EkonomiGaya HidupNasional

Rhenald Kasali: “Saatnya Pakai Bahasa Terang.”

Ihwal Divestasi Saham PT Freeport.

Rhenald Kasali: "Saatnya Pakai Bahasa Terang."
1.5KViews

Rhenald Kasali: "Saatnya Pakai Bahasa Terang."

MATRANEWS.id — Tulisan Rhenald Kasali viral, berjudul : “Selalu Ada Yang Tak Happy”.

Ini soal keberhasilan Indonesia menguasai 51,2% saham PT Freeport Indonesia (PT FPI).

Mengapa? Tulisan Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FEB Universitas Indonesia disebut, bukan karakter tulisan Rhenald Kasali.

Ternyata, setelah dikonfirmasi. Tulisan itu memang tulisan asli, menjelaskan ihwal divestasi saham PT Freeport.

Jawabnya singkat: “Ya, saatnya pakai bahasa terang.”

Rhenald Kasali: "Saatnya Pakai Bahasa Terang."

Ini dia tulisannya:

1. Freeport itu PT. Sedangkan alam itu tanah, emas dll.
Tanahnya tetap dikuasai NKRI, dan dari dulu Indonesia dapat uang konsesi, pajak dll. Itu adalah hak atas tanah yang dikuasai asing. Yang di dalamnya ada emas, perak dan tembaganya.

2. Hanya saja memang, dulu pejabat-pejabar kita senang terima bagian besar buat dirinya sendiri atau kelompoknya, sehingga dikasih kecil buat negaranya mereka, oke saja.

Jokowi sebaliknya. Dia rela compang-camping dihina para mafioso yang berada dibalik kuasa itu. Dia bereskan dengan tenang. Akibatnya, Jakarta selalu digoyang. Amerika marah besar, bahkan sempat kirim pasukan yang merapat di Australia.

Namanya juga negara adikuasa. Pakai Psy War adalah hal biasa dalam mengawal kepentingannya. Belum lagi penembakan-penembakan di Papua, begitu negosiasi mencapai kesepakatan.

Mafioso biayai preman-preman jalanan dan oknum aparat serta oknum-oknum politisi untuk memutarbalikkan cerita yang sebenarnya.

Alhamdulilah, Tuhan mencintai Indonesia. Semua rintangan Alhamdulilah kita bisa atasi.

Berita Menarik :  Pengusaha Tomy Winata Tak Netral?

3. Yang namanya PT, ada aset, hak konsesi, ada modal, saham-saham, direksi, expertise, brand, technology, market channel dan lain-lan.

Ada harta-harta kelihatan dan ada intangibles-nya. PT ini bukan milik kita. Itu dibawa asing ke tanah Indonesia dan kalau mereka diusir, pasti aset-asetnya itu diangkut semua keluar dan kita pasti tak bisa olah emas itu dengan cara-cara konvensional.

4. Yang kita beli dan ambil alih itu, sahamnya. Sehingga, kita bisa menjadi penegang saham mayoritas supaya bisa dapat bagian lebih besar dan bisa pegang kendali, dari pengolahan dan teknologi yang kita enggak kuasai.

Kita bisa belajar alih teknologi dan skill.

5. Mengapa kita harus jual Global Bond untuk biayai pengambilalihan saham PT FPI?

Karena kita enggka mau cadangan dollar kita tergerus lagi. Nilai rupiah bisa tertekan lagi kalau diambil dari lokal. Sebab PT FPI maunya dibayar pajai dolar, bukan rupiah. Jadi kita harus cerdik sedikit. Tinggal bagaimana hitung-hitungannya. Itu harus berhitung

7. Yang kita perlukan surat hutang yang tenornya panjang, bahkan ada yang 30 tahun.

Supaya apa? Supaya hasil Freeport bisa segera dinikmati bangsa ini.

Kalau dihitung, kita baca laporan keuangannya, maka tampak EBITDAnya PT FPI setahun sekitar USD 4 Billions. Net Profitnya, jika sekitar USD 2 Billions. Kalau jangka pendek, jelas memberatkan.

Berita Menarik :  Sosialisasi Peraturan Pendanaan Pilkada 2020 Ke-238 Pemda Menjadi Konsen Kemendagri

8. Krn kini, kita berhasil memiliki sahamnya sebesar 51,2%, jika dalam setahun Indonesia bisa menikmati USD 1Billion lebih. Itu duit gede boz!

9. Jadi, kalau kita mau, hanya dalam empat tahun Global Bond itu beres dan setelah itu kita dapat duit gede seterusnya selama 50 tahun. Sebab, jumlah surat hutang itu, ya hanya sekitar USD 4 Billions sebagai kompensasi yang kita bayar ke PT FPI.

Aneh, kalau kehebatan ini disalah-salahkan.

10. Maka, hanya orang-orang bodoh saja yang menyalah2kan bangsa Indonesia. Dan orang seperti itu, akan selalu ada di negeri ini. Mereka senang memakai kacamata buram, dan selalu hanya mencari kesalahan. Sebab sebagian orang menikmati rezekinya dengan cara demikian.

Ada profesi bayaran untuk menciptakan ketidakstabilan atau ketidak percayaan. Ada juga yang menderita luka batin, kecewa, tak mendapat bagian, tidak dilayani atau pernah diberhentikan. Begitulah kehidupan demokrasi.

Begitulah pula orang mencari makan, mencari kehormatan, mendapatkan kompensasi mental atas kekecewaaannya atau membangun jati dirinya.

Sementara, Dunia justru sedang memuji betapa lihai dan pandainya pemimpin Indonesia.

11. Orang yang susah melihat bangsa ini senang sebagian mungkin, memang mewarisi darah penghianat yang kalau ditelusuri ada DNA yang begitulah

Yang membuat VOC bisa menjajah kita berabad-abad.

So, faktanya kini kita bisa menutup akhir tahun dengan banyak senyum.

Berita Menarik :  Emansipasi Perempuan dan Kejahatan

Saat kita bisa berlibur menikmati ribuan kilometer jalan-jalan baru baik antar kota maupun antar desa. Saat warga desa menyewakan homestay nya melalui platform airbnb dll. Saat kita merayakan banyak keberhasilan….

Salam akhir tahun…kita rayakan dengan senyum. Ayo ajak kaum nyinyir liburan sekalian cuci DNA….Cheers

baca juga: Majalah MATRA edisi cetak terbaru — klik ini

Rhenald Kasali: "Saatnya Pakai Bahasa Terang."

Konvergensi Majalah MATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »