MATRANEWS.ID – Publik sering menegaskan kejujuran sebagai nilai moral utama. Namun kenyataannya banyak orang menghadapi dilema antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan.
Para pakar psikologi menyebut fenomena ini sebagai kemunafikan: adanya ketidaksesuaian antara prinsip diri dan tindakan nyata.
Menurut psikolog Steven Stosny, “kita semua setidaknya agak munafik” karena mudah menuntut pertanggungjawaban orang lain sambil mengabaikan kekurangan sendiri [Psychology Today].
Konsep ini berakar kuat dalam kebutuhan menjaga citra diri (impression management) – perilaku yang dikendalikan agar orang lain menilai kita positif.
Bahkan disebutkan sebagai “eufemisme untuk penipuan”, karena kita sering menampilkan diri berbeda dari kenyataan demi diterima lingkungan sosial [Psychology Today].
Penelitian sosial juga menunjukkan latar budaya memengaruhi cara orang memandang kemunafikan.
Dalam sebuah studi lintas budaya, perilaku “katanya satu hal tapi melakukan yang lain” lebih dikutuk di masyarakat Barat (independent) dibanding masyarakat Asia termasuk Indonesia (interdependent) [UI Psikologi].
Artinya, di Indonesia atau negara Asia lain, ketidaksesuaian antara kata-kata dan perbuatan cenderung dianggap kurang fatal.
Dengan kata lain, norma sosial dan solidaritas kolektif membuat orang lebih mudah memaafkan atau mengabaikan perilaku munafik.
Hipokrisi dan Tekanan Sosial
Tekanan sosial mendorong banyak orang untuk bersikap seolah mereka sepakat dengan pendapat umum, padahal dalam hati mungkin berbeda.
Psikologi menyebut fenomena ini pluralistic ignorance: anggapan keliru bahwa “orang lain sepakat” sehingga kita memilih untuk menyetujui supaya tidak dianggap aneh [Simply Psychology].
Misalnya, dalam obrolan kelompok, kita mungkin tersenyum setuju dengan pendapat teman-teman demi menjaga hubungan, padahal sebenarnya punya pendapat berbeda.
Keheningan atau senyum itu seringkali bukan karena setuju, melainkan dari ketakutan akan dikucilkan jika terbuka bertentangan.
Ilmuwan sosial mencatat, hampir semua anggota kelompok sesungguhnya bisa saja tidak sependapat dengan norma mayoritas, namun bertebaran asumsi salah bahwa pendapat itu adalah pandangan bersama.
Kehidupan sosial di masyarakat juga memperlihatkan perilaku hampir-hampir munafik.
Di rumah atau kerabat, kita sering mengutuk pejabat korup dan menyerukan anti-nepotisme.
Namun, ketika ada kesempatan bagi keluarga mendapat “jabatan” atau koneksi khusus, tak jarang kita ikut memanfaatkannya.
Fenomena serupa muncul di media sosial: seseorang mungkin menyindir pesta jabatan atau pamer kekayaan pejabat, tetapi tak tahan diri untuk tidak ikut memamerkan liburan mewah atau pencapaian.
Tingkah laku ini menandakan kemunafikan sehari-hari: kritik yang “keras” terhadap orang lain, tetapi sulit menerapkan standar yang sama bagi diri sendiri.
Cermin di Budaya Indonesia
Tidak hanya soal tanggung jawab moral besar, pelanggaran kecil sehari-hari pun mencerminkan kontradiksi.
Misalnya, kita mungkin berteriak melarang tindakan semena-mena di jalan raya, tetapi di saat bersamaan sering menerobos trotoar saat terburu-buru.
Kita sejatinya mengutuk “orang lain” melanggar aturan, sementara kita sendiri juga melakukannya bila kesempatan ada.
Beberapa ahli berpandangan fenomena ini terkait dengan pengelolaan citra diri dan penyelesaian ketidaknyamanan batin.
Penelitian menyebut ada perbedaan antara tuntutan moral yang kita sampaikan dan apa yang kita lakukan sendiri [Psychology Today], [UI Psikologi].
Menurut pakar filsafat, kenyataan bahwa kita “memakai topeng” (menampilkan citra tertentu) sebenarnya bagian tak terhindarkan dari interaksi sosial.
Steven Stosny bahkan menyitir nasihat Buddha bahwa “sebagian besar penderitaan dunia datang dari harapan dunia bukanlah seperti apa adanya”.
Ia menyarankan agar kita menerima bahwa kemunafikan dan sinisme adalah bagian alamiah manusia [Psychology Today].
Kemunafikan dalam Kehidupan Sehari-hari
Praktik kemunafikan tidak selalu berwujud kasus dramatis; sering terlihat dalam kebiasaan sederhana.
Misalnya, kita menyatakan memusuhi nepotisme tapi cepat melobi jika kerabat sendiri mendapat kesempatan bekerja.
Peneliti sosial menemukan budaya permisif di masyarakat Indonesia, meski punya nilai positif solidaritas, malah turut menyuburkan praktik KKN termasuk nepotisme [Jurnas].
Hal yang sama muncul dalam penggunaan media sosial.
Banyak pengguna rajin mengunggah foto sedang melakukan kebaikan atau aktivitas religius, sementara di sisi lain mereka mungkin masih sibuk membicarakan kekurangan tetangga secara negatif.
Data majalah CEOWORLD (April 2024) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat religiositas tertinggi dunia, namun indeks persepsi korupsi tetap tinggi [Jurnas].
Seperti diungkap Prof. Media Zainul Bahri dari UIN Jakarta, nilai-nilai religius di Indonesia sering tidak sebanding dengan integritas moral yang nyata [Jurnas].
Bahkan, dalam diskusi publik 2025 disoroti bahwa agama di Indonesia lebih banyak dijadikan identitas simbolik ketimbang landasan etika [Jurnas].
Menyikapi Kenyataan
Dari sudut pandang psikologi, kemunafikan kerap muncul sebagai mekanisme pertahanan ego sekaligus hasil tekanan sosial.
Kesadaran akan kontradiksi batin dapat membuka peluang perubahan.
Alih-alih terus menyesali, ahli menyarankan menerima keadaan ini sebagai bagian sifat manusia.
Namun, pengakuan diri tidak berarti membenarkan kemunafikan.
Dengan refleksi pribadi, kita bisa lebih jujur, misalnya dengan menetapkan standar yang sama untuk diri dan orang lain [Psychology Today].
Pertanyaan yang tersisa: apakah tindakan sehari-hari kita sudah sejalan dengan nilai yang kita agungkan?
Mengurangi “topeng” dan membangun kepercayaan diri tanpa pura-pura baik bisa menjadi awal untuk hidup lebih konsisten.***
Catatan: Informasi artikel ini disusun dari sumber psikologi populer dan diskusi publik di Indonesia, seperti Psychology Today, studi Psikologi UI, Simply Psychology, dan laporan Jurnas.
Hak Cipta:
Tulisan ini belum pernah diterbitkan di platform media manapun. Spesial di TikTok, ditulis oleh Tresa Vlog, seorang praktisi Neuro Linguistik Programming.







