Kolom  

Seksualitas bukanlah tugas sepihak. Perempuan pun berhak memulai, tanpa rasa malu, tanpa takut dihakimi

Tips Menangkap Kode Perempuan

MATRANEWS.ID – Seorang istri muda bertanya lirih di ruang konsultasi: “Boleh nggak sih, kalau aku yang mulai duluan?” Bukan soal pekerjaan rumah tangga atau pengambilan keputusan keluarga.

Tapi soal seks—dan bagaimana dia, sebagai perempuan, ingin menjadi pihak yang pertama menyuarakan hasrat.

Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa beban panjang.

Budaya diam, rasa malu, stigma religius, hingga norma patriarki telah lama membuat perempuan merasa tak pantas bicara soal keintiman.

Apalagi memulai. Terutama di ruang-ruang privat rumah tangga, tempat seharusnya dua manusia saling memahami, bukan saling menahan diri.

Gengsi, Sunyi, dan Tradisi yang Tak Bertanya

Dalam banyak rumah tangga Indonesia, relasi seksual tak pernah benar-benar dibicarakan.

Ia berjalan atas dasar “harus”, bukan “ingin”. Si perempuan ditanamkan untuk menunggu, si laki-laki dituntut untuk memulai.

Sebuah pola diam-diam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Akar masalahnya bukan hanya soal seks itu sendiri, tapi bagaimana komunikasi dibentuk—atau justru tidak dibentuk—di antara pasangan.

Perempuan yang mengungkapkan hasrat sering kali merasa bersalah.

Takut dianggap agresif. Takut dicap tidak tahu malu. Takut suaminya tersinggung, merasa “dilangkahi”.

“Gengsi ini memelihara jarak emosional,” ujar psikiater dan konselor keluarga, dr. Rizka Hadiyanti.

Padahal, seksualitas bukan sesuatu yang sakral dalam arti harus dibungkam. Itu bagian dari ekspresi cinta.”

Seksualitas Adalah Kebutuhan Emosional, Bukan Sekadar Fisik

Hubungan intim semestinya menjadi ruang pertemuan dua jiwa. Tempat keinginan disampaikan dan kenyamanan dinegosiasikan.

Saat perempuan bilang “aku pengen duluan”, itu bukan sinyal pemberontakan. Tapi justru kepercayaan.

Keinginan untuk terhubung, secara emosional dan fisik, tanpa harus merasa kecil.

Sayangnya, literasi soal ini masih minim. Masih banyak pasangan muda yang lebih dulu menikah ketimbang belajar bicara soal tubuh, batas, dan rasa nyaman.

Survei Komnas Perempuan tahun 2023 menyebut, 71% perempuan menikah mengaku tidak pernah diajak berdiskusi soal kebutuhan seksual secara terbuka oleh pasangannya.

Ironisnya, di tengah keterbukaan digital, komunikasi di kamar tidur masih banyak yang terjebak dalam budaya serba tahu-tapi-tak-mau-bicara.Dari TikTok hingga Konseling, Tanda Perubahan Mulai Nampak

Beberapa konten di media sosial kini mulai menggoyang dinding sunyi itu. Salah satunya adalah video viral di TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSkjmtR1C, yang menampilkan sketsa ringan soal istri yang menginisiasi momen intim.

@dianikirana “Kadang pengen, tapi gengsi ngomong. Istri: ‘Boleh nggak sih aku pengen duluan?’ Masyarakat: 😱 Padahal… ya normal-normal aja lho! Yuk, obrolin hal begini tanpa jaim! 😅👇” Tag pasanganmu atau temen yang butuh denger ini! di kolom komentar 😆👇 Simak penjelasan lengkapnya di video ya~ #HubunganSehat #NgomonginSexYuk #IstriJugaBoleh #RelationshipGoals #PasanganCerdas #NikahSantuy #TikTokEdukasi #LucuTapiReal #ObrolanDewasa #GakTabuLagi ♬ Mau Tak Mau – Remix Dance Porto – Tsaqib

Reaksi publik pun beragam—dari gelak tawa, empati, hingga kritik keras.

Tapi satu hal pasti: percakapan sudah mulai terjadi. Dan itu pertanda baik. Karena perubahan, betapapun lambatnya, selalu dimulai dari keberanian membicarakan hal yang selama ini dianggap tabu.

Konselor pernikahan, Putri Anjani, mencatat peningkatan sesi konsultasi terkait komunikasi seksual.

“Dulu pertanyaannya seputar konflik ekonomi. Sekarang, banyak pasangan yang ingin belajar saling mendengar—termasuk dalam urusan intim,” ujarnya.

Pendidikan Seksualitas Adalah Pendidikan Relasi

Saat kita bicara seks, sesungguhnya kita sedang bicara tentang kualitas hubungan.

Tentang kesalingan, saling percaya, saling nyaman, dan saling tahu batas. Pendidikan seksualitas bukan soal teknik, tapi soal etika dan empati.

Dan ini bukan cuma penting untuk remaja, tapi juga untuk pasangan yang sudah menikah.

Membekali pasangan dengan pemahaman bahwa perempuan punya hak penuh atas tubuh dan keinginannya bukanlah ancaman.

Justru itu bekal membangun relasi yang sehat. Sebab relasi yang baik bukan hanya yang sabar menahan, tapi juga yang berani bicara dan mendengar.

Merayakan Kejujuran, Menghapus Rasa Malu

Di tengah arus informasi yang kian terbuka, saatnya kita menata ulang cara pandang terhadap seksualitas—terutama di dalam pernikahan.

Bukan sebagai wilayah tabu, apalagi milik satu pihak, melainkan sebagai bagian dari percakapan cinta yang dewasa.

Jadi ketika istri berkata “aku pengen duluan”, itu bukan isyarat kurang ajar, tapi bentuk kejujuran yang patut dirayakan.

Karena dalam relasi yang sehat, inisiatif adalah tanda saling percaya, bukan pelanggaran.

Dan tak ada yang lebih seksi dari pasangan yang saling memahami, tanpa gengsi.