Anang Iskandar Mencintai Tanah, Menanam Masa Depan

MATRANEWS.id– Mereka bukan petani dalam pengertian profesi. Mereka adalah insan-insan yang jatuh cinta kepada bumi, lalu memutuskan untuk merawatnya.

Tanpa gaji tetap, tanpa tunjangan dari negara, dan tanpa sorotan media, mereka memanggil dirinya dengan sebutan sederhana namun penuh makna: hobi tani.

Bagi mereka, mencangkul bukan beban, melainkan hiburan. Menanam bukan sekadar kerja fisik, tetapi meditasi jiwa.

Di sela kehidupan modern yang serba sibuk dan digital, tangan mereka tetap menyentuh tanah.

Sosok ini sadar, aktivitas seperti ini tak akan jadi headline di media. Tak ada viral, tak ada trending. Tapi mereka tetap melakukannya, karena mencintai tanah adalah caranya berdoa dalam diam.

Anang punya kegiatan lain. Yakni, bertani. ”Saya juga menjadi petani di desa,” ungkap mantan Kabareskrim tersebut.

Cinta itu pula yang melekat pada sosok Komjen Pol (Purn) Dr. Anang Iskandar.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu, setelah melepas seragam dinasnya, tidak memilih pensiun dalam keheningan ruang baca semata—meski ia juga aktif menulis kolom dan buku yang menggugah kesadaran. Bahwa pecandu narkoba harus disembuhkan di rehabilitasi, bukan di penjara.

Kali ini, cerita Anang Iskandar tentang yang lain: yakni berkebun. Di Sumedang, Jawa Barat, ia mengurus kebun durian, pisang, dan alpukat. Di rumahnya juga ia berkebun beberapa sayuran, cabai, jeruk purut, buah naga hingga singkong. Ia juga beternak ikan dan hewan ternak lainnya.

“Yah bukan untuk dijual, tapi buat dimakan sendiri sama keluarga,” ujarnya.

Bukan sebagai pemilik pasif yang menunggu hasil, melainkan sebagai sahabat tanah yang mencangkul sendiri, memeriksa batang-batang pohon, berbincang dengan para pekerja kebun, dan menikmati langit dari sudut pandang paling jujur: dari bawah pohon.

“Kalau habis berkebun, rasanya tenang,” ujar Anang yang juga suka melukis, teater, atau bernyanyi. Menurut dia, kebanyakan hobinya didasari atas dasar seni. Termasuk memasak, berkebun, menulis, dan melukis. “Itu semua seni. Banyak keindahan ketika dilakukan,” ujarnya.

Barangkali pria kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958 itu tahu, apa yang ia tanam bukan sekadar buah.

Anang sedang menanam keyakinan: bahwa negeri ini bisa swasembada pangan, asal lebih banyak orang bersedia mengotori tangan dengan tanah. Tanpa seremoni, tanpa slogan, hanya tindakan nyata dari hari ke hari.

Di tempat lain, jurnalis bernama SS Budi Raharjo, Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia, menanam dengan cara berbeda.

Jojo tak punya lahan luas, tetapi ia punya niat. Di pekarangan rumahnya, tumbuh ubi, pohon kelor, pisang dan sayuran sehat lainnya. Panen itu tak dijual, hanya dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada tetangga.

Budi tak sedang membuat gerakan besar dengan baliho atau iklan. Tapi justru dari hal kecil inilah sesuatu yang besar bisa tumbuh.

Seperti benih yang tersembunyi di tanah, tapi perlahan membelah bumi dan menjulang ke langit.

Jojo dan Anang bukan petani karena keterpaksaan. Mereka adalah generasi baru pecinta tanah—yang bertani bukan karena tak punya pilihan, tapi karena justru mereka memilihnya. Mereka tahu, jadi petani bukan soal profesi, tapi posisi hati.

Bayangkan bila ada seribu orang seperti mereka di setiap kota. Orang-orang yang menanam tak hanya untuk panen, tapi untuk menjaga harapan.

Maka Indonesia tak perlu lagi mengandalkan impor beras, jagung, atau kedelai. Tanah yang subur tak akan dibiarkan tidur. Pekarangan rumah tak akan lagi hanya jadi parkiran motor, tapi taman pangan keluarga.

Dan mungkin, dalam cinta kepada tanah, tersimpan bentuk nasionalisme yang paling jernih. Nasionalisme yang tak perlu teriak, tak butuh panggung, cukup disampaikan lewat tetes keringat dan pucuk hijau yang tumbuh di ladang.

Lalu, bagaimana denganmu? Sudahkah kau menyentuh tanah hari ini?

Karena bisa jadi, satu genggam tanah yang kau rawat adalah satu lembar masa depan yang sedang kau tulis untuk negeri ini.