BudayaNasionalTokoh

Catatan Pinggir, Untuk Ketua Ikatan Suami Takut Istri (Periode 2019-2024)

Oleh: S.S Budi Rahardjo (Pengamat Sosial)

375Views

MATRANEWS.id — Ada cerita. Suatu kali, teman saya ditertawakan oleh banyak pria, ketika pamit di suatu undangan, gara-gara supir yang mau antar istri sudah dinanti oleh istri di rumah.

Ya, semua tertawa terbahak-bahak, dengan alasan pria yang pamit itu. Tapi, begitulah keadaannya.

Entah bercandaan atau apalah namanya, ini sekedar “catatan pinggir” saja. Tak ada kaitannya dengan alat angkut Ojek atau Grab.

Bahwa ada, klub atau kelompok, atau yang disebut ikatan suami takut istri. Seru juga nih sepertinya, apalagi jika ada kampanye literasi dan sosialisasinya, pasti banyak yang tertarik.

Kembali ke soal cerita teman saya tadi. Bila memperhatikan foto-foto di media sosial Facebook teman saya itu, banyak sekali “beliau” — sebut saja begitu — ia selfie dan berpose dengan perempuan cantik-cantik, dengan pelbagai profesi.

Pria itu ganteng. Pernah suatu kali, ia bercanda. Dirinya bukan anggota suami takut istri, tapi gerak-geriknya “dipantau kumendan” dalam bermedia sosial.

Maksudnya, “Iya. Saya jangan terlalu bebas ber-foto dengan yang perempuan cantik-cantik, apalagi jika perempuan yang sama, keseringan.”

Bukannya apa-apa, dalam joke-nya suatu kali. “Sebagai seorang suami, saya berani mengakui, bahwa saya adalah pencinta istri – kadang termasuk istri orang lain. Ho-ho-ho…”

Para pria nih, jika bercanda suka nyeletuk: “Saya ijin komandan dulu di rumah.”

Apa artinya? Kalimat ini, yang sering kali muncul dalam percakapan para pria, memberi kesan suami takut istri. Aslinya, para pria itu sangat sayang sama sang istri, dan sama sekali tak mau mencari masalah dengan istrinya.

Pria malas adu pendapat di rumah. Kaum pria, bukanlah sosok yang pandai beragumen seperti wanita.
Jokes kaum pria begitu. Lepas, entah masuk kehidupan nyata atau maya. Yang pasti, membicarakan suami dan istri, tulisan ini sekedar catatan inpirasi, tak perlu ditanggapi serius juga.

Negeri ini, agaknya termasuk negeri yang banyak memperhatikan istri – dibandingkan memperhatikan anak-anak, misalnya. Atau juga dibandingkan untuk suami. Dalam masyarakat Jawa, idiom yang digunakan untuk menyebut istri begitu banyak.

Sebutan hormat untuk istri raja adalah prameswari.

Untuk rakyat kebanyakan cukup disebut garwa. Konon, dari kata sigaraning nyawa, belahan jiwa – walau tak jelas nyawa suami dibelah-belah jadi berapa.

Karena ada istilah garwa ampeyan, (istri yang tidak dinikah secara resmi), ada juga garwa ampil (seakan perempuan bisa dipinjam diampil), garwa paminggir (posisinya di pinggir, just for fun, untuk klangenan).

Sebutan yang diberikan itu, saya kutip dari budayawan yang suka menulis kolom juga. Ada kanca wingking, teman yang ditempatkan di belakang, di dapur. Atau ibune bocah-bocah, ibu dari anak-anak.

Banyak mitos-mitos yang kukuh, mengakar. Dengan berbagai pembenaran dongeng “gadis yang disayembarakan”, “gadis tertidur dan baru bisa bangun setelah dicium sang pangeran”.

Atau di balik ucapan sakral terkenal “di belakang pria sukses, ada seorang perempuan” – yang benar justru karena perempuan selalu diposisikan di belakang.

Sekarang sudah zaman internet, zaman media massa, zaman periklanan yang sepenuh-penuhnya memberi peluang yang sama tanpa beban tradisi atau hierarki.

Zaman di mana ada kesadaran, di mana tak mungkin ada sebutan suami, kalau tak ada istri.

Anda termasuk yang mana? Misscall diam-diam ya, jangan sampai ketahuan “kumendan” di rumah. Lanjutkan, saya hanya mencatat!

baca juga: majalah MATRA cetak (print) terbaru — klik ini —

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas