Ekonomi

Warung Nasi Uduk di Gang Sempit Ini, Beromzet 45 Juta

157Views
Konvergensi Majalah MATRA

MATRANEWS.id – Tangan Iin Parlina tampak cekatan melayani pesanan pembeli nasi uduknya. Para pembeli yang berjubel sejak pukul 06.00 dilayaninya satu per satu. Sementara, Hamid Fery, suaminya, sibuk menggoreng tempe dan bakwan di bagian belakang warung.

Begitu gorengan yang masih panas dituang di nampan berukuran besar, langsung diserbu tangan-tangan para pembeli. Hanya dalam hitungan menit, tempe goreng, bakwan dan ubi goreng berukuran setelapak tangan orang dewasa langsung habis.

Pemandangan semacam ini terjadi setiap pagi di warung sederhana milik suami istri ini. Bahkan, menurut Iin, kadang pembeli sudah menunggu di bale-bale bambu depan warungnya, sebelum warung dibuka.

Warungnya hanya berukuran 3×4 meter persegi. Kondisinya pun kurang layak disebut warung. Bangunan fisiknya hanya memanfaatkan kayu-kayu bekas dan berdinding anyaman bambu yang sudah sangat usang. Tampak lobang menganga di beberapa sisi dindingnya.

Warung ini hanya menjual nasi uduk dan beberapa gorengan sebagai pelengkap. Tapi siapa sangka warung nasi uduk yang sangat sederhana ini bermozet antara Rp 40 juta hingga Rp 45 juta per bulan.

“Kalau lagi ramai, bisa lebih sih, alhamdulillah” tutur Iin Parlina sang pemilik warung kepada MatraNews.

Bukan omzet yang kecil untuk ukuran warung seperti ini. Padahal, lokasinya boleh dibilang agak tersembunyi. Berada di pinggiran gang sempit menuju kantor Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Hanya para pelanggan saja yang tahu warung nasi uduk perempuan yang bisa dipanggil Bu Iin ini.

Perempuan kelahiran Serang, Banten, 44 tahun silam ini menuturkan, hampir tiap pagi warungnya ramai pembeli. Bahkan. Kadang para pembeli rela antri demi mendapatkan nasi uduknya. Apalagi saat hari libur, Sabtu dan Minggu.

Perempuan ini hanya buka warung tak lebih dari empat jam. Jam 10.00 biasanya warung sudah tutup. “Tapi, kadang juga nggak habis sampai jam 10. Kalau sisa masih banyak, saya sedekahkan semua ke tetangga,” ungkap perempuan bertubuh tambun ini.

Tak ada promosi apapun yang ia lakukan. “Kebanyakan pembeli tahu warung saya, dari orang-orang yang sudah beli di sini,” ujarnya. Dari mulut ke mulut, begitu Iin menyebutnya.

Lantas, apa rahasia laris warung nasi uduk Iin parlina? Rasa memang tak bisa bohong. Supardi, salah seorang pelanggan nasi uduk Iin bilang,”Nasi uduk Bu Iin paling enak di Pengasinan. Gorengannya juga murah, segede gini cuma Rp1000,” katanya sambil menunjukkan satu tempe goreng yang masih hangat.

Usaha yang ditekuni Iin Parlina dan suaminya tergolong usaha mikro, namun omzetnya tergolong besar. Kesuksesan usaha suami istri ini bukan tiba-tiba mereka raih. Sebelumnya pasangan suami istri mengalami kepahitan hidup.

“Dulu, suami saya kan jadi cady golf di (Lapangan Golf) Pangkalan Jati, Pondok Labu. Gajinya cuma Rp 50 rbu per minggu. Mana cukup buat makan sama biaya sekolah anak,” ujar Iin.

Iin yang pintar masak, akhirnya coba-coba jual nasi uduk sekadarnya, dijual di depan rumahnya. Ternyata para tetangga suka dengan masakannya. Suami istri ini akhirnya bertekad cari tambahan modal untuk menambah jumlah  dagangannya.

Dengan memanfaatkan lahan kosong milik orang lain, Iin dan suami membuka warung di gang sempit tak jauh dari kantor Kelurahan Pengasinan. Warungnya mereka bangun dengan kayu dan anyaman bambu bekas.

“Yang penting bisa buat jualan,” ujar Hamid.

Kini suami istri ini telah menikmati hasil jerih payahnya. Keempat anaknya sekolah, tanpa ada kesulitan biaya. “Sebentar lagi anak saya yang pertama mau kuliah,” tutur Iin menutup obrolan dengan MatraNews. (A. Kholis)

www.majalahmatra.com

Abdul Kholis
the authorAbdul Kholis

Tinggalkan Balasan

Translate »