Ekonomi

Presiden Jokowi Kembali Jenguk Habibie di RSPAD Senin Ini

432Views

MATRANEWS.id — Presiden ketiga RI, BJ Habibie terpaksa dilarikan ke rumah sakit RSPAD Gatot Subroto pada Jumat (24/8/2018) lalu untuk menjalani perawatan. Setelah kondisi kesehatannya menurun akibat kelelahan.

Diketahui, pada Maret 2018 lalu, kondisi kesehatan Habibie juga sempat menurun dan dirawat pada salah satu rumah sakit di Munchen, Jerman. Habibie pernah dirawat karena ada kebocoran pada klep jantung. Namun Habibie berangsur membaik. Bahkan pada Kamis (23/8/2018), menghadiri perayaan ulang tahunnya ke-82.

Senin (27/8/2018) pagi, secara khusus Presiden Joko Widodo menjenguk Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

Jokowi tiba di RSPAD sekitar pukul 08.50 WIB. Mengenakan batik lengan panjang, Jokowi langsung masuk ke Paviliun Kartika tempat Habibie dirawat inap.

Aktivitas Habibie memang padat, yang menyebabkan kelelahan. Dimana Habibie bercerita setelah ke Pekanbaru lalu menuju Padang, dari Padang ke Serpong. Bahkan itu tidak ada istirahat.

Pria yang pada usia 62 tahun menjadi presiden senang diajak ngobrol dan berbincang hangat dengan Pemred Majalah MATRA saat perayaan 17 Agustus 2019 di istana negara.

BJ Habibie sehat, berbincang hangat dengan CEO Eksekutif & Pemred Majalah MATRA, saat perayaan 17 Agustus 2019 di istana negara.

Profesor Dr B.J Habibie. Ia adalah salah satu tokoh panutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang di Indonesia. Selain dikenal sebagai orang paling cerdas dan ahli pesawat terbang, ia juga dikenal sebagai Mantan presiden ketiga Republik Indonesia.

Pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu sempat sakit. Tapi, pada peringatan ulang tahun RI ke 73 tahun, Habibie hadir walau usia sudah terbilang senja. Bersahabat untuk diminta foto bersama dan mau berkisah tentang gagasan. Masih tetap menggebu-gebu dalam menyampaikan nasihat-nasihatnya.

“Kalau ditanya Habibie umur berapa? Saya jawab 90-10, namun jiwanya saya tetap 17 tahun, karena hidup ini hanya 24 jam sehari maka kita perlu melakukan hal yang bermanfaat,” ujar bapak Teknologi Indonesia ini, masih dengan semangat.

Anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo ini, menyebut gagasan untuk membangun “eksekutif klub” sebagai aset bangsa. “Orang baik dan hebat, memang harus bersatu,” ujarnya kepada S.S Budi Rahardjo alias Jojo.

Sementara itu pesannya kepada pemimpin kita. “Pemimpin itu, harus mengutamakan hubungan relasi penuh kasih sayang dan penuh penghargaan. Bukan untuk penghargaan tapi untuk melayani sesama manusia. Jangan karena status kekuasaan semata,” ujar Habibie.

“Pemimpin sejati itu adalah senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek,” ujar Habibie tak ingin menyebut pilih Jokowi-Maruf atau Prabowo Sandi. Tapi pilihlah, “Pemimpin yang bisa menerima kritik, rendah hati, memahami orang lain dan paling penting adalah mengenali dirinya sendiri.”

Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi selama 2 dekade mulai dari 1978 hingga 1998 di era Presiden Soeharto. Lalu, 14 Maret 1998 Habibie terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan VII.

Ia juga menduduki posisi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) saat masih menjadi menteri. Habibie sudah menunjukkan kecerdasannya sejak dini.

Tragedi Mei 1998, awal muncul Era Reformasi membawa perubahan posisi Habibie.

Kerusuhan Mei 1998 yang melanda beberapa kota di Indonesia dan berpusat di Jakarta telah menggulingkan Presiden Soeharto yang sudah menjabat selama 32 tahun. Hal itu menyebabkan Habibie naik ke kursi Presiden terhitung sejak 21 Mei 1998.

Habibie harus mengawal Era Reformasi dengan menghadapi ketidakstabilan dan disintegrasi pasca kerusuhan Mei 1998.

Meski singkat menjadi presiden, tapi Habibie berhasil membuat trobosan untuk Indonesia di antaranya yaitu Undang-Undang Anti Monopoli atau Undang-Undang Persaingan Sehat, Undang-Undang Partai Politik, dan Undang-Undang Otonomi Daerah.

Selain itu juga, Habibie menciptakan beberapa perubahan seperti membebaskan masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya sehingga banyak lahir partai-partai baru. Ia juga menghapus larangan berdirinya serikat buruh independen dan membuat 12 Ketetapan MPR.

Dari sektor ekonomi, Habibie sukses menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang awalnya berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 dan di akhir pemerintahannya nilai rupiah meroket hingga 6.500 yang belum terulang lagi hingga tahun 2016.

Saat ia menjadi presiden, ada satu hal yang sangat krusial soal otonomi Provinsi Timor-Timur. Atas usul PBB, Presiden Habibie mengadakan jejak pendapat yang diselenggarakan 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan UNAMET (United Nations Mission for East Timor) dan diikuti oleh penduduk Timor Timur.

Menurut Hasil yang diumumkan di New York dan Dili pada tanggal 4 September 1999 yang diikuti oleh 451.792 penduduk Timor-Timur. Sebesar 78.5% penduduk Timor Timur menyatakan menolak otonomi khusus yang ditawarkan Indonesia.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka MPR RI dalam Sidang Umum MPR pada 1999 mencabut TAP MPR No. VI/1978 dan mengembalikan Timor Timur seperti pada 1975.Dalam bahasa lain, Provinsi Timor-Timur lepas dari Indonesia dan menjadi Negara Timor Leste.

Hal inilah yang memicu pihak oposisi Habibie berusaha keras menjatuhkannya. Hingga akhirnya Habibie resmi selesai sebagai Presiden RI yang Ke-3 pada tanggal 20 Oktober 1999. ia memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR.

Setelah tidak menjabat sebagai presiden lagi, Habibie memilih tinggal di Jerman. Namun, pada era kepresidenan SBY, Habibie kembali aktif sebagai penasehat presiden dalam rangka mengawali proses demokrasi di Indonesia melalui organisasi yang didirikannya (Habibie Center). Ia juga aktif kembali di Partai Golkar sebagai Ketua Dewan Penasehat.

Pada tanggal 22 Mei 2010, Habibie harus kehilangan sang istri akibat kanker ovarium yang dideritanya. Sebagai bentuk kecintaan Habibie kepada mendiang istrinya, Ia menulis sebuah buku bertajuk “Habibie & Ainun” setebal 323 halaman yang kemudian diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama.

Sang ayah merupakan seorang ahli pertanian dari Gorontalo dan memiliki keturunan Bugis. Sedangkan sang ibu asal Jawa dan merupakan anak dari dokter spesialis mata di Yogyakarta.

baca juga: Lirikan dan Puisi Habibie

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »