Selasa, September 17, 2019
Hotline Kerjasama-Iklan 0816-1945288 eksekutifmatra@gmail.com
Hukum

Off The Record, Anang Iskandar

Bersama CEO majalah Eksekutif (S.S Budi Rahardjo) dan Asri Hadi (pemred Indonews)
1.66KViews

Bersama CEO Majalah Eksekutif (S.S Budi Rahardjo) & Pemred Indonews (Asri Hadi)

MATRANEWS.id — Jenderal Anang Iskandar berkisah hal-hal yang menarik, cerita mengenai sisi lain dari pekerjaannya sebagai aparat hukum.

Pria kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958 itu,  berniat blak-blakan dan banyak menulis, “catatan pinggir” untuk menyingkap apa yang terjadi republik ini.

Sering menjadi pembicara, dalam hal literasi bahaya narkoba, polisi sederhana ini tinggal di kawasan Cikunir, Bekasi, Jawa Barat, menyebut Indonesia memang benar-benar “darurat narkoba”.

Buktinya, sebagai contoh. “Ketika saya ketahui,  Kala itu, Denny Indrayana, Wakil Menteri Hukum dan Ham, terus membenahi sistem pengawasan di penjara.”

Masih menurut cerita Anang. Ada periode, pembenahan sistem pengawasan salah satunya adalah dengan memperketat izin keluar penjara hingga merotasi petugas, dalam periode tertentu .

“Eh, malah terjadi sakau massal di penjara, “demikian mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini bersaksi.

Rupanya, para tahanan yang terbiasa memakai narkoba, tiba-tiba distop tak bisa memasukan dan mendapat narkoba, jadi mereka “sakit”, bisa ngamuk-ngamuk.

Kondisi penyalahgunaan, yang tak mendapat pengobatan di penjara, kondisi fisiknya kasihan. Tidak tertangani dengan baik.

Melontarkan kenyataan itu, Anang berharap semua pihak mengerti apa yang terjadi dibalik penjara, bukan saja para bandar narkoba yang terus menjalankan praktiknya.

Akan tetapi, pria yang mewakafkan dirinya untuk mengedukasi masyarakat soal pentingnya para pengguna rehabilitasi ini, menggambarkan, bahwa penjara itu tak baik untuk membuat jera para pengguna narkoba.

“Karena sebenarnya, para penyalahguna itu sedang sakit. Orang sakit, ya harus disembuhkan dulu, sehingga malah tak membuat orang lain sakit, atau menulari yang sakit,” demikian Anang berkisah.

Banyak cerita off the record, yang menurut Anang ia akan buka, karena sekalian mengedukasi masyarakat.

Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri itu bahkan, siap membuat rangkaian acara off air, dalam konteks ini.  Aktif  sebagai  dosen di almamaternya dan mengajar di Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Anang geram dengan bandar narkoba.

“Hanya saja, saya prihatin jika para penyalahguna bukannya di rehabilitasi tapi oleh penyidik diberi pasal-pasal sebagai pengedar. Atau malah hakim memutuskan, yang bersangkutan bukan diobati, disembuhkan malah dicemplungkan ke penjara. Ini bahaya,” Anang mengingatkan.

Sibuk menjadi guru dan mengajar di Kampus, Anang menjelaskan bahwa penyalahguna itu dalam hukum narkotika dijamin rehabilitasi. Sedangkan, pengedar diberantas dan dihukum berat.

Pria yang jago melukis dan mahir mencukur rambut ini  terus memberi edukasi ke masyarakat, bahwa Negara berkewajiban mencegah. “Juga merehabilitasi penyalahguna dan memberantas pengedarnya dengan hukuman setimpal,” ujarnya.

Sudah menjadi komitmen dari AKABRI Kepolisian pada tahun 1982 ini, yang mendapat penghargaan Bintang Emas dari majalah MATRA di tahun 2014, ia akan mengisi hari-harinya dengan pelbagai  kegiatan sosial yang bermanfaat untuk sesama.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini

Saat Anang Menerima Matra Award, diserahkan oleh Pemred Majalah Matra, beberapa waktu lalu.

 

 

 

 

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »