Rilis  

Industri Film Indonesia Bahas Puncak Kesuksesan dan Strategi Perang Lawan Pembajakan

Foto bersama di sela diskusi panel bertajuk “Indonesia’s Success Stories” yang digelar di Park Hyatt Jakarta, (11/5/25) (Doc.Ist)
Foto bersama di sela diskusi panel bertajuk “Indonesia’s Success Stories” yang digelar di Park Hyatt Jakarta, (11/5/25) (Doc.Ist)

MATRANEWS.ID – Para pemimpin industri film Indonesia, perwakilan pemerintah, dan platform streaming global berkumpul di Residence 7 Park Hyatt Hotel dalam forum bertajuk “Indonesia’s Success Story” untuk membahas pencapaian bersejarah industri sekaligus menyusun strategi kolaboratif memerangi pembajakan digital.

Diskusi panel menyoroti rekor baru box office lokal, meningkatnya kolaborasi internasional, dan pembentukan aliansi lintas negara untuk menindak sindikat kejahatan siber yang merugikan.

Dalam sambutannya, perwakilan Kementerian Kebudayaan dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) mengapresiasi pertumbuhan industri yang konsisten.

Salah satu pencapaian utama yang dibahas adalah jumlah penonton bioskop pada tahun 2024 yang mencapai lebih dari 126 juta, dengan film lokal menguasai 65% pangsa pasar.

Film animasi Jumbo disebut telah menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, melampaui KKN di Desa Penari.

Angga Dwimas Sasongko, produser Jumbo, menyatakan bahwa kesuksesan ini membuktikan penonton Indonesia menginginkan sesuatu yang baru dan berkualitas tinggi.

Ia menambahkan bahwa proyek tersebut merupakan hasil kerja sama lebih dari 400 kreator di seluruh Indonesia dan telah didistribusikan ke lebih dari 30 negara.

Keberhasilan menembus pasar global juga dialami film The Shadow Strays, yang masuk dalam daftar Top 10 Netflix di 85 negara.

Menurut Ruben Hattari dari Netflix, kunci kesuksesan global adalah menciptakan konten yang otentik dan berhasil menjangkau hati penonton lokal terlebih dahulu.

Meski merayakan kesuksesan, forum tersebut juga secara khusus membahas ancaman serius dari pembajakan digital yang diperkirakan merugikan industri sebesar 29 miliar dolar AS. Gina Golda Pangaila dari Vidio mengungkapkan bahwa pembajakan di Indonesia sering kali terkait dengan kejahatan terorganisir lainnya seperti judi online.

Para panelis mengidentifikasi taktik canggih yang digunakan para pembajak, termasuk penggunaan aplikasi seperti LokLok dan situs seperti LK21 yang terus-menerus berpindah domain untuk menghindari pemblokiran.

Sebagai respons, para pemangku kepentingan telah membentuk aliansi antara sektor swasta dan publik untuk memerangi pembajakan.

Koalisi seperti Alliance for Creativity and Entertainment (ACE) dan Motion Picture Association (MPA) bekerja sama dengan aparat penegak hukum seperti Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dan Homeland Security Investigations (HSI) AS.

“DGIP sebagai institusi pemerintah tidak bisa bekerja sendirian,” ujar Sunarwaty Panggabean dari DJKI, menyoroti pentingnya kolaborasi.

Strategi yang diterapkan mencakup penegakan hukum langsung, disrupsi teknis, hingga penggunaan perangkat hukum seperti DMCA di AS untuk mengungkap identitas operator situs bajakan.

Selain strategi penegakan hukum, acara tersebut juga menyoroti pentingnya investasi pada pengembangan talenta.

Dalam segmen khusus, diperkenalkan kembali MPA APSA Academy Film Fund, sebuah dana hibah yang menyediakan 25.000 dolar AS untuk empat proyek film setiap tahunnya guna mendukung pengembangan naskah.

Produser Yulia Evina Bhara, salah satu penerima dana untuk proyeknya Watch It Burn, menyatakan bahwa dukungan semacam ini sangat membantu pada tahap awal pengembangan dan berfungsi sebagai “cap kepercayaan” yang dapat menarik investor lain.