HukumMatra LautNasional

KSAL Laksamana Ade Supandi: ”Pasukan Katak dan Denjaka, Merupakan Pasukan Khusus Yang Tugasnya Rahasia.”

Laksamana Ade Supandi
685Views

“Detasemen Jala Mangkara atau dikenal dengan nama Denjaka,” ujar Laksamana Ade Supandi, KSAL menjelaskan, ketika dikonfirmasi pasukan anti terror yang dimiliki Angkatan Laut. ”Pasukan Katak dan Denjaka, merupakan pasukan khusus yang tugasnya rahasia,” masih menurut sosok AL satu yang ramah ini, di Batujajar, Jawa Barat.

Ade Supandi menjelaskan, para pasukan elit AL itu sudah sangat terlatih. “Kami selalu melatih dan menyiapkan para pasukan elit ini untuk terus dibekali kemampuan peperangan khusus. Mereka ini prajurit pilihan dan terbaik,” tutur pria yang memiliki pengalaman penugasan yang cukup panjang, baik di bidang, operasi militer maupun bidang pembinaaan TNI AL.

“Kami terus latihan dan punya tugas khusus, seperti Intai Amphi dan Kopaskha, sehingga saat dibutuhkan sudah siap,” papar Laksamana dari Parahyangan, yang masa kecilnya dekat dengan Sungai Citarum, Jawa Barat ini.

Mengenai Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) TNI, Ade mengatakan sudah lama dibentuk, tinggal diaktifkan saja. Hanya akan turun tangan dalam menangani situasi mendesak yang tak bisa lagi ditangani oleh kepolisian. Aksi terorisme yang marak menjadi ujian bagi pertahanan dan keamanan negara.

“Di negara lain, pasukan militer juga ikut bagian dalam memerangi teroris,” ujar KSAL Laksamana Ade Supandi. TNI AL berharap ke depan terorisme dapat ditangani lebih cepat agar tidak merugikan masyarakat dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Bahwa, dalam dua dekade terakhir, persoalan radikalisme dan terorisme kian sering terjadi di wilayah Indonesia. TNI AL siap memberikan bantuan pengamanan dan penanggulangan anti teror dan radikalisme di Indonesia. Dalam tugas peperangan, pasukan khusus ini memiliki kemampuan anti teror hingga evakuasi tempur. Bahkan, latihan secara ekstrim juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pasukan, termasuk pasukan di kapal perang.

Jika tidak sedang ditugaskan dalam suatu operasi, tim ini dapat ditugaskan menjadi pengawal pribadi VIP seperti Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Selalu ready, untuk ancaman yang berupa aksi klandestin, sabotase, penyanderaan, maupun pembajakan konvensional.

Memotret Cara Kerja Denjaka

Menurut sumber lain, pasukan khusus ini sudah sering bertugas dibalik layar. Mereka bisa bekerja dalam senyap, menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai dan operasi pendaratan kekuatan amfibi. Kemampuan satu prajurit Kopaska yakni setara kemampuan 24 tentara.

Tugas utama dari pasukan ini adalah peledakan/demolisi bawah air termasuk sabotase/penyerangan rahasia kekapal lawan dan sabotase pangkalan musuh, torpedo berjiwa (kamikaze), penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar serta antiteror di laut/maritime counter terorism .

Jika tidak sedang ditugaskan dalam suatu operasi, tim ini dapat ditugaskan menjadi pengawal pribadi VIP seperti Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Selalu ready, untuk ancaman yang berupa aksi klandestin, sabotase, penyanderaan, maupun pembajakan konvensional.

Satuan elit yang punya semboyan Satya Wira Dharma, kabarnya operasi ini lebih banyak berkutat di laut. Maka, selain metode pencapaian sasaran lewat teknik lintas udara juga dikenal penerapan metode lintas bawah air (selam komando) dan lintas permukaan air secara senyap.

Khusus bagi metode yang disebut belakangan dapat dilakukan baik dengan cara renang tempur (combat swimming) atau menaiki perahu karet bermotor. Pada prakteknya, pasukan ini memang selalu menggabungkan ketiga macam teknik perlintasan secara senyap tersebut guna mencapai sasaran yang ada di tengah laut menjelang tengah malam atau bahkan saat dini hari.

Entah itu berupa kapal laut pengangkut penumpang yang tengah berlayar (ataupun lego jangkar), anjungan pengeboran minyak (rig), kapal tanker berukuran raksasa (super tanker), bahkan kepulauan terpencil yang dijadikan instalasi vital atau pun tempat rekreasi di tengah laut.

Pasukan elit TNI AL inilah yang menguasai bermacam taktik dan teknik merebut sekaligus menguasai bermacam kapal dan instalasi vital di tengah laut. Tak peduli apakah berpenumpang/berpenghuni atau pun tidak.

Selanjutnya mereka juga dilatih menjinakkan berbagai jenis rangkaian peledak, bertahan hidup di alam yang keras dengan bekal peralatan minim, dan tahan disiksa jika tertangkap musuh. Namun bila memang tertangkap, dia tentu harus berupaya kabur tanpa ketahuan.

Personel Pasukan khusus ini dapat mencapai Standar Kualifikasi Personel (SKP) sebagai anggota pasukan khusus penanggulangan teror aspek laut yang dalam tempo 1 X 24 jam dapat dikerahkan ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Guna menghadapi dua kasus yang berbeda di tempat yang berlainan dalam waktu yang bersamaan.

Beragam ilmu jurit, para anggotanya juga dibekali dasar pengetahuan psikologi dan bermacam teknik analisa khusus yang adakalanya bahkan sama sekali tak ada kaitannya dengan urusan militer. Penguasaan ilmu non tempur ini diperlukan manakala tim pendahulu, harus bernegosiasi dengan para teroris.

Selain jadi tahu apa yang dituntut para teroris, upaya negosiasi juga berguna untuk mengulur waktu selama mungkin. Dengan begitu unit serbu dapat bersiap diri sebaik mungkin. Hingga kelak pada saat yang dianggap tepat mereka baru bergerak.

Tak hanya itu. Para negosiator juga bertugas membaca kemampuan, kekuatan, tipu muslihat, sekaligus kelemahan para teroris. Bila upaya negosiasi berujung pada kebuntuan dan para teroris tetap keras kepala, barulah unit serbu dikerahkan dengan didampingi sang negosiator. Prajurit pilihan memiliki berbagai macam keahlian sesuai kebutuhan di lapangan.

Pasukan khusus rahasia ini, mampu dari penjinakan bahan peledak (explosive disposal), medis tempur (combat medic), komunikasi elektronik, hingga teknologi informasi. Selain senjata, tim serbu ini juga mengandalkan seabiek peralatan pendukung.

Dari perahu karet konvensional yang dipasangi motor tempel (jenis Silinger), kapal berbahan serat kaca berkecepatan tinggi dan daya tampungnya lebih banyak (jenis Sea Rider), peralatan selam lengkap (berikut alat bantu nafas jenis sirkuit tertutup), peralatan para lengkap, alat komunikasi nir kabel dari jenis yang kebal jamming, senter kedap air, hingga alat bantu navigasi Global Positioning System (GPS), dan teropong lihat malam Night Vision Google (NVG).

Tak hanya operasi teror dan sabotase, satuan ini kerap pula dilibatkan dalam operasi rahasia jenis lain berdasarkan perintah langsung Panglima TNI.

Hingga kini, keberadaan satuan ini terbilang dirahasiakan. Untuk persenjataan sebut saja sebagai contoh pistol P226 (buatan Sig Sauer, Swiss-Jerman), senapan serbu HK416 dan SiG516. Juga terdapat senapan serbu buatan Heckler & Koch G36C dan G36V.

Pimpinan TNI AL sudah membentuk satuan elit yang sanggup berurusan dengan para pelaku tindak kriminal (khususnya terorisme) di samudera. Namun syaratnya, satuan ini harus dapat selalu beraksi secara terselubung dan minim publikasi.

Mereka dituntut memiliki kesiapan operasional, mobilitas, kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi. Medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Mereka dikenal sangat tangguh di medan operasi sebagaimana para “saudara” lainnya, pasukan khusus di matra darat dan udara. Kemampuan Denjaka tak hanya dapat bertempur, tapi juga berperan sebagai satuan intelijen tempur yang handal.

Tim ini kerap operasi klandestein membuat musuh kewalahan, mampu bertempur di darat, laut, udara dan bawah permukaaan air. Mereka juga memiliki skill yang dimiliki pasukan Kopaska dan Linud (setingkat Parako) untuk menjalankan misinya di TNI. Denjaka juga biasa di libatkan untuk pengamanan Presiden (Paspampres).

Di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan, hanya sedikit yang diterima. Mereka dilatih keras di kawah candradimuka di Situbondo. Tahun-tahun sebelumnya, sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula. Setelah masuk tahap seleksi ke II, Tidak semua yang mengikuti pendidikan tersebut lolos. beberapa di antara mereka dimungkinkan akan dikembalikan ke kesatuannya karena tidak mampu mengikuti pendidikan.

Selain fisik prima, calon pasukan khusus TNI AL ini juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok.

Satuan ini harus dapat selalu beraksi secara terselubung dan minim publikasi.

Selama menjalani pendidikan. Teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna. Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.

Mereka ditempah di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri.“Latihan mereka cukup berat. Kaki dan tangan diikat pun bisa hidup.

Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri. Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun.

Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan per orangan.

Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang, juga lebih.

Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.

Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Denjaka dilatih terjun bebas. Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Denjaka juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.

Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Denjaka harus bisa muncul di titik yang tepat. Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala.

Denjaka juga mengawal orang-orang VIP, termasuk keluarga KSAL
Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »