MATRANEWS.id — Di sudut riuh perempatan Polonia Jakarta Timur, tepat di seberang Otista 78, aroma kuah gurih mengepul dari sebuah kedai sederhana bernama Soto Betawi dan Mie Ayam Mami Ia.
Tak ada papan reklame mencolok, tak pula dekorasi yang dibuat-buat. Namun menjelang jam makan siang, kursi-kursi plastiknya lekas terisi. Orang datang bukan untuk swafoto, melainkan untuk seporsi kehangatan.
Siang itu, tanpa rencana, kami singgah. Di meja sudah tersaji kudapan ringan dan sepiring asinan—pembuka yang segar, dengan kuah cuka manis yang menampar lembut lidah.
Tapi bintang utamanya segera datang: semangkuk soto Betawi dengan kuah susu santan berwarna gading, berkilau tipis oleh minyak yang menandakan kaldu matang lama.
Potongan dagingnya empuk, tak alot, dengan jejak rasa rempah yang terasa bersih—bukan sekadar gurih, melainkan dalam.
Kuahnya tidak terlampau berat, namun cukup pekat untuk membuat sendok berikutnya terasa perlu. Emping yang diremukkan menambah tekstur, sementara perasan jeruk nipis menghadirkan kontras asam yang menyegarkan.
Di sisi lain meja, mie ayamnya tak kalah bersaing. Helai mie kenyal dengan tingkat kematangan pas, diselimuti minyak ayam yang harum. Potongan ayamnya manis-gurih, dengan bumbu meresap hingga ke serat.
Kuah kaldu beningnya ringan, tapi justru di situ kekuatannya: ia tak mendominasi, hanya menguatkan.
Tak ada seremoni khusus dalam kunjungan ini. Kami datang tanpa pemberitahuan, tanpa undangan, tanpa traktiran.
Ulasan ini lahir spontan, dari kesan pertama yang jujur. Bukan promosi—sekadar pengakuan bahwa rasa memang tak bisa disangkal.
Di tengah maraknya kedai yang berlomba tampil estetik, Soto Betawi dan Mie Ayam Mami Ia memilih setia pada yang mendasar: rasa.
Dan barangkali, di situlah letak kekuatannya. Di perempatan yang sibuk itu, semangkuk soto dan seporsi mie ayam menjadi jeda—sederhana, tapi mengesankan.








