Tokoh

Tjahjo Kumolo Dinilai Cakap Memimpin Kemendagri.

Mendagri bersama S.S Budi Rahardjo (pemred MATRA/CEO Eksekutif) serta Asrihadi (Pemred Indonews).
1.32KViews

MATRANEWS.id — Menteri yang berhasil menghantar pesta demokrasi, pilpres, pileg hingga pilgub.

Dari sekian nama yang masuk dalam jajaran kabinet versi Jokowi-Maruf. ternyata nama yang satu ini masih “nyantol” untuk mengawal kerja Jokowi-Maruf.

Pria ini memang sosok humanis. Walau telah menjadi menteri tak ada yang berubah dalam perilaku pria kelahiran Solo 1 Desember 1957 ini. Menteri Dalam Negeri yang selalu bersahabat.

Putra dari Bambang Soebandono (alm 1986) seorang veteran Pejuang Kemerdekaan TNI dengan pangkat terakhir Letnan Satu. Sedangkan ibunya adalah almarhum Toeti merupakan figur yang mengajari Tjahjo Kumolo demikian rendah hati.

Mantan anggota Dewan Perwilan Rakyat (DPR). Tjahjo Kumolo sudah 30 tahun menjadi orang bebas. “Menjadi anggota Dewan sejak sejak 1987,” ujarnya.

Terbiasa bebas diskusi kapan saja, kongkow, serta bergaul dengan semua kalangan. Ia benar-benar tak mau ribet dengan aturan protokoler, termasuk ketika bersenda-gurau dengan keluarga dan sahabat.

Jadi, “Saya tidak ingin pakai voorijder, pengawalan juga tidak. Kecuali ada acara penting yang waktunya mepet dan harus cepat,” sambungnya.

Pak Menteri, eh Mas Tjahjo ini mengaku, senang menjadi orang bebas dan tidak ingin mendapat pengawalan yang membuat dirinya terkungkung tak bisa berbuat-apa.

Wong Solo ini paling suka blusukan, sebelum istilah blusukan itu terkenal seperti sekarang, karena Presiden Jokowi.

Sop kambing, adalah salah satu menu yang disukai. Padahal menurut pengakuannya, ia kerap terserang penyakit asam urat. Tentu bagi penderita asam urat, makanan yang terbuat atau ada bahan daging kambingnya harus dihindari.Tapi, ya namanya sudah jatuh cinta.

Ternyata tak hanya sop kambing yang jadi menu favorit Menteri Tjahjo dalam memanjakan selera lidahnya. Ada menu lain yang tak bisa ditolaknya kala lapar memanggil. Menu itu lagi-lagi berbahan daging kambing yaitu nasi kebuli.

“Hidup itu indah, bila kita dapat melihat itu sendiri dari memadukan langkah awal, perasaan, kata hati, pikiran dan keyakinan. Kita melangkah untuk keindahan ke depan,” ujar Tjahjo yang disebut-sebut kerap membuat puisi.

Selain menorehkan puisi-puisi indah, pria kelahiran Surakarta ini ternyata mampu memainkan sejumlah alat musik. Itu ia lakoni sejak masih muda.

Hanya saja diakui, kini mulai berkurang karena mengingat kesibukan yang begitu luarbiasa.”Ya sesekali masih mencoba memetik gitar untuk menghibur diri,” ujarnya.

“Jangan lelah berdoa, jangan larut dalam duka. Usap jiwa, bersimpuh di depanNya. Hanya Dia pemilik sukma. Langkah pertama menentukan langkah selanjutnya, ikatkan langkahmu dengan pikir, hati dan perasaan,” papar Tjahjo.

“Kita ngobrol di rumah saja,” ujarnya kepada S.S Budi Rahardjo dan Asri Hadi dengan ramah.

Lambang moncong Putih menjadi simbol pagar huniannya yang asri, seluas 600 meter persegi itu. Kediamannya tak begitu luas, di kawasan Duren Tiga Jakarta Selatan.

Yang menarik, beberapa foto Megawati Soekarnoputri mewarnai ruang keluarga ini. Selain lukisan foto Megawati yang memakai baju tentara, terdapat foto lukisan Taufiq Kiemas sedang memeluk Mega.Lukisan Megawati-Taufiq Kiemas yang sangat besar terpajang di salah satu sudut ruangan.

Dekat ruangan keluarga, terdapat kolam renang.

Seperangkat wayang kulit tua serta sekitar 40 replika pesawat yang pernah dinaikinya tertata apik. Selain binatang yang telah diawetkan dengan air keras, tergeletak berbagai patung dan lukisan yang menjadi aksesoris ruang tamu.

Terdapat pula studio musik yang dilengkapi seperangkat alat musik modern. Di lantai atas, tersedia ruangan fitnes tempat Tjahjo berolahraga malam hari.Ada musala keluarga berdinding gambar Ka’bah besar.

Ada ruangan seluas 20 meter persegi yang berpenyejuk udara itulah, dia bisa tidak keluar dari ruangan. Penggemar fotografi yang suka bercerutu ria, bisa berlama-lama berkomunikasi dengan koleksi kerisnya.

Dia mengamati, batuan, melihat cincin koleksinya, memandang lukisan, sambil mengamati keris. Ia membersihkan keris, memandang dan mengagumi artistik, ulir serta lup karya empu tantular jaman dulu. “Dan, kadang berdialog,” katanya pelan.

Walau tidak pernah menganggap keris sebagai benda keramat dan mengkultuskan sebagai benda, pria beragama Islam ini percaya bahwa keris bernuansa “gaib”.

Ia punya komunitas dan guru spiritual.Memiliki lebih dari 15 keris peninggalan kerajaan Mataram, juga 47 peninggalan Majapahit dan dua peninggalan Kerajaan Demak.

“Sebagai orang yang beriman dan orang Jawa, saya percaya bahwa benda alam dan keris punya nilai seni dan historis juga mempunyai makna batin,” ujar Tjahjo.

Ragam keris peninggalan dari orang tua dan pemberian teman menyatu, dianggap bukan hanya barang yang secara batin mantap dan “berisi”.

Ia mengaku, suka berburu keris di sejumlah tempat. Ada juga saat-saat malam tertentu, misalnya malam satu Suro ia mengalungi kerisnya dengan kembang. “Untuk menjaga agar keris kelihatan indah,” ujarnya.

Meluangkan waktu untuk membersihkannya, bukan untuk klenik atau diberikan sesajen. “Karena ada juga keris yang bukan milik saya, tapi seseorang menitipkannya kepada saya, karena dianggap cocok,” kata Tjahjo Kumolo.

Pria yang memiliki seperangkat gamelan, melengkapi wayang kulit berusaha memahami keris dan wayang kulit.”Kita bicara ini, lebih asyik ya,” ujarnya panjang lebar.Ia sangat bersahabat.

Semasa kuliah, Tjahjo telah aktif dalam semua kegiatan berorganisasi.Di KNPI dan kemudian berkecimpung dalanm kancah politik nasional.

Mantan Ketua KNPI di tahun 1990-1993 ini sudah menjadi wakil rakyat pada usia 24 tahun. Alumni Golkar ini berada di Senayan enam periode sejak jaman Orde Baru.Lulusan Lemhanas ini loncat ke kandang PDI Perjuangan karena nge-fans terhadap pemikiran mantan Presiden Soekarno.

Dari Direktur Litbang DPP PDIP periode 1999-2002, Tjahjo kemudian diminta Megawati memperkuat kepengurusannya dengan menjadi Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu sesuada kongres II PDIP pada 2005. Pada pemilu 2014 PDIP bangkit menjadi juara.

Selain itu PDIP sukses mengantarkan kadernya, yakni Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden pada Pilpres 2014.

Keberhasilan Jokowi menjadi presiden ketujuh Republik Indonesia selain pengaruh besar Megawati juga peranan Tjahjo Kumolo. Tjahjo yang menjadi Sekjen PDIP periode 2010-2015 dipercaya menjadi Ketua Tim Sukses Jokowi-Jusuf Kalla.

Lewat kerja keras Tjahjo menggerakan berbagai elemen masyarakat. Hingga kemudian mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa.

Tanggal 20 Oktober 2014 Jokowi dan Jusuf Kalla dilantik menjadi presiden di Gedung DPR/MPR. Seminggu kemudian Jokowi melantik Kabinet Kerja, Senin 27 Oktober 2014. Salah seorang menteri yang dilantik adalah Tjahjo Kumolo yang dipercaya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Bagaimana, kansnya menjadi menteri kembali?

***

baca juga: majalah Matra edisi cetak — klik ini

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »