MATRANEWS.id — Kemarin saya bertemu seorang kakek.
Usianya sudah 73 tahun. Pensiunan guru. Masih sehat. Masih suka jalan pagi. Masih membaca koran cetak. Masih menyimpan buku telepon yang tebal itu.
Tapi ia mengaku mulai kesulitan berbicara dengan cucunya.
“Bukan karena saya tuli,” katanya sambil tertawa. “Bahasanya yang berubah.”
Cucunya berkata, “Opa, jangan overthinking.”
Sang opa mengangguk saja. Padahal dalam hati bertanya-tanya.
Apa lagi itu?
Dulu kami menyebutnya “terlalu banyak pikiran”.
Sekarang menjadi overthinking.
Lalu cucunya berkata lagi, “Nanti kita healing ya.”
Opa kembali mengangguk.
Padahal yang dimaksud ternyata hanya jalan-jalan ke mal sambil minum kopi. Bukan pergi ke rumah sakit.
Bahasa memang selalu berubah. Bukan hanya Indonesia. Semua bangsa mengalaminya.
Yang berubah bukan hanya kata. Cara berpikir juga ikut berubah.
Dulu orang membawa termos ke kantor. Sekarang membawa tumbler.
Dulu mengirim parsel. Sekarang mengirim hampers.
Dulu membeli barang loakan. Sekarang berburu barang preloved. Padahal barangnya sama. Namanya saja yang berganti.
Dulu orang ngamuk. Sekarang tantrum.
Dulu ingin tahu. Sekarang kepo.
Dulu galau. Sekarang overthinking.
Dulu pamer. Sekarang flexing.
Dulu ikut-ikutan. Sekarang FOMO.
Dulu menghilang diam-diam. Sekarang ghosting.
Dulu numpang tenar. Sekarang clout chasing.
Kalau tidak mengikuti perkembangan istilah itu, percakapan dengan cucu bisa terasa seperti mendengarkan bahasa asing. Padahal sama-sama bahasa Indonesia.
Yang berubah hanya bumbu-bumbunya.
Saya juga tersenyum membaca istilah lain.
Dulu piknik. Sekarang healing.
Dulu ngeluyur. Sekarang travelling.
Dulu sahabat. Sekarang bestie.
Dulu pacaran. Sekarang dating.
Dulu kenalan. Sekarang networking.
Dulu warung kopi. Sekarang cafe.
Dulu beli loakan. Sekarang thrifting.
Dulu jualan. Sekarang live shopping.
Dulu surat. Sekarang DM.
Dulu telepon rumah. Sekarang video call.
Dulu wesel. Sekarang transfer atau QRIS.
Yang paling menarik justru kalimat terakhir.
Dulu bertanya kepada “orang pintar”. Sekarang bertanya kepada AI.
Saya tersenyum lagi.
Memang benar. Banyak cucu sekarang lebih cepat membuka ChatGPT daripada membuka kamus.
Lebih percaya mesin pencari daripada tetangga. Lebih sering bertanya kepada kecerdasan buatan daripada pamannya sendiri.
Apakah itu salah?
Belum tentu. Setiap zaman memiliki medianya sendiri.
Yang penting adalah kemampuan memilih mana jawaban yang benar. Yang lebih lucu lagi soal harga.
Dulu makan sepiring Rp2.000. Sekarang Rp20.000.
Dulu tarif dasar yang kita kenal Rp3.000. Sekarang menjadi Rp18.000.
Inflasi memang tidak hanya mengubah angka. Ia juga mengubah cara kita mengenang masa lalu.
Tetapi saya kira inti persoalannya bukan pada istilah.
Yang penting bukan apakah kita mengatakan tumbler atau termos. Bukan apakah kita menyebut healing atau piknik.
Yang penting, opa dan oma tetap mau belajar.Karena cucu sebenarnya tidak pernah menuntut kakek-neneknya menjadi anak muda. Mereka hanya ingin opa dan oma mengerti dunia mereka.
Sesekali cobalah berkata kepada cucu, “Opa sekarang sudah tahu apa itu ghosting.”
Atau, “Oma juga tahu bedanya flexing dan FOMO.”
Percayalah. Mereka akan tertawa. Lalu percakapan menjadi lebih panjang. Hubungan menjadi lebih dekat.
Bahasa ternyata bukan sekadar kumpulan kata. Bahasa adalah jembatan kasih sayang.
Kalau jembatan itu tidak diperbaiki, lama-lama dua generasi akan saling melambaikan tangan dari kejauhan. Padahal mereka tinggal serumah.
Maka, untuk para oma dan opa, jangan takut belajar istilah baru. Tidak harus menghafal semuanya. Cukup tahu artinya.
Karena yang ingin kita jaga bukan bahasa. Melainkan hubungan dengan cucu. Dan itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui apakah sekarang namanya tumbler atau tetap termos.
Yang penting, air di dalamnya tetap bisa menghangatkan. Sama seperti kasih sayang opa dan oma yang, untunglah, sampai hari ini belum pernah berganti istilah.
Klik juga: https://www.hariankami.com/profile-kami/23617413494/belajar-bahasa-cucu-oleh-ss-budi-raharjo-mm








