai elemen masyarakat yang siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mitigasi dampak bencana—terutama yang bersumber dari kerusakan lingkungan.
Rakernas 2025 pun menegaskan kembali arah Blazer Indonesia Club: tumbuh sebagai organisasi yang solid, profesional, dan berdaya guna.
Di tengah hobi otomotif yang kerap dipandang eksklusif, BIC berusaha menanamkan peran sosial sebagai bagian dari identitasnya.
Blazer Indonesia Club sendiri berdiri sebagai wadah silaturahmi para pecinta dan pengguna kendaraan Blazer di Indonesia.
Selain berbagi pengetahuan otomotif, klub ini aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Rakernas Yogyakarta menjadi penanda bahwa komunitas ini tidak hanya memikirkan perjalanan di jalan raya, tetapi juga tanggung jawab di persimpangan sosial dan lingkungan.









