Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat

MATRANEWS.id Tiga Dekade Lebih, Presiden Prabowo mengabdikan diri untuk pencak silat. Sebuah pengabdian dijalani tanpa henti untuk menjaga, membina, dan membawa pencak silat ke panggung dunia.

Kini, Prabowo Subianto menutup satu bab panjang, setelah 34 tahun di pencak silat beliau menyampaikan pamit dari jabatan Ketua Umum PB IPSI.

Di panggung Musyawarah Nasional ke-16 Ikatan Pencak Silat Indonesia di Jakarta Convention Center, Sabtu, 11 April, ia tidak sekadar berpidato—ia seperti merangkum hidupnya sendiri.

Nada suaranya tenang, tapi berlapis. Ada kebanggaan, ada kelelahan yang disembunyikan, dan ada keikhlasan yang terasa dipaksakan oleh keadaan.

“Kalau dihitung hari ini,” katanya, “saya sudah mengabdi di pencak silat selama 34 tahun.” Sebuah angka yang tak hanya panjang, tapi juga sarat jejak kekuasaan dan loyalitas.

Selama itu, Prabowo bukan figur pinggiran. Ia berada di inti: empat periode sebagai Wakil Ketua Umum dan lima periode sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia.

Sebuah dominasi yang jarang terjadi dalam organisasi olahraga tradisional—dan mungkin hanya mungkin bagi mereka yang memiliki kombinasi pengaruh, jaringan, dan karisma personal.

Namun kini, panggung itu ia tinggalkan.

Keputusan untuk tidak melanjutkan jabatan sebagai Ketua Umum PB IPSI bukan semata pilihan organisasi, melainkan konsekuensi politik.

Sebagai Presiden, ia mengaku tak lagi bisa hadir sepenuhnya. “Tidak mungkin saya efektif,” ujarnya. Kalimat yang terdengar administratif, tapi sesungguhnya politis: pengakuan bahwa kekuasaan selalu menuntut prioritas.

Tiga tahun terakhir, ia mengaku sudah menjauh dari garis depan. Ia memilih peran yang lebih sunyi—mendukung dari belakang.

Dalam bahasa organisasi, itu bisa berarti transisi. Dalam bahasa kekuasaan, itu bisa berarti kontrol yang lebih halus.

Prabowo tampak sadar betul bahwa kepemimpinan di IPSI bukan miliknya seorang. Ia menyebut nama Eddy Nalapraya—pendahulunya—seolah ingin mengembalikan sejarah ke titik semula.

“Saya hanya pengganti,” katanya. Pernyataan yang sederhana, tapi menyimpan pesan: kekuasaan adalah estafet, bukan warisan pribadi.

Di balik semua itu, ada cerita yang lebih personal.

Pencak silat bagi Prabowo bukan sekadar organisasi. Ia adalah warisan keluarga. Kakeknya disebut sebagai bagian dari perguruan Setia Hati di Madiun, jauh sebelum republik berdiri.

Ayahnya pun lama terlibat dalam pembinaan IPSI. Dari sana, pencak silat menjelma bukan hanya olahraga, tapi identitas—bahkan ideologi kecil tentang kebangsaan.

“Maka bagi saya, pencak silat adalah panggilan,” ujarnya.

Kalimat itu menjelaskan banyak hal: mengapa ia bertahan puluhan tahun, mengapa ia tetap bicara dengan emosi, dan mengapa ia belum sepenuhnya bisa melepaskan.

Sebab bahkan setelah mundur, ia menolak benar-benar pergi. “Pendekar sampai napas terakhir tetap pendekar,” katanya. Sebuah metafora yang mengaburkan batas antara jabatan dan jati diri.

Namun tidak semua cerita berakhir manis.

Ia mengakui satu kegagalan yang selama ini menjadi ambisi besar: membawa pencak silat ke Olimpiade. Target yang berulang kali digaungkan, tapi belum juga tercapai. Dalam pengakuannya terselip nada penyesalan—meski dibungkus optimisme. Ia percaya generasi berikutnya akan berhasil.

Barangkali ini bagian paling jujur dari pidatonya: bahwa bahkan dalam kekuasaan panjang, ada batas yang tak bisa ditembus.

Prabowo menutup dengan satu pesan yang terasa lebih filosofis daripada organisatoris. Ia mengingatkan agar pencak silat tidak kehilangan “kemurnian”-nya.

Sebuah kata yang bisa ditafsirkan luas: tentang teknik, nilai, atau bahkan identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Di titik ini, pidato itu tidak lagi tentang IPSI, atau bahkan tentang dirinya.

Ia menjadi refleksi tentang warisan—apa yang ditinggalkan, apa yang gagal dicapai, dan apa yang masih harus dijaga.

Dan seperti banyak kisah panjang lainnya, Prabowo tidak benar-benar mengakhiri perjalanannya. Ia hanya bergeser posisi: dari pusat gelanggang ke pinggir arena, dari aktor utama menjadi penjaga bayangan.

Di sana, mungkin, seorang pendekar memang tidak pernah pensiun.